Thursday, June 17, 2010

Bacaan Belakang

Sepagi itu Jajak telah berkutat di ruang tanu sebelah pojok. Kawasan itu memang tempatnya buku-buku, majalah, tabloid, koran serta kertas-kertas berjibun dan berserakan. Walau wajahnya agak masam, tapi dengan telaten tampaknya ia sedang menata dan mengatur barang-arang yg kurang betul letaknya. Ada kemoceng pula di tangannya.

“Dimana sih kisah sang gajah?” celetuknya masih sambil menggebuk-gebukkan pembersih dari bulu ayam yang dipegang.
“Makanya sukalah kamu bersih-bersih, nanti kan ketemu sendiri,“ komentar ibunya.
“Kemarin masih di meja tamu, tapi habis bagun tadi hingga kini, belum juga bersua,” sahut Jajak.
Dari pojokan ruang depan, ia lalu berganti ke tempat lainnya. Di bawah pesawat televisi yang ada rak bukunya, ia pelototi sambil kembali ditumpuki hingga terkesan rapi. Yg diatasnya, sebelah kanan kotak layar kaca bermerek Tos***a pun tak ketinggalan dbenahi. Tapi toh, belum juga ditemukan majalah yg dicarinya.
Perkara tentang bacan atau buku dan majalah yg ketlisut, memang sering muncul hampir tiap hari. Yang paling kerap di keluarga Jajak, justru ayahnya sewaktu akan mencari koran hari itu, tak lagi bisa ketemu. Seisi rumah lantas ditanyai satu per satu, tak terkecuali sang pembantu. Makanya ibu Jajak sering marah kepada anak2nya, bila mendapati koran yg ditaruh seenaknya.
Kendati ibunya sudah sedeikian nyinyirnya, ulah yg membikin orang jadi geregetan masih juga dilakukan oleh salah seorang dari keluarga Pak Jaya. Nah, siapa lagi kalau bukan si bungsu Ragil, adik Jajak. Entah saking suka pelupa atau malas, anak yg satu ini tak jarang membiarkan buku atau majalah bacaannya tertinggal di tempat2 yg kurang pantas dipandang.
Di atas tembok WC Jak barangkali!” seru ibunya mengingatkan, setelah cukup lama Jajak mengoperasi seluruh meja tulis yg ada di rumah.
“Wah, benar juga bu!” sahut Jajak bersemangat. “Ragil memang keterlaluan,” gerutunya walau belum juga ia beranjak ke belakang. “Kenapa sih, bandel amat anak itu?”
Dengan wajah sudah tidak masam lagi, akhirnya Jajak pun menggeser “perburuannnya” ke bagian dapur. Ingat akan kebiasaan adiknya yg suka sembaranagn, dengan setengah dongkol matanya jelalatan menebar ke arah dapur dulu sebelum sampai ke wc. Sebab siapa tahu majalah yg berisi cerita tentang gajah, tergeletak di atas meja atau lemari yg ada di dapur. Bukankah ragil sering pula membaca di dapur manakala sedang sarapan, gerundel jajak dalam hati.
Di tempat ber*k, sewaktu sedang nong*r*ng di jamb*n, Ragil pun tak jarang membawa majalah atau bacaan yg disukai, sambil menunggu buang hajatnya usai. Sehingga sesekali, bacaannya pun ketinggalan di pojok bibir bak air atau di tembok penyekat wc dengan dapur.
Benar juga, ternyata majalah yg dicari Jajak berada di ruang sudut paling belakang dapur itu. Dari jauh jajak telah mengenali, bahwa bacaan itu yg dicarinya.
“Lantas kapan majalah itu diangkutnya?” ucapnya sendirian. “Ngumpet dimana pula sepagi ini?”
“Gil..., Ragil!” akhirnya Jajak pun berteriak memanggil adiknya. Akan disemprotnya dengan kata2 pedas, kalau perlu dengan caci maki, bukan umpatan.
“Anaknya sudah sejak usai subuh sepedaan kok!” ujar ibunya.
“Bandelnya itu lho bu, kok tak bisa dikurangi. Ada tiga majalah yg menumpuk di WC. Apa mau bikin pustaka di WC?” adu Jajak pada ibunya.
Perilaku si bungsu yg barangkali akibat luapan nafsu membaca itu ternyata tak mudah segera diatasi. Sekitar dua tahun kebiasaan itu berlangsung, saat Ragil duduk di kelas 2 SD. Bagaimana ayah dan ibunya menasihati tak kunjung dipatuhi. Masih lumayan jika yg dibaca ke belakang majalah lama, yg baru kadang kebasahan gara2 sudah terbawa Ragil ke WC.
Akhirnya Pak Jaya membuat rak khusus di dapur dan di sana ditempatkan majalah2 lama. Sewaktu2 bila dibutuhkan, bacaan telah tersedia.
M. Har Harijadi