Tujuan pemeriksaan hewan kurban adalah untuk mencegah kemungkinan terjadinya penularan penyakit dari hewan ke manusia. Proses ini juga bermanfaat untuk menjamin tersedianya daging dan produk ikutannya dengan mutu yang baik dan sehat.
Sesuai dengan pembagian wilayah kerja, kami mendapatkan wilayah Desa Gadingan Kelurahan Wates Kecamatan Wates.
Sesuai dengan pembagian wilayah kerja, kami mendapatkan wilayah Desa Gadingan Kelurahan Wates Kecamatan Wates.
Berdasarkan keterangan warga sekitar, di Desa Gadingan terdapat 4 tempat penyembelihan yaitu RT 40-42, SMK Muhammadiyah I Wates, Masjid Syafi’iyah, dan RT 39. Saat sampai di desa tersebut ada dua tempat penyembelihan yaitu di RT 40-42 dan RT 39, yang sudah melaksanakan penyembelihan sehingga pemeriksaan ante mortem tidak dapat dilakukan. Sedangkan di tempat penyembelihan lain dapat dilakukan pemeriksaan ante mortem walaupun kurang menyeluruh dikarenakan keterbatasan waktu.
Hasil dari pemeriksaan ante mortem adalah keadaan umum tidak kurus, tidak cacat ataupun pincang, jenis kelamin jantan, umur memenuhi syarat, dapat berdiri dengan baik, tidak dilakukan pengukuran suhu tubuh namun keadaan umum mata, mulut, hidung, kelenjar limfe dan daerah anus adalah baik. Jumlah hewan yang disembelih adalah 3 ekor sapi dan 12 ekor kambing. Sapi berasal dari Tawangsari dan Sentolo. Sedangkan kambing berasal dari Gunung Kidul dan Wates. Pemeriksaan ante mortem tidak dapat dilaksanakan dengan menyeluruh dikarenakan hewan kurban diantar tepat sebelum hewan akan disembelih sehingga waktu untuk melakukan pemeriksaan ante mortem sangat terbatas. Serta tempat penyembelihan yang tidak berada pada satu tempat sehingga kami diharuskan berpindah-pindah untuk mengawasi di semua tempat.
Persiapan proses penyembelihan sudah cukup baik ditandai dengan kelengkapan peralatan seperti balok/batang pisang untuk alas memotong hewan kurban, lubang tempat penampungan darah yang cukup dalam, tenda terpal untuk melindungi dari panas, ember maupun gerobak untuk menampung jeroan, terpal untuk alas daging dan jeroan, serta tali untuk keperluan penggantungan dan pengulitan.
Proses penyembelihan juga berlangsung dengan baik. Pada sapi diawali dengan proses perebahan sapi dengan metode Barley. Tali dililitkan dari depan bahu kemudian disilangkan ke tubuh lalu diarahkan di antara kaki belakang dan dilakukan pada kedua sisi bahu. Setelah tali terlilit dengan baik, tarik dari arah depan dan belakang sampai sapi terjatuh dan siap untuk dipotong. Maksud dari pemotongan adalah membunuh hewan secepat-cepatnya dengan mengeluarkan darah sebanyak-banyaknya. Seperti diketahui, darah adalah medium yang ideal untuk pertumbuhan bakteri yang menyebabkan dekomposisi. Hewan potong yang darahnya keluar sedikit, dagingnya menjadi busuk dengan cepat.
Hasil dari pemeriksaan post mortem yaitu karkas dan organ dalam baik sapi maupun kambing hampir semua dalam keadaan baik dan layak dikonsumsi. Pada kepala dan lidah tidak menunjukkan keabnormalan, seperti luka pada lidah maupun kebengkakan limfo glandula. Paru-paru setelah diraba dan dipotong normal, tidak terdapat benjolan, darah dalam bronkus, maupun perubahan warna. Jantung tampak mengkilat berwarna merah tua dan setelah dibelah pada klep–klep dan pericardium tidak terdapat cysticercus. Hati berwarna merah tua, konsistensi kenyal dengan tepi tajam. Limpa berwarna keabu-abuan, konsistensi agak keras, tepinya tajam, tidak terdapat kebengkakan. Pada usus tidak terdapat perdarahan dan tidak terdapat manifestasi cacing.
Namun pada satu tempat penyembelihan ditemukan hepar yang terinfestasi oleh cacing Fasciola atau menderita fascioliasis, yaitu di SMK Muhammadiyah I Wates. Pada hepar ditemukan cacing Fasciola namun tidak ditemukan perubahan warna maupun konsistensi hepar yang signifikan, misalnya warna tidak berubah menjadi lebih kuning, atau pada permukaan hepar tidak terlihat bagian putih yang mengeras bila diraba. Sehingga hepar tidak diafkir terlalu banyak.
Hasil dari pemeriksaan ante mortem adalah keadaan umum tidak kurus, tidak cacat ataupun pincang, jenis kelamin jantan, umur memenuhi syarat, dapat berdiri dengan baik, tidak dilakukan pengukuran suhu tubuh namun keadaan umum mata, mulut, hidung, kelenjar limfe dan daerah anus adalah baik. Jumlah hewan yang disembelih adalah 3 ekor sapi dan 12 ekor kambing. Sapi berasal dari Tawangsari dan Sentolo. Sedangkan kambing berasal dari Gunung Kidul dan Wates. Pemeriksaan ante mortem tidak dapat dilaksanakan dengan menyeluruh dikarenakan hewan kurban diantar tepat sebelum hewan akan disembelih sehingga waktu untuk melakukan pemeriksaan ante mortem sangat terbatas. Serta tempat penyembelihan yang tidak berada pada satu tempat sehingga kami diharuskan berpindah-pindah untuk mengawasi di semua tempat.
Persiapan proses penyembelihan sudah cukup baik ditandai dengan kelengkapan peralatan seperti balok/batang pisang untuk alas memotong hewan kurban, lubang tempat penampungan darah yang cukup dalam, tenda terpal untuk melindungi dari panas, ember maupun gerobak untuk menampung jeroan, terpal untuk alas daging dan jeroan, serta tali untuk keperluan penggantungan dan pengulitan.
Proses penyembelihan juga berlangsung dengan baik. Pada sapi diawali dengan proses perebahan sapi dengan metode Barley. Tali dililitkan dari depan bahu kemudian disilangkan ke tubuh lalu diarahkan di antara kaki belakang dan dilakukan pada kedua sisi bahu. Setelah tali terlilit dengan baik, tarik dari arah depan dan belakang sampai sapi terjatuh dan siap untuk dipotong. Maksud dari pemotongan adalah membunuh hewan secepat-cepatnya dengan mengeluarkan darah sebanyak-banyaknya. Seperti diketahui, darah adalah medium yang ideal untuk pertumbuhan bakteri yang menyebabkan dekomposisi. Hewan potong yang darahnya keluar sedikit, dagingnya menjadi busuk dengan cepat.
Hasil dari pemeriksaan post mortem yaitu karkas dan organ dalam baik sapi maupun kambing hampir semua dalam keadaan baik dan layak dikonsumsi. Pada kepala dan lidah tidak menunjukkan keabnormalan, seperti luka pada lidah maupun kebengkakan limfo glandula. Paru-paru setelah diraba dan dipotong normal, tidak terdapat benjolan, darah dalam bronkus, maupun perubahan warna. Jantung tampak mengkilat berwarna merah tua dan setelah dibelah pada klep–klep dan pericardium tidak terdapat cysticercus. Hati berwarna merah tua, konsistensi kenyal dengan tepi tajam. Limpa berwarna keabu-abuan, konsistensi agak keras, tepinya tajam, tidak terdapat kebengkakan. Pada usus tidak terdapat perdarahan dan tidak terdapat manifestasi cacing.
Namun pada satu tempat penyembelihan ditemukan hepar yang terinfestasi oleh cacing Fasciola atau menderita fascioliasis, yaitu di SMK Muhammadiyah I Wates. Pada hepar ditemukan cacing Fasciola namun tidak ditemukan perubahan warna maupun konsistensi hepar yang signifikan, misalnya warna tidak berubah menjadi lebih kuning, atau pada permukaan hepar tidak terlihat bagian putih yang mengeras bila diraba. Sehingga hepar tidak diafkir terlalu banyak.