Monday, June 28, 2010

Beginilah Nasib Uang Itu Sekarang Bagian2

- Untukku? Sungguhan bicaramu? Dari mana? – tanyaku bersahutan demi mendengar ucapan adikku itu.
- “Riang Ria” Jakarta?- desakku menebak sebelum adikku memberi keterangan dari mingguan mana uang itu kuterima. Tiga mingguan yang sudah kuketahui yang pernah memuat karanganku. Tapi hingga sekarang belum satupun yang memberikan ha-ernya.
- Bukan!
Mingguan Permata Surabaya,- sahutnya. Lalu blanko poswesel yang dipegangnya diberikan kepadaku. Aku terima kemudian aku abca isi beritanya : ha-er bagian bulan September tujuh dua, bunyinya. Oh tahulah aku sekarang kalau uang itu adalah kiriman dari mingguan Permata yang akhir2 ini paling kerap aku kirimi naskah2. Blangko poswesel lalu aku timang2 dan aku bolak-balik seperti ingin meyakinkan kalau wesel itu memang benar2 untukku. Setelah cukup memandangi secarik blangko itu, teman2kupun satu persatu lalu ikut melihat dan memeganginya.
- Ayo traktir nanti malam! salah seorang berseru.
- Atau sekarang saja kita berbuka. Tidak apa2 bukan? Sekali2. Apalagi udara panasnya bukan kepalang begini.
- Dasar kamu Jib. Ndak ah! Benar nanti malam saja. Komentar yang didekatnya.
- Ya ya, aku pesan es dawetnya.
- Cemuwe Pak Sabar cuma lima belas rupiah semangkok. Dua mangkok sajalah saya.
- Saya yang dekat2an saja maulah. Warungnya Mbah Ngiso!
Bermacam2 keinginan mereka minta untuk ditraktir. Sedang aku sendiri menjadi kebingungan mau diapakan uang yang seribu rupiah ini. Memang tidak banyak jumlahnya. Tapi bagi setiap orang yang menerima uang dari hasil memeras keringatnya sendiri –betapun itu kecilnya – siapa yang tidak akan bergembira? Apalagi saya yang sudah lama berharap2 akan menerima kebagian rejeki itu. Sampai2 malahan kebingungan. Harus bagaimanakah uang itu dipergunakan.
Siang yang terik di bulan puasa yang suci itu, aku sambil menggonceng adikku segera menaiki sepeda menuju kantor pos. Jarak yang mesti ditempuh cukup jauhnya, namun kegembiraan yang baru saja kuperoleh siang ini – dan bagaimanapun panasnya matahari menyengat rambut kepala- agaknya tealh sanggup untuk mengatasinya.
Uang selembar ribuan aku terima. Ucapan terima kasih lalu aku berikan pada penjaga loket itu dan dijawabnya denagn anggukan dan senyuman. Tidak terlihat memang kalau ada uang sebanyak itu di sakuku. Apalagi seorang yang seperti saya. Siapa akan mengira? Seorang yang dikategorikan belum punya pekerjaan, paling2 tongpes. Dan jika seandainya ada di saku uang, orang akan mengatakan bahwa itu aksi2an belaka. Tapi tidak bagi saya. Selembar uang ribuan itu tidak sama nilainya dengan sejumlah itu bagi seorang pedagang atau pegawai negeri. Lebih dari pada itu semua.
- Belikanlah saja sepotong kain untuk bahan celana. Bukankah sebentar lagi kau akan kerja? kata ibuku sesampainya di rumah.
- Ah tidak bu. Celana bisa beli nanti2. Aku mau beli buku dulu. Tidak lupa majalah2. Dan ya..., yang penting lagi aku mau traktir teman2ku.
- Kau memang aneh- selanya kemudian.
- Mereka semua sudah mengerti. Malah sudah buat resolusi, di warungnya Mas Mat saja enaknya.
- Biarlah bu- kataku selanjutnya.
- Solidaritas!
Ayahku lalu menyarankan agar dibelikan sepatu. Kakakku bahkan mengatakan mau dipinjamnya saja uang kiriman itu. Semuanya ini bisa terjadi, mungkin melihat diri saya yang menjadi kebingungan sehabis mendaoatkan uang itu yang sebelumnya memang tidak terduga.
Malamnya setelah sholat teraweh bubaran, teman2 yang sebaya denganku sudah mengerubung menuntut janjinya. Darusan yang seharusnya dilakukan agak lama malam itu, anehnya malah lebih diperpendek lagi jangka waktunya. Ada enam orang yang turut bersamaku malam itu menuju ke sebuah warung di pokok alun2 yang seperti biasa pula2 teman2 sering nongkrong.
- Mas Mat kemana? Gulanya mbakyu-
- Minumnya es saja. Kemarau2 begini.- sambung yang seorang lagi.
Dan setelah perut terisi semua masih ada pula yang mengambil kacang klici, roti dan masakan2 kecil lainnya, diborong dibawanya pulang.
- Harus kita manfaatkan kesempatan ini! katanya.
Wah wah wah keluhku dalam hati, tapi tidak bisa mengatasi keinginan teman2 ini. Malam itu jadinya uangku kebobolan tidak kurang dari enam ratus rupiah. Sisanya? Masih akan kupergunakan buat beli buku.
Akhirnya uang yang cuma tinggal empat ratus rupiah tidak ada itu saya urungkan pula buat beli buku yang bahkan merupakan rencana pertama. Persetan! Akan kutraktrkan saja lagi besok buat teman2 lain!
M. Har Harijadi Ngawi 72