Dataran Tinggi Dieng yang berada pada 4 kabupaten yaitu Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Kendal dan Kabupaten Batang, merupakan daerah dengan banyak gunung antara lain Gunung Prahu, Gunung Pakuwaja, dan Gunung Sikunir. Gunung Prahu sendiri berada di perbatasan Kabupaten Wonosobo dengan Kabupaten Kendal dengan ketinggian 2565 mdpl.
Waktu itu kami menuju tempat yang disebut dengan Puncak Seribu Bukit atau juga sering disebut dengan Bukit Teletubbies. Disebut begitu karena pada puncaknya akan tampak gunung-gunung kecil seperti di film Teletubbies. Jalan menuju kesana cukup mudah, apalagi bagi pemula seperti kami, hanya saja kami perlu banyak waktu berhenti untuk istirahat dan memberi kesempatan paru-paru untuk mengisi oksigen.
Awalnya kami melewati hamparan ladang masyarakat yang mayoritas ditanami kentang. Selain kentang ada kol, carica (semacam pepaya mini), wortel, cabe Dieng (mirip paprika mini), daun bawang, terong Belanda, dan lain-lain. Menurut cerita masyarakat, bibit carica yang ditanam di dataran rendah akan tumbuh menjadi pepaya biasa, sebaliknya bibit pepaya jika ditanam di Dieng akan tumbuh menjadi carica. Terus naik sampai perbatasan tanah masyarakat dan tanah negara yang ditandai dengan tanaman bambu. Sampai di sini membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Kami membuka bekal dan beristirahat sambil berfoto.
Selanjutnya perjalanan dilanjutkan, kali ini semakin menanjak dan berat. Ketika sampai di atas tampak Telaga Warna di kejauhan, cantik! Kemudian kami juga berhenti di hamparan bunga untuk berfoto. Nama bunga itu adalah bunga lonte sore, but don’t judge the flower by it’s name ya, bunganya benar-benar cantik kok! Namun sayangnya perjalanan kami tidak bisa dilanjutkan menuju puncak karena kabut mulai menghadang yang merupakan pertanda hujan akan turun. Akhirnya dengan berat hati kami beranjak turun gunung.
Waktu itu kami menuju tempat yang disebut dengan Puncak Seribu Bukit atau juga sering disebut dengan Bukit Teletubbies. Disebut begitu karena pada puncaknya akan tampak gunung-gunung kecil seperti di film Teletubbies. Jalan menuju kesana cukup mudah, apalagi bagi pemula seperti kami, hanya saja kami perlu banyak waktu berhenti untuk istirahat dan memberi kesempatan paru-paru untuk mengisi oksigen.
Awalnya kami melewati hamparan ladang masyarakat yang mayoritas ditanami kentang. Selain kentang ada kol, carica (semacam pepaya mini), wortel, cabe Dieng (mirip paprika mini), daun bawang, terong Belanda, dan lain-lain. Menurut cerita masyarakat, bibit carica yang ditanam di dataran rendah akan tumbuh menjadi pepaya biasa, sebaliknya bibit pepaya jika ditanam di Dieng akan tumbuh menjadi carica. Terus naik sampai perbatasan tanah masyarakat dan tanah negara yang ditandai dengan tanaman bambu. Sampai di sini membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Kami membuka bekal dan beristirahat sambil berfoto.
Selanjutnya perjalanan dilanjutkan, kali ini semakin menanjak dan berat. Ketika sampai di atas tampak Telaga Warna di kejauhan, cantik! Kemudian kami juga berhenti di hamparan bunga untuk berfoto. Nama bunga itu adalah bunga lonte sore, but don’t judge the flower by it’s name ya, bunganya benar-benar cantik kok! Namun sayangnya perjalanan kami tidak bisa dilanjutkan menuju puncak karena kabut mulai menghadang yang merupakan pertanda hujan akan turun. Akhirnya dengan berat hati kami beranjak turun gunung.