Sunday, June 6, 2010

Tawa di Kampus

1. Sebagai mahasiswa yang keuangannya tidak bisa dibilang berlebih, adalah suatu kebahagiaan jika memperoleh beasiswa berupa uang dengan jumlah lumayan.
Aku pun menghabiskannya untuk membeli celana jeans bermerk dengan harga mahal. Dengan bangga aku memakai celana itu saat pergi ke kampus. Maklum, biasanya celanaku tidak ada yang sekeren ini. Namun, rasa banggaku langsung hilang ketika seorang teman yang tahu bahwa aku mendapat beasiswa dengan lantang meyapaku, ” Hai!!!Celana beasiswa baru nih yeee..!!!!”. Kontan seluruh bola mata yang ada di kelas langsung tertuju pada celana jeansku. Duh malunya..., untung saja dosenku belum datang.


2. Sore itu, aku kuliah manajemen unggas dengan dosen pengampu yang telah banyak berkecimpung di dunia perunggasan. Beliau menerangkan mulai dari kandang, pakan, dan lain-lainnya. Hal yang paling mengena dari kuliah dosen ini adalah saat beliau mengungkapkan prinsip utama dari manajemen unggas yaitu ” Untuk menerapkan teknik manajemen yang baik, hanya perlu menanyakan pada ayamnya, setelah si ayam mendapatkan kenyamanan maksimal, baru kita potong si ayam”. Sadis memang, tapi begitulah kenyataannya.


3. Walaupun kuliah di salah satu perguruan tinggi yang bergengsi, ternyata peralatannya belum memadai. Dosen saya yang akan menerangkan dengan gambar pun kesulitan karena ketiadaan marker meskipun telah disediakan whiteboard di setiap kelas. Beliau pun bertanya apakah ada yang membawa marker. Salah seorang teman saya yang ikut MLM dan sering membawa marker untuk presentasinya berteriak lantang kalau dia membawa marker. Beliau pun menghampirinya meskipun dia duduk di deretan paling belakang. Saat beliau sudah berada di hadapannya teman saya malah nyengir, “Hee...ternyata saya nggak bawa ding pak...!!!”. Meledaklah tawa di kelasku dan dengan bersungut-sungut beliau pun kembali menerangkan pelajaran walaupun tanpa marker.


4. Sebagai mahasiswa koas tibalah giliranku untuk praktek di klinik hewan milik fakultas. Hari itu giliran piket dokter pengujiku, aku bersemangat sekali untuk show-off. Pasien pertama kami adalah seekor ayam jantan yang tampan. Kami men-diagnosa si ayam terkena tumor dan harus dirujuk ke bagian bedah. Setelah sepakat kami pun menghadap dokter piket. Dokter piket bertanya ini itu, menimbang keputusan rujuk ke bagian bedah, dan bertanya, ”Seberapa besar?”. Aku jawab dengan lantang, ”Lumayan dok, 3 kg!”. Teman-temanku memandangku dengan geli. Aku baru tersadar ternyata yang ditanyakan dokter piket adalah besar tumor, bukan berat badan ayam. Bodohnya aku, malu...