Sunday, June 6, 2010

Pelatihan Pembuatan Silase di Desa Patakbanteng, Kejajar, Wonosobo

Pembangunan peternakan di Desa Patakbanteng saat ini masih didominasi oleh usaha peternakan rakyat yang pemeliharaannya masih bersifat tradisional, skala usaha ternak kecil, dan hanya sebagai usaha sampingan.




Di samping itu juga kepemilikan modal usaha ternak terbatas, akses pasar terbatas, kurangnya recording/pencatatan status ternak, dan tingkat penguasaan teknologi masih rendah. Meskipun telah terbentuk kelompok ternak namun perkembangannya lambat dan cenderung statis. Hal ini ditandai dengan kurangnya perkembangan jumlah ternak serta kurangnya perkembangan pengetahuan manajemen dan kesehatan ternak.

Dicacah dulu...

Peternakan di Desa Patakbanteng didominasi oleh peternakan domba, yaitu domba jenis Texxel, domba jenis ini dapat menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan Desa Patakbanteng yang dingin. Domba dipelihara oleh peternak di kandang masing-masing atau bersifat individual. Jenis kandang bervariasi, ada yang sudah berbentuk panggung namun tidak sedikit yang masih di bawah tanpa panggung. Kandang masih sederhana hanya dilengkapi tempat pakan tanpa tempat minum, ventilasi kurang baik sehingga cahaya matahari tidak bisa masuk dan kondisi lembab, tidak terdapat tempat exercise/berjemur ternak, di luar kandang hanya terdapat tempat penumpukan kotoran dan tempat pengumpulan pakan yang tidak terpisah sempurna. Kandang-kandang individu tersebut terletak sangat dekat dengan pemukiman, hal ini menyebabkan lingkungan rumah kurang sehat, cenderung lembab, dan ada cemaran bau. Pemeliharan di kandang individu juga menyebabkan kurangnya komunikasi dan motivasi antar peternak, pengumpulan kotoran lebih sulit, proses penerapan inovasi baru sulit, dan juga menjadikan salah satu kendala bagi pemerintah terutama Dinas Peternakan dalam proses pembinaan maupun bimbingan penyuluhan, sehingga usaha peternakan sulit berkembang.

Setelah dicampur dengan bahan tambahan lainnya..


Nutrisi domba hanya dicukupi dari hijauan tanpa tambahan konsentrat ataupun air minum. Hal ini dikarenakan jumlah hijauan yang melimpah, sehingga peternak menganggap nutrisi domba sudah tercukupi hanya dengan hijauan. Pemeliharaan hanya dari makanan, jarang dilakukan potong kuku maupun potong rambut secara berkala. Peternak juga belum memiliki keterampilan potong kuku dan potong rambut, biasanya jika akan memotong rambut harus memanggil penjual jasa dari Batur, Banjarnegara, sehingga terjadi ketergantungan dan belum bisa mandiri. Padahal domba yang dipelihara adalah domba dengan rambut yang lebat, sehingga potong rambut termasuk dalam aspek pemeliharaan yang penting. Kesehatan sangat terbatas, belum pernah dilakukan pengobatan cacing secara rutin, pemberian vitamin secara rutin, dan jika ada ternak yang sakit sulit menghubungi tenaga kesehatan karena yang terdekat hanya ada di Batur, Banjarnegara. Peternak juga belum memiliki pengetahuan tentang pengobatan alami yang dapat digunakan sebagai pertolongan pertama jika terdapat ternak yang sakit.

Rame banget.. Kayak mau hajatan..
  Peternak masih sangat awam terhadap pengetahuan peternakan antara lain tentang teknologi peternakan yaitu peternak belum mengetahui teknik pengawetan hijauan serta pemanfaatan limbah peternakan. Peternak juga kurang pengetahuan tentang reproduksi ternak dan kurang perhatian terhadap status reproduksi ternak sehingga produksi kurang optimal. Peternak juga kurang memiliki pasar atau target penjualan, karena ternak hanya sebagai tabungan atau cadangan, ternak akan terus dipelihara dan hanya akan dijual jika peternak membutuhkan uang.

Ditaruh tong, ditutup rapat..

Tujuan program ini untuk menambah pengetahuan peternak dalam hal pengawetan pakan yang selanjutnya dapat bermanfaat dalam pengembangan peternakan sebagai alternatif usaha selain bertani kentang.
Program ini diawali dengan sosialisasi pada 18 November 2009, sedangkan pelaksanaannya dilakukan pada 25 November 2009, melibatkan peternak dalam pengadaan bahan yaitu daun jagung. Peternak cukup antusias dan tertarik dalam pembuatan silase ini. Selanjutnya silase yang telah selesai dibuat diujicobakan pada domba milik peternak.

Penampakan kandang dan ternak

Faktor penghambat dari program ini adalah para peternak cukup sulit meluangkan waktu untuk memperoleh pelatihan karena kesibukan keseharian mereka yang rata-rata bekerja di ladang, namun pada dasarnya mereka cukup bersemangat untuk mendapatkan informasi baru guna menunjang perkembangan ternak mereka. Dan juga terdapat faktor penghambat lain yaitu sukar didapatkannya bahan baku pengolahan pakan ternak di Desa Patakbanteng.