Pemeriksaan pada ikan meliputi pemeriksaan tubuh bagian eksternal dan pemeriksaan tubuh bagian internal. Sebelum dilakukan pemeriksaan di atas, terlebih dahulu ikan dipingsankan dengan cara memasukkan ikan pada preparat barbiturat + alkohol, atau pada larutan minyak cengkeh dengan takaran 3 tetes minyak cengkeh untuk 3 liter air.
Setelah ikan pingsan, dilakukan pengambilan darah untuk sampel pemeriksaan. Pengambilan darah intra kardial dilakukan dengan menusukkan jarum pada ventral operculum. Pengambilan darah pada aorta ascendens dilakukan dengan menusukkan jarum pada garis medial palatum atas, pada ruang kerongkongan. Sedangkan pengambilan darah pada arteri caudalis dilakukan dengan menusukkan jarum pada garis medial tepat di belakang sirip analis dengan arah dorso cranial menatap vertebrae.
Pemeriksaan tubuh bagian eksternal dimulai dengan mengamati perubahan pada kulit, sirip, insang serta mata ikan. Hasil yang paling mencolok adalah ditemukan adanya lesi warna putih di ekor, dorsal, dan dekat pinnae analis. Pada mata ditemukan adanya selaput keruh. Sedangkan insang tampak normal.
Pemeriksaan tubuh bagian internal dimulai dengan pembedahan ikan mulai dari anus, ventral ke depan, melanjut sampai daging yang menutupi perut terbuka. Perhatikan warna organ, bentukan di permukaan organ berupa nodula atau abses, congesti, bentukan lemak, perubahan konsistensi, eksudat, atau perlekatan antara organ. Hasilnya adalah organ ikan tampak normal dan tidak ditemukan adanya perubahan. Kemudian ambil sampel organ, masukkan organ-organ tersebut dalam larutan formalin 10% dan potong dengan ukuran 3×3mm untuk diproses menjadi preparat histopatologi.
Dari pemeriksaan makroskopis hepatopankreas, tidak ditemukan adanya abnormalitas baik pada bentuk, warna, konsistensi, permukaan, maupun tepian hepar. Hal ini didukung dengan pemeriksaan mikroskopis yang menunjukkan sel-sel hepatosit maupun sel-sel acini dalam keadaan normal. Diagnosa untuk hepatopankreas adalah normal.
Pada pemeriksaan ginjal, warna ginjal merah kecoklatan nampak gelap. Selain itu secara mikroskopis tampak melanomakrofag (kumpulan melanin) diantara tubulus ginjal. Ini menunjukkan bahwa ikan yang dinekropsi menunjukkan gejala keracunan limbah. Hal tersebut diperkuat dengan kondisi perairan tambak yang airnya keruh, kotor dan sedikit berbusa pada permukaan air.
Pengambilan sampel organ dilakukan untuk lebih meneguhkan dalam diagnosa. Pengambilan organ disimpan di dalam tabung formaldehid yang berfungsi untuk mencegah organ busuk dalam penyimpanan dan memperjelas gambaran ketika dibuat preparat histologis. Dalam pemeriksaan sampel makroskopis, usus tidak terlihat abnormalitas, usus terlihat besar dan panjang. Dalam preparat histopatologis terlihat normal.
Pada pemeriksaan jantung, tidak terlihat abnormalitas. Pada pemeriksaan secara makroskopis tidak ditemukan adanya perubahan pada jantung. Jantung berwarna merah hitam. Pada pemeriksaan secara mikroskopis juga tidak ditemukan perubahan. Pada ventrikel tampak jaringan otot yang padat, sedangkan pada atrium tampak jaringan otot yang lebih longgar dan berwarna lebih pucat.
Berdasarkan pemeriksaan secara makroskopis pada kulit ditemukan adanya bagian yang tidak bersisik. Lesi tersebut berwarna putih berbentuk irreguler dengan panjang antara 2-3 cm. Lesi tidak berbentuk sirkuler maupun membentuk ulcer. Permukaannya licin dan tidak kasar. Setelah dilakukan pemeriksaan mikroskopis tidak ditemukan adanya abnormalitas pada lapisan-lapisan kulit, baik pada epidermis, dermis, maupun lamina muscularisnya. Dimungkinkan lesi pada kulit tersebut bukan karena adanya agen infeksi seperti virus, bakteri, maupun protozoa. Diagnosa lebih mengacu pada kelukaan non infeksius, dimungkinkan akibat kepadatan tambak yang tinggi sehingga menimbulkan lesi pada kulit ikan.
Pada pemeriksaan insang, secara makroskopis insang terlihat normal yaitu berwarna merah, menandakan tidak terjadinya perubahan warna yang mungkin disebabkan oleh stres karena oksigen terlarut yang rendah maupun infeksi bakteri. Setelah dilakukan pemeriksaan menggunakan mikroskop ditemukan adanya cacing Monogenea. Penemuan ini dapat menjelaskan kemungkinan mengapa pada tubuh ikan tampak adanya luka serta adanya selaput keruh pada mata.
Namun pada pemeriksaan histopatologi tidak didapatkan perubahan insang yang signifikan yang menandakan infeksi Monogenea seperti hiperplasia epitel insang serta hiperplasia kartilago hyalin. Hal ini mungkin dikarenakan infeksi Monogenea belum parah, karena infeksi Monogenea akan menunjukkan gejala apabila infeksinya sudah parah. Atau mungkin juga disebabkan oleh pengambilan sampel insang yang tidak tepat pada tempat infeksi Monogenea.
Berdasarkan hasil pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis dapat disimpulkan : adanya melanomakrofag (kumpulan melanin) diantara tubulus ginjal dan diperkuat dengan kondisi perairan tambak yang airnya keruh, kotor dan sedikit berbusa pada permukaan air, disimpulkan bahwa ikan menunjukkan gejala keracunan limbah. Lesi pada kulit, selaput keruh pada mata, dan ditemukan adanya Monogenea pada insang, menunjukkan bahwa ikan terinfeksi Monogenea.
Pemeriksaan tubuh bagian eksternal dimulai dengan mengamati perubahan pada kulit, sirip, insang serta mata ikan. Hasil yang paling mencolok adalah ditemukan adanya lesi warna putih di ekor, dorsal, dan dekat pinnae analis. Pada mata ditemukan adanya selaput keruh. Sedangkan insang tampak normal.
Pemeriksaan tubuh bagian internal dimulai dengan pembedahan ikan mulai dari anus, ventral ke depan, melanjut sampai daging yang menutupi perut terbuka. Perhatikan warna organ, bentukan di permukaan organ berupa nodula atau abses, congesti, bentukan lemak, perubahan konsistensi, eksudat, atau perlekatan antara organ. Hasilnya adalah organ ikan tampak normal dan tidak ditemukan adanya perubahan. Kemudian ambil sampel organ, masukkan organ-organ tersebut dalam larutan formalin 10% dan potong dengan ukuran 3×3mm untuk diproses menjadi preparat histopatologi.
Dari pemeriksaan makroskopis hepatopankreas, tidak ditemukan adanya abnormalitas baik pada bentuk, warna, konsistensi, permukaan, maupun tepian hepar. Hal ini didukung dengan pemeriksaan mikroskopis yang menunjukkan sel-sel hepatosit maupun sel-sel acini dalam keadaan normal. Diagnosa untuk hepatopankreas adalah normal.
Pada pemeriksaan ginjal, warna ginjal merah kecoklatan nampak gelap. Selain itu secara mikroskopis tampak melanomakrofag (kumpulan melanin) diantara tubulus ginjal. Ini menunjukkan bahwa ikan yang dinekropsi menunjukkan gejala keracunan limbah. Hal tersebut diperkuat dengan kondisi perairan tambak yang airnya keruh, kotor dan sedikit berbusa pada permukaan air.
Pengambilan sampel organ dilakukan untuk lebih meneguhkan dalam diagnosa. Pengambilan organ disimpan di dalam tabung formaldehid yang berfungsi untuk mencegah organ busuk dalam penyimpanan dan memperjelas gambaran ketika dibuat preparat histologis. Dalam pemeriksaan sampel makroskopis, usus tidak terlihat abnormalitas, usus terlihat besar dan panjang. Dalam preparat histopatologis terlihat normal.
Pada pemeriksaan jantung, tidak terlihat abnormalitas. Pada pemeriksaan secara makroskopis tidak ditemukan adanya perubahan pada jantung. Jantung berwarna merah hitam. Pada pemeriksaan secara mikroskopis juga tidak ditemukan perubahan. Pada ventrikel tampak jaringan otot yang padat, sedangkan pada atrium tampak jaringan otot yang lebih longgar dan berwarna lebih pucat.
Berdasarkan pemeriksaan secara makroskopis pada kulit ditemukan adanya bagian yang tidak bersisik. Lesi tersebut berwarna putih berbentuk irreguler dengan panjang antara 2-3 cm. Lesi tidak berbentuk sirkuler maupun membentuk ulcer. Permukaannya licin dan tidak kasar. Setelah dilakukan pemeriksaan mikroskopis tidak ditemukan adanya abnormalitas pada lapisan-lapisan kulit, baik pada epidermis, dermis, maupun lamina muscularisnya. Dimungkinkan lesi pada kulit tersebut bukan karena adanya agen infeksi seperti virus, bakteri, maupun protozoa. Diagnosa lebih mengacu pada kelukaan non infeksius, dimungkinkan akibat kepadatan tambak yang tinggi sehingga menimbulkan lesi pada kulit ikan.
Pada pemeriksaan insang, secara makroskopis insang terlihat normal yaitu berwarna merah, menandakan tidak terjadinya perubahan warna yang mungkin disebabkan oleh stres karena oksigen terlarut yang rendah maupun infeksi bakteri. Setelah dilakukan pemeriksaan menggunakan mikroskop ditemukan adanya cacing Monogenea. Penemuan ini dapat menjelaskan kemungkinan mengapa pada tubuh ikan tampak adanya luka serta adanya selaput keruh pada mata.
Namun pada pemeriksaan histopatologi tidak didapatkan perubahan insang yang signifikan yang menandakan infeksi Monogenea seperti hiperplasia epitel insang serta hiperplasia kartilago hyalin. Hal ini mungkin dikarenakan infeksi Monogenea belum parah, karena infeksi Monogenea akan menunjukkan gejala apabila infeksinya sudah parah. Atau mungkin juga disebabkan oleh pengambilan sampel insang yang tidak tepat pada tempat infeksi Monogenea.
Berdasarkan hasil pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis dapat disimpulkan : adanya melanomakrofag (kumpulan melanin) diantara tubulus ginjal dan diperkuat dengan kondisi perairan tambak yang airnya keruh, kotor dan sedikit berbusa pada permukaan air, disimpulkan bahwa ikan menunjukkan gejala keracunan limbah. Lesi pada kulit, selaput keruh pada mata, dan ditemukan adanya Monogenea pada insang, menunjukkan bahwa ikan terinfeksi Monogenea.