Adikku terkecil, hingga kini masih sering dipijatkan. Ketika ia malas makan, sewaktu tidur acap ngigau atau sehabis jatuh waktu bermain, orangtuaku tentu akan mengantarkannya ke rumah Kek Salim.“Urat-urat tubuhnya ada yang tak beres. Harus dibetulkan!“ ujar ibuku jika dijumpai keadaan demikian. Perlu dipijat alias diurut.
Tatkala aku belum TK, perlakuan serupa juga kualami. Tapi saat mulai sekolah sudah tidak lagi. hanya saja, pergi ke tukang pijat sampai sekarang masih kukerjakan. Lantaran senang ikut mengantarkan adik bersama orangtuaku. Sedang Tuti, adikku yang di kelas dua, sama sepertiku pula, tak lagi dipijatkan. Barangkali sudah dianggap dapat menjaga diri dan bisa berhati-hati.
“Tak adakah selain Kek Salim, orang yang pandai memijat?” demikian pernah kutanya pada ibuku. “Kasihan kalau yang berkunjung banyak. Tentu beliau capek, padahal sudah tua!” sambungku.
“Satu dua memang ada. Tapi yang cocok atau mujarab, tak ada yang menandingi beliau,” jawab ibu seraya menambah, “sebagaimana yang kau saksikan sendiri jika sedang mengantar, bukankah bergantian datang dan pergi anak-anak dibawa orangtuanya kesana, unutk disembuhkan kek Salim. Tak cuma dari sekitar kota kita saja lho! Namun datang pula dari tempat-tempat yang jauh. Mereka percaya jika dipijat Kek Salim akan sembuh!”
“Kerja Kek Salim apa hanya memijat?” selaku ingin lebih tahu.
“Mungkin sekarang ini ya cuma itu. Tapi dulu bekerja jadi buruh tani, seperti para tetangganya.”
Dari rumahku yang dekat dengan kantor pemda kabupaten tempat tinggal pemijat yang berusia lebih 60 tahun itu berjarak 4 km. Sudah berada di penggir kota. Ayah dan ibu pasti mengendarai skuter milik kami jika kesana, sebab masih harus masuk kampung dan lewat persawahan kendati tak begitu luas. Bila menggunakan kendaraan umum semisal becak atau delman, harus memesan atau mencarter lebih dulu pergi pulang.
Sebab itulah aku selalu ingin ikut, sebab kecuali lewat tempat-tempat ramai seperti terminal, pertokoan dan pasar, lahan sawah yang hijau membentang juga akan kulalui. Rasanya senang bisa memandangi gunung di sebelah tenggara, yang dari rumah tidak dapat terlihat. Begitulah tak sampai sebulan selalu aku berkesempatan kesana. Pram adikku yang bungsu itu sudah bagaikan langganan berkunjung ke Kek Salim.
“Cucu saya ini tiap 20 hari pasti kesini,“ tutur seorang nenek yang kudengar sedang berbincang saat menanti giliran dipijat. “Anak saya malah dua minggu sekali!” sela seorang ibu tak mau kalah dalam ketekunan merawat asuhannya.
“Kalau saya tak tentu kok,” ibuku menyahut setengah merendah. Tapi aku perkirakan, sekitar 3minggu sekali pram diajaknya ke rumah Kek Salim.
Kalau begitu..., yang jadi langganan tak sedikit jumlahnya, gumamku dalam hati dengan agak heran. Berarti larisnya tak kalah dengan dokter atau bidan yang membuka praktik, mengingat waktunya seharian penuh selalu digunakan Kek Salim untuk memijat.
Rumah Kek Salim memang menyerupai tempat praktik dokter, meskipun lebih sederhana. Ada kursi-kursi untuk menunggu di ruang depan, masih dilengkapi kursi berputar ukuran kecil untuk yang diijat. Maklum beliau memang ahli atau dukun pijat khusus anak-anak. Cukup istimewa pula disana terpasang papan nama cukup unik : Mat Salim, Ahli Pijat Anak, Buka Tiap Hari Kecuali Legi.
Jadi, pada waktu hari bertepatan dengan pasaran Legi, atau Manis jika dalam Bahasa Sunda, praktiknya berhenti atau tidak buka. Sedang jika pasaran Pon, Wage, Kliwon dan Pahing senantiasa selalu buka. Konon Kek Salim merupakan satu-satunya dukun pijat yang pasang papan nama di daerahku.
Belakangan kemudian saking kerapnya aku ikut ngantar Pram, kuketahui pula bahwa di antara anak-anak yang dipijatkan termasuk anaknya Pak Dokter Wahyu Kepala RSUD.
“Lho kenapa tak disembuhkan sendiri oleh ayahnya?” bisikku pada ayah yang kebetulan mengantar adikku hari itu.
“Nah, itu keadilan tuhan,” jawab ayahku berbisik pula. Dan sebelum aku bertanya lagi, bicaranya segera disambung : “belum tentu lho, semua dokter bisa mengurut urat-urat. Makanya anakknya dibawa kesini. Siapa tahu kondisi tubuhnya malah cepat baik, setelah dibawa ke tukang pijat. Jelas ini merupakan contoh bukan? Bahwa orang hidup selalu timbal balik, memberi dan menerima, alias selalu tolong menolong dan gotong royong.”
Kata-kata ayah itu memang terbukti benar, sebab tatkala sebelumnya Kek Salim yang terkenal kepiawaiannya dalam memijat sakit, pernah pula diopname atau menjalai rawat inap di RSUD.
M. Har Harijadi
“Tak adakah selain Kek Salim, orang yang pandai memijat?” demikian pernah kutanya pada ibuku. “Kasihan kalau yang berkunjung banyak. Tentu beliau capek, padahal sudah tua!” sambungku.
“Satu dua memang ada. Tapi yang cocok atau mujarab, tak ada yang menandingi beliau,” jawab ibu seraya menambah, “sebagaimana yang kau saksikan sendiri jika sedang mengantar, bukankah bergantian datang dan pergi anak-anak dibawa orangtuanya kesana, unutk disembuhkan kek Salim. Tak cuma dari sekitar kota kita saja lho! Namun datang pula dari tempat-tempat yang jauh. Mereka percaya jika dipijat Kek Salim akan sembuh!”
“Kerja Kek Salim apa hanya memijat?” selaku ingin lebih tahu.
“Mungkin sekarang ini ya cuma itu. Tapi dulu bekerja jadi buruh tani, seperti para tetangganya.”
Dari rumahku yang dekat dengan kantor pemda kabupaten tempat tinggal pemijat yang berusia lebih 60 tahun itu berjarak 4 km. Sudah berada di penggir kota. Ayah dan ibu pasti mengendarai skuter milik kami jika kesana, sebab masih harus masuk kampung dan lewat persawahan kendati tak begitu luas. Bila menggunakan kendaraan umum semisal becak atau delman, harus memesan atau mencarter lebih dulu pergi pulang.
Sebab itulah aku selalu ingin ikut, sebab kecuali lewat tempat-tempat ramai seperti terminal, pertokoan dan pasar, lahan sawah yang hijau membentang juga akan kulalui. Rasanya senang bisa memandangi gunung di sebelah tenggara, yang dari rumah tidak dapat terlihat. Begitulah tak sampai sebulan selalu aku berkesempatan kesana. Pram adikku yang bungsu itu sudah bagaikan langganan berkunjung ke Kek Salim.
“Cucu saya ini tiap 20 hari pasti kesini,“ tutur seorang nenek yang kudengar sedang berbincang saat menanti giliran dipijat. “Anak saya malah dua minggu sekali!” sela seorang ibu tak mau kalah dalam ketekunan merawat asuhannya.
“Kalau saya tak tentu kok,” ibuku menyahut setengah merendah. Tapi aku perkirakan, sekitar 3minggu sekali pram diajaknya ke rumah Kek Salim.
Kalau begitu..., yang jadi langganan tak sedikit jumlahnya, gumamku dalam hati dengan agak heran. Berarti larisnya tak kalah dengan dokter atau bidan yang membuka praktik, mengingat waktunya seharian penuh selalu digunakan Kek Salim untuk memijat.
Rumah Kek Salim memang menyerupai tempat praktik dokter, meskipun lebih sederhana. Ada kursi-kursi untuk menunggu di ruang depan, masih dilengkapi kursi berputar ukuran kecil untuk yang diijat. Maklum beliau memang ahli atau dukun pijat khusus anak-anak. Cukup istimewa pula disana terpasang papan nama cukup unik : Mat Salim, Ahli Pijat Anak, Buka Tiap Hari Kecuali Legi.
Jadi, pada waktu hari bertepatan dengan pasaran Legi, atau Manis jika dalam Bahasa Sunda, praktiknya berhenti atau tidak buka. Sedang jika pasaran Pon, Wage, Kliwon dan Pahing senantiasa selalu buka. Konon Kek Salim merupakan satu-satunya dukun pijat yang pasang papan nama di daerahku.
Belakangan kemudian saking kerapnya aku ikut ngantar Pram, kuketahui pula bahwa di antara anak-anak yang dipijatkan termasuk anaknya Pak Dokter Wahyu Kepala RSUD.
“Lho kenapa tak disembuhkan sendiri oleh ayahnya?” bisikku pada ayah yang kebetulan mengantar adikku hari itu.
“Nah, itu keadilan tuhan,” jawab ayahku berbisik pula. Dan sebelum aku bertanya lagi, bicaranya segera disambung : “belum tentu lho, semua dokter bisa mengurut urat-urat. Makanya anakknya dibawa kesini. Siapa tahu kondisi tubuhnya malah cepat baik, setelah dibawa ke tukang pijat. Jelas ini merupakan contoh bukan? Bahwa orang hidup selalu timbal balik, memberi dan menerima, alias selalu tolong menolong dan gotong royong.”
Kata-kata ayah itu memang terbukti benar, sebab tatkala sebelumnya Kek Salim yang terkenal kepiawaiannya dalam memijat sakit, pernah pula diopname atau menjalai rawat inap di RSUD.
M. Har Harijadi