Tuesday, June 22, 2010

KUATIR JADI BANCI

Sebagai anak perempuan semata wayang, Fatma hampir saban bulan dibelikan baju baru oragtuanya. Pak dan Bu Gunawan memang selalu berupaya menyenangkan anknya.
Walau tidak selalu di toko, usai gajian tentu setiba di rumah ada saja yang dihadiahkan untuk ketiga anaknya. Fatma, Iwan, dan Arif. Mungkin sebelumnya sang ibu mampir dulu di pasar, ada penjual menjajakan di kantor atau dari kawannya yang sambil kerja membawa dagangan pula.
Lebih dari selusin atau sekodi, baju baru yang dimiliki Fatma. Terbanyak memang jenis rok terusan warna-warni, berbunga-bunga atau gambar lain, dalam arti tidak bercorak polos. Rok yang tidak terusan juga ada, yakni gaun dan blus, tapi hanya sat dua. Sedangkan celana panjang maupun pendek, termasuk kulot, beberapa potong pernah pula ia dibelikan ibunya.
“Ini anak manis..., laki-laki atau perempuan?” tanya penjaga kios di pasar pahing sabil mengamati Fatma. “Baju yang kotak-kotak ini ya? Garis-garisnya keemasan lho” sambung nenek yang menawarkan barang agangannya dengan ramah.
“Hayo, beri jawaban sendiri” tukas ibu Fatma yang hari itu mengajaknya pergi belanja. Kendati sudah dibujuk dengan mengelus rambut segala, gadis kecil anak TK itu hanya tersipu-sipu. Tak memberi tanggapan. Barangkali malu atau malah tersinggung perasaannya. Dia memang baru duduk di kelas nol kecil.
“Wah... lha rambutnya pendek begitu, serta giwangnya lembut, nenek tentu salah terka. Apalagi pakai celana senam. Maaf ya!”
Begitulah banyak orang acap keliru jika bertemu Fatma untuk pertama kalinya. Dia memang sering mengenakan pakainan yang biasa digunakan anak laki-laki. Celana pendek dan aju kaos terutama, setiap hari jika bermain-main. Sesekali dengan celana panjang bila bepergian, sedangkan memakai rok apabila berada di sekolah saja.
Karenanya, di almari menumpuk baju perempuan milik Fatma, masih selalu dalam keadaan terlipat yang tertata rapi. Padahal setiap usai mandi, bapak atau ibunya selalu mengambilkan baju jenis itu. Atau jika ia mengambilnya sendiri, kerap ia diingatkan bahwa ia anak perempuan.
“Tak mau..tak mau. Senag lainnya!” ia selalu berseru demikian. Walau telah diomongi, bahwa nanti tak akan punya teman perempuan lagi, tak boleh ikut orangtuanya jika bertandang, serta beberapa alasan lain yang sifatnya setengah mengancam.
“Kamu bagaimana sih. Baju mahal-mahal cuma disia-siakan. Itu namanya mubadzir. Tuhan tidak suka pada orang yang berbuat demikian!” bapaknya sampai pernah bilang begitu. Tapi Fatma tetap tak mau mengindahkannya.
Kadang malah dibelanya dengan menagis, guna mempertahankan kebiasaannya yang kurang lazim itu. Ibunya lantas membiarkan apa yang dimaui, berkaitan dengan perihal busana itu, yang tampaknya juga kian runyam saja. Misalnya, gadis remaja seenaknya mengenakan pakaian pria, dan sebaliknya perhiasan wanita dipakai laki-laki.
Perkembangan tubuh Fatma termasuk cepat, kendati rambutnya tumbuh amat lambat. Sehingga model rambutnya menyerupai laki-laki. Nah, akibatnya sering ia mengalami kejadian lucu-lucu, lantaran persangkaan yang salah terhadapnya. Sementara itu, sejumah baju rok yang dimilikinya, sempat pula diloakkan biarpun masih baru. Atau paling tidak, hanya dipakai sekali dua kali. Sepertinya cuma rok seragam sekolah yang diilikinya.
Setelah Fatma duduk di kelas nol besar setahun kemudian, barulah saran dan perintah orantuanya dipatuhi. Rok-roknya tak lagi hanya dipajang seperti almari di toko, memadati tanpa manfaat sekaligus menghabiskan tempat. Jadi barang percuma! Ya, kini tak lagi begitu. Lantas bagaimana menyadarkan ulah Fatma itu?
Sebelum itu, orang tua Fatma memang menyerah dan tak merisaukan lagi. Namun seperti setiap harinya, mereka selalu berdoa untuk kebaikan seluruh anaknya. Pak Gunawan ternyata seperti menerima resep yang tak terduga pada waktu kemudian.
“Bagaimana Fat, baju-baju yang tak pernah kau pakai apa masih cukup? Bukankah badanmu kian besar saja!” begitu ucap Pak Gun suatu kali.
“Tapi bisa diperbesar kan nanti?Dipermak!” sekenanya Fatma menjawab, dengan nada bersikukuh.
‘Bisa sih bisa. Tapi sudah tak asli lagi kan? Kalau toh masih nampak baru, sudah bercampur dengan yang usang” tangkis ayahnya. “Ayolah mulai dipakai lagi, keburu kekecilan nanti”.
“Ya sudah, saya kenakan nati. Daripada diloakkan ibu lagi” gumamnya menyangggupi biarpun dengan menggerutu.
Hanya dengan komentar kecil itu, agaknya Fatma mulai menyadari bahwa anak perempuan lazimnya memakai rok. Sedang kekuatiran orangtuanya akan perilaku anak gadisnya yang menjurus kelaki-lakian hilang terpupus pula. Pak dan Bu Gunawan ngeri jika membayangkan anakanya akan menjadi banci.

M. Har Harijadi