Tuesday, June 22, 2010

Kegigihan Si Bungsu

Meskipun Cipto belum lama mahir naik sepeda, ia tak keberatan sepedanya dijual. Orangtuanya membeli kereta angin itu sudah sejak ia masih di TK.
“Sepedamu jadi ditawar, bagaimana To?” kembali ibunya memberitahu. “Anak Pak Kadir merengek terus, padahal uang yang dimiliki tak cukup untuk membeli sepeda baru. Sepedamu jadi kujual ya? Seminggu atau dua minggu lagi kan kubelikan yang baru!”.
Anak kelas 2 SD itu cuma mengangguk tanda setuju. Sebelumnya ia memang rela saja,
lantaran sepeda itu lebih dua tahun hanya menganggur. Baru setelah belakangan ia bisa menaiki, kemudian ada yang mendesak ingin melegonya. Rasanya tetap ikhlas Cipto meloloskannya biarpun sedang senag-senangnya.
“ Toh juga dapat bermain pakai sepeda teman”, gumamnya spontan.
“Kasihan kan, anaknya Pak Kadir tiap hari membujuk. Kita kan perlu ikut membantu,” tutur ibunya menghibur.
Ternyata anak sulung Bu Yati itu cukup sabar menunggu datangnya saat gajian. Cipto tak rewel, ketika di rumah cuma ada sepeda kecil milik adik bungsunya. Malah Bagus, adiknya itu yang protes setelah ia dibelikan sepeda baru yang dijanjikan.
Sewaktu sudah terkumpul uang tambahan, Ibu Cipto bimbang karena merasa si bungsu akan iri manakala kakaknya dibelikan sepeda baru. Uang dari sepeda yang diloakkan memang jumlahnya kecil, masih harus ditambah dua kali lipat. Setelah sungguh sepeda itu terbeli, kebimbangan ibunya terbukti dengan rewelnya Bagus saban hari. Sedih dan bingung jadinya, kendati semula Bu Yati bangga dapat memenuhi janjinya kepada si sulung. Orangtua itu menyesal kenapa seluruh uang yang terkumpul dibelikan hanya untuk sebuah sepeda. Padahal sebagian dapat disisihkan guna menutup rasa iri Bagus. Apalagi sepeda kecil untuk balita paling murah harganya.
“Aku jga dibelikan sepeda ya Bu! Besok!” isak Bagus memelas.
“Sepedamu kan masih ada, kemaren baru diperbaiki ayah,” rayu ibunya. “Nanti sore kuajak ke taman air mancur.”
“Sudah rusak lagi kok, waktu kupakai di lapangan tadi.”
“Ya nanti diperbaiki lagi. Sekarang kamu dibonceng ayah menggunakan sepeda kakak” jawab orantuanya.
“Ya dik, cobalah sepedaku. Enak lho, masih mulus lagi,” sahut cipto ikut membujuk.
Bagus kemudian tak ingat lagi pada permintaanya. Untuk beberapa waktu bisa melupakan protes yang dikemukakannya. Malah juga tertawa tawa ketika dibonceng berkeliling rumah. Ibunya tak lagi gelisah.
Tapi bagaimana dengan esok harinya? Kecuali uringan-uringan dengan meminta dibelikan setiap pedagan keliling yang lewat, teringat lagi si bungsu dan rasa iri diteriakkan lagi.
“Kak cip sepedanya baru..., ayo pak ke toko beli sepeda!” bocah empat tahun itu ganti usul ke ayahnya.
Namun ayahnya cuma diam dan wajahnya tak menampakkan ketegangan. Ia berdiri dari kursi lalu menuju ke sudut rumah dan mengangkat sepeda kecil ke depan rumah. Roda depannya diamati lalu mengambil onderdil dan peralatan. Tak sampai sepuluh menit lalu istirahat.
“Coba kau jalankan, bisa bergerak atau tidak,” perintah ayahnya. “Besok kita cat sendirigus bar kelihatan baru.”
“Asyik..asyik!” suara Bagus lantang.
Lusa tatkala minggu pagi ayahnya mengganti genteng-genteng yang bocor kegigihan si bungsu diulangi lagi dengan rengekan. Ingat pernah menjanjikan untuk mengecat sepeda, Bagus lalu diajak mencari sisa cat di gudang. Walau warnanya hitam melulu, ia nampak riang. Tapi ibunya masih merasa kasihan, khawatir protesnya muncul lagi.
Lantaran sepeda milik Bagus memang roda depannya yang rusak, dibelikanlah roda depan lengkap dengan pedalnya harganya miring dan ayah Bagus tak sebentar2 memperbaiki. Puaskah ia?
Hari berikutnya setelah roda depan lancar digerakkan dan tidak sering ngadat, Bagus kembali tak banyak mengganggu orangtuanya. Maksud protes yang direngekkan boleh dikata bukan cuma atas dasar iri belaka. Angkat jempol pada si bungsu yang masih balita. Tentu saja atas segala upaya kegigihannya.

M. Har Harijadi