Sunday, June 20, 2010

Rumenotomi pada domba

Tanggal 13 Oktober 2008 dilakukan pemeriksaan pada domba berumur 11 bulan, jenis kelamin jantan dengan berat badan 16 kg. Status yang nampak, keadaan umum dengan ekspresi muka ceria dan kondisi tubuh sedang. Frekuensi nafas 32 kali permenit, frekuensi pulsus 68 kali permenit, panas badan 39,6oC. Pemeriksaan rambut tidak rontok, tidak ditemukan lesi, konjungtiva merah muda, dengan CRT < 2 detik. Pada palpasi lgl. superficialis tidak ada kebengkakan. Tipe pernafasan thoracoabdominal. Auskultasi jantung, sistole dan diastole dapat dibedakan. Pada sistem pencernaan daerah sekitar mulut bersih tidak berlesi, palpasi abdomen tidak ada rasa sakit, daerah sekitar anus bersih dengan gerak rumen 5 kali per 5 menit. Urinasi normal, tidak ada rasa sakit saat dilakukan palpasi ginjal. Refleks baik dan dapat berdiri serta berjalan dengan keempat kakinya. Dari anamnesa didapatkan informasi bahwa hewan sehat.

Hasil pemeriksaan darah sebelum operasi domba menunjukkan bahwa domba mengalami leukositosis disertai neutrofilia, eosinofilia, dan monositosis. Peningkatan neutrofil pada domba mengindikasikan bahwa hewan tersebut kemungkinan mengalami infeksi bakterial atau karena stress saat pengambilan darah. Neutrofil merupakan jajaran pertama untuk sistem pertahanan melawan infeksi dengan cara migrasi ke daerah-daerah yang sedang mengalami serangan oleh agen bakteria.
Sebelum dilakukan operasi, hewan dipuasakan makan selama 12 jam dan puasa minum 6 jam sebelum operasi. Tujuan dari puasa ini adalah untuk pengosongan lambung supaya tidak mendesak diafragma selama operasi sehingga tidak terjadi muntah. Dari hasil pemeriksaan umum dan pemeriksaan fisik, hewan tidak mengalami perubahan patologis sehingga hewan dinyatakan sehat dan aman untuk dioperasi.
Pada kasus rumenotomi ini, prosedur operasi dilakukan dengan posisi hewan berdiri. Hewan yang telah dipersiapkan kemudian diletakkan diatas meja operasi dan direstrain. Operasi dilakukan pada flank kiri. Sebelum operasi dilakukan, bagian yang akan dioperasi dicukur pada daerah flank. Setelah itu diolesi alkohol. Persiapan alat-alat operasi juga dilakukan. Perbedaan alat yang dipakai adalah pemakaian shroud/plastik untuk rumen. Setelah itu baru hewan diberi cairan anastesi. Anastesi yang dapat diberikan dengan cara line block, inverted block, atau paravertebral block. Pada kasus rumenotomi ini anastesika diberikan secara regional dengan menggunakan teknik paravertebral block dan L-block. Anastesi ini dimaksudkan untuk mematikan rasa di daerah flank. Teknik ini mempunyai beberapa keuntungan seperti daerah yang teranastesi cukup besar, menggunakan anastesi yang lebih sedikit dibanding anastesi lain dan tidak mengakibatkan distorsi jaringan. Untuk memperoleh hasil anastesi yang sesuai, teknik ini membutuhkan keahlian serta waktu untuk melakukannya dan peletakan agen anastesi haruslah tepat.
Anastetika yang digunakan pada kasus ini adalah Lidocain HCl. Pemberian Lidocaine HCL dilakukan menggunakan metode farqurhason dengan processus transversus sebagai penanda. Tiap tempat diberikan injeksi Lidocaine HCl sebanyak 20 ml. Setelah sekitar 5-10 menit kemudian, dilakukan tes untuk mengetahui apakah daerah operasi sudah teranastesi sempuna atau belum, dengan menggunakan Allis forceps dilakukan jepitan-jepitan daerah yang dianastesi tersebut. Hasilnya adalah hewan masih menunjukkan respon kesakitan ketika dilakukan jepitan menggunakan Allis forcep. Hal ini dapat terjadi dikarenakan deposisi cairan analgesik tidak pada daerah yang benar. Beresiko mengulangi kesalahan yang sama, anastesi diberikan dengan teknik inverted L-block. Teknik ini tidak spesifik dimana agen analgesik lokal diberikan dalam bentuk L terbalik untuk membuat dinding analgesia yang memagari daerah operasi, semua sel syaraf yang menuju ke daerah operasi diblok. Teknik ini digunakan karena mempunyai keuntungan selain mudah dilakukan juga dapat dideposisikan jauh dari tempat incisi, meminimalkan edema, hematoma, dan kemungkinan gangguan pada proses kesembuhan. Kekurangannya antara lain relaksasi otot pada lapisan terdalam dari dinding abdomen, toksisitas setelah injeksi sejumlah cairan dan meningkatkan biaya karena penambahan dosis berhubungan dengan keadaan setelah dilakukan injeksi dengan terbatasnya waktu melakukan operasi.
Setelah hewan teranastesi, dilakukan incisi sepanjang 12 cm pada kulit dimulai dari kira-kira 10 cm di bawah prosesus transversus dari vertebrae lumbaris pertengahan flank. Struktur lain dari dinding abdomen yang harus dihindari saat insisi adalah nervus dan pembuluh darah. Jika ada pembuluh darah harus di ligasi terlebih dahulu. Rumen ditarik ke luar dengan bantuan allies forcep atau dua buah jahitan yang kuat. Incisi rumen dibuat diantara kedua jahitan setelah cavum abdomen ditutup. Setelah rumen dibuka dimasukkan rumen shroud untuk mencegah kontaminasi kemudian isi rumen dikeluarkan ?-½ bagian sehingga rumen dapat dieksplorasi untuk mencari material asing.Tepi rumen yang diincisi dibersihkan dan dijahit dengan tipe jahitan sederhana menerus dilanjutkan dengan tipe jahitan kontinous lambert dengan menggunakan benang cat gut chromik. Peritoneum dan muskulus dijahit secara terpisah dengan tipe jahitan sederhana tunggal menggunakan benang cat gut chromik. Sub kutan dijahit dengan pola jahitan sederhana menerus menggunakan benang cat gut plain. Kulit dijahit dengan tipe jahitan sederhana tunggal menggunakan benang katun. Iodium tincture dioleskan pada luka.
Setelah operasi rumenotomi, yang paling penting dalam tahapan ini adalah kesembuhan luka. Kesuksesan operasi sangat tergantung pada kesembuhan luka. Pada hari ke-4 kulit domba sudah mulai menutup hal ini menandakan bahwa makrofag menstimulasi fibroblas yang kemudian memanggil myofibroblas. Myofibroblas berperan penting dalam penutupan luka karena diyakini berisi protein (aktin dan miosin) yang memiliki kontribusi dalam penutupan luka.
Terapi pasca operasi yang diberikan pada domba adalah injeksi ampicilin 1,6 ml. Injeksi diberikan secara intramuskuler 2 kali sehari. Pengobatan antibiotik ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi baik yang diakibatkan oleh kurang terjaganya sterilitas operasi maupun akibat masuknya agen penyakit/bakteri melalui celah luka pada saat proses penyembuhan. Ampicillin merupakan salah satu obat semi sintetik Penicillin yang paling penting, mempunyai aktifitas bakterisid, merupakan antibiotik berspektrum luas, dan aktif melawan sejumlah besar organisme gram positif dan negatif. Ampicillin bekerja dengan cara menghambat sintesa dinding sel bakteri. Ampicillin didistribusikan ke seluruh jaringan tubuh dan terpusat dalam hati dan ginjal. Dosis Ampicillin pada domba 10-20 mg/kg BB secara per oral, dan 5-10 mg/kg BB secara parenteral.