Disaat-saat bukan musim kemarau yang panjang seperti sekarang, siang hari merupakan waktu yang harus ditanggung dengan penuh ketawakalan bagi setiap orang yang tengah menjalankan ibadah puasa. Apalagi kini. Tahun yang menurut koran-koran mempunyai temperatur yang paling tinggi dalam seratus tahun terakhir ini. Bisa dirasakan bagai hidup di Padang Arafah oleh orang yang justru menempati daerah tropis yang banyak turun hujan.Tidak terkecuali sekarang. Pertengahan bulan Oktober yang kering, begitu tidak enaknya hawa di sekitar kita. Aku sudah coba guna melewatkan waktu ini dengan membaringkan tubuh di beranda rumah dekat jendela. Dengan meletakkan kursi malas ayah di dekatnya. Tetapi memang hawa panas yang celaka di siang itu tak mau begitu saja ditundukkan, jadinya aku cuma membolak-balikkan badanku yang basah oleh keringat sambil sebentar-sebentar berkeluh kesah.
- Tuhan! Hanya Engkaulah yang bisa lebih mempercepat waktu, sehingga titik-titik hujan akan segera bertebaran.
Doa macam begini tentu sudah keluar dari mulut para ulama dan orang-orang saleh, bahkan orang yang sementara ini melupakan Tuhannya saat2 begini, terpaksalah ia harus mengingatNya lagi. Dan di tempat lain aku sudah dengar pula orang2 pada menjalankan sholat istiskok. Sholat minta diturunkan hujan. Ada yang kemudian diberi hujan setelah sholat itu selesai dan ada pula yang belum dikabulkan. Bagi tempatku sendiri malah tanda2 akan hujan sajapun belum. Duh keringnya kerongkongan! Masih harus beginikah sampai nant tiba hari lebaran?
Dua minggu bulan ramadhan sudah terlewati. Pagi ini seperti biasa setelah tidur sehabis subuh tadi akupun lalu angkat kaki menuju sumur. Menimba sebentar lalu mandi sepuasnya. Ini sudah hampir jam sebelas siang. Dan kemudian tidak ada acara lain kecuali keluar rumah. Entah itu ke rumah teman, pergi melihat-lihat etalase toko ataupun putar2 kota saja naik sepeda.
Tapi kali ini aku cuma mengobrol sama teman2 di muka masjid. Sambil nonkrong dekat pintu pagar memandangi anak2 sekolah yang barusan pulang. Duh nikmatnya, walau di bulan puasa masih senang pula menikmati wajah2 cantik pelajar2 putri yang bersliweran di muka kami. Bertepatan itu pulalah adikku laki2 yang juga baru saja tiba dari sekolah sudah berada di dekatku.
- Sepedanya mas.
- Mau kemana?
- Kantor pos. Ambil wesel.- katanya seraya memegangi sepeda yang kusandarkan di pohon asam dekat kami mengobrol.
- Oh. Mana kuncinya? – tanyanya setelah ia tahu kalau sepeda terkunci.
- Dari Jakarta? Untuk nenek seperti biasanya? – sambil merogoh saku mencari kunci sepeda yang kubawa itu.
- Bukan. Ini wesel untukmu mas!
- Untukku? Sungguhan bicaramu? Dari mana? – tanyaku bersahutan demi mendengar ucapan adikku itu.
Bersambung....
- Tuhan! Hanya Engkaulah yang bisa lebih mempercepat waktu, sehingga titik-titik hujan akan segera bertebaran.
Doa macam begini tentu sudah keluar dari mulut para ulama dan orang-orang saleh, bahkan orang yang sementara ini melupakan Tuhannya saat2 begini, terpaksalah ia harus mengingatNya lagi. Dan di tempat lain aku sudah dengar pula orang2 pada menjalankan sholat istiskok. Sholat minta diturunkan hujan. Ada yang kemudian diberi hujan setelah sholat itu selesai dan ada pula yang belum dikabulkan. Bagi tempatku sendiri malah tanda2 akan hujan sajapun belum. Duh keringnya kerongkongan! Masih harus beginikah sampai nant tiba hari lebaran?
Dua minggu bulan ramadhan sudah terlewati. Pagi ini seperti biasa setelah tidur sehabis subuh tadi akupun lalu angkat kaki menuju sumur. Menimba sebentar lalu mandi sepuasnya. Ini sudah hampir jam sebelas siang. Dan kemudian tidak ada acara lain kecuali keluar rumah. Entah itu ke rumah teman, pergi melihat-lihat etalase toko ataupun putar2 kota saja naik sepeda.
Tapi kali ini aku cuma mengobrol sama teman2 di muka masjid. Sambil nonkrong dekat pintu pagar memandangi anak2 sekolah yang barusan pulang. Duh nikmatnya, walau di bulan puasa masih senang pula menikmati wajah2 cantik pelajar2 putri yang bersliweran di muka kami. Bertepatan itu pulalah adikku laki2 yang juga baru saja tiba dari sekolah sudah berada di dekatku.
- Sepedanya mas.
- Mau kemana?
- Kantor pos. Ambil wesel.- katanya seraya memegangi sepeda yang kusandarkan di pohon asam dekat kami mengobrol.
- Oh. Mana kuncinya? – tanyanya setelah ia tahu kalau sepeda terkunci.
- Dari Jakarta? Untuk nenek seperti biasanya? – sambil merogoh saku mencari kunci sepeda yang kubawa itu.
- Bukan. Ini wesel untukmu mas!
- Untukku? Sungguhan bicaramu? Dari mana? – tanyaku bersahutan demi mendengar ucapan adikku itu.
Bersambung....