Tuesday, June 15, 2010

Kendi Kek Kadir Kelana

Ternyata cerpennya bapakku ada lumayan banyak je.., wah kalah aq.. tapi aq ga tau ini dah dimuat apa belum, karena aq nemu dalam bentuk draft bukan bentuk sudah jadi majalah. Anyway, dinikmati aja kalo gitu, monggo.. Ini cerita anak-anak lagi, aq suka judulnya nih.., berima seperti Peter Parker(Spiderman) atau Bruce Banner(Hulk), kayaknya sih ini cerita petualangan gitu..




Kendi Kek Kadir Kelana
M. Har Harijadi


Sejak kecil aku tak pernah melihat kakek. Sebelum aku lahir, kakek sudah meninggal. Keduanya malah fotonya pun tak pernah aku temukan di album-album lama keluarga kami. Kakek dari keluarga ibu meninggal di masa perang, sedang kakek keluarga ayah wafat tertimpa wabah penyakit.

Kakekku yg pernah menjadi masinis yang kuceritakan ini, memang bukan kakekku langsung. Ia adik kakekku yg gugur melawan belanda puluhan tahun silam.
Kakek Kadir, begitu namanya, memiliki kebiasaan agak aneh. Siapa pun di desanya tentu sudah tahu. Yakni, suka berjalan jauh, dalam arti jalan kaki kemana pun pergi. Jika ke rumahku yg jaraknya 15 km –walau malam sekalipun – tak ragu ia menelusuri jalan dengan telapak kaki pergi pulang.
Menurut orang tuaku, Kek Kadir juga biasa jalan berpuluh-puluh kilo seperti ke Solo misalnya, Bojonegoro atau Kediri. Kapan pun waktunya! Arkian* banyak orang percaya, ia bisa tidur sembari berkelana.
Di Desa Klitik tempatnya bermukim, ia punya rumah di tepi sawah, bahkan sekaligus dekat tanah lapang. Karenanya aku senang mengunjungi, malahan sewaktu baru duduk di kelas 4, pernah nekad bersepeda pergi ke Klitik, dengan cuma mengajak adikku.
Kalau berada di sana, tentu tak lupa aku bermain ke gubuk atau dangau**. Entah kenapa, ada persaan nyaman duduk atau berbaringan di rumah mungil tengah sawah itu. Di bangunan tempat istirahat petani itu, suasananya tenteram dan hawanya sejuk kendati di siang yg terik. Mungkin lantaran angin sella berdesir. Tak peduli gubuk milik siapa, asal tak ada orang di dalamnya, kutempati begitu saja sepuas hati. Toh tak ada yg melarangnya.
Di rumah Kek Kadir yg sederhana, penghuninya hanya tiga orang. Yaitu selain kakek, masih ada nenek alias istrinya serta seorang lagi anaknya; seorang janda yg berarti bibiku. Mereka bertiga sebagai buruh tani, melakukan pekerjaan di sawah orang lain dengan imbalan upah. Seperti mencangkul, menyiangi, menanam atau menuai padi. Namun demikian, masih ditambah berladang di lahan milik sendiri, dengan menanam sejumlah tetumbuhan di sekitar pekarangan rumahnya.
“Jelek-jelek begini, aku dulu jadi masinis kereta api lho Cuk. Hampir semua kota di Pulau Jawa sudah kusinggahi” tutur kakek bangga mengenai lisah di masa mudanya.
“Lha kok tak menerima gaji pensiun saban bulannya?”.
“Aku memang hanya 10 tahunan jadi masinis. Itu pun di Betawi sana”, ia menyebut Jakarta dengan istilah lama. “Aku keluar dari jawatan KA, ketika pecah perang tahun 45, lalu kembali ke desa untuk bertani”.
“Jadi lokomotifnya masih mesin uap kuno,” ujarku menyela.
“Ya, betul! Tapi trayeknya sudah sampai kemana-mana. Sering juga aku bermalam di berbagai stasiun, jika butuh istirahat”.
Kek Kadir kuketahui juga punya keunikan lain yg cukup aneh. Bagiku termasuk menarik, sebab ada pula lucunya. Setiap aku baru tiba saat berkunjung, ia pasti tak lupa mengambil kendi, lalu diputar di hadapanku. Tempat air minum dari tanah itu, lantas disuruh berhenti berpusing jiak ingin mendapat isyarat atau pertanda alias jawabannya. Ini dilakukannya dengan sungguh-sungguh.
Misalnya begini: “Apa kelak cucuku berhasil sekolahnya?Berhentilah mulutmu ke arahku jika demikian”, begitu Kek Kadir memerintah kendi yg diputarnya. Yg sekaligus – tentu saja – juga menghentikannya karena memang dipegangi sendiri. Beberapa ucapan dalam Bahasa Jawa Kuno, komat-kamit meluncur dari bibirnya. Barangkali puji-pujian kepada tuhan seta doa dan mantera.
“Nah, kau nanti lulus atau naik kelas dengan niali bagus”, ujar kakek setelah putaran kendi diam dengan mulut dihadapannya.
Dulu-dulunya, dalam suasana yg sepi, asing, dan menyeramkan, sebab rumah kakek agak gelap, aku termasuk percaya terhadap ulah kakek. Namun lama-lama setelah sering tahu, kuanggap itu cuma semacam permainan belaka. Kenapa tidak! Lha yg memutar kendi, memegangi, dan menyetopnya juga kakek sendiri. Tapi keajaibannya, kakek mampu membikin suasana yg mencekam.
Tak tahu ajaran atau paham apa yg dianut Kek Kadir, meski kuketahui ia beragama Islam. Bahkan mmbaca Qur’an pun ia bisa. Tidak ada di antara keluargaku, punya paham sepertinya.
Suatu kali kuutarakan pada ayah, bahwa aku ingin melarang atau mengingatkan Kek Kadir, supaya tida memutar kendi dan meramal lagi. Menurutku, sesuai pelajaran agama yg kudapat, ulah kakek sudah menyimpang. Bukankah itu telah mendahului kehendak Tuhan?
“Jangan! Biarkan saja, toh tidak merugikan orang lain. Apalagi kakekmu sudah tua”, kata ayahku menasehati. “ Tak baik anak muda mebuat sakit hatipada oarng yg sudah tua”.
Kendi “wasiat” Kek Kadir selama ini kujumpai memang ta pernah keliru jika disuruh berhenti. Bukan terhadapku saja, tapi juga kepada orang atau anak-anak lainnya. Jadi memang hal-hal yg baik saja, yg terungkap dari ramalannya.
Kakek mantan masinis yg pengembara itu, akhirnya wafat di usia 80-an tahun. Anehnya, penyebab kematiannya juga berkaitan dengan ihwal jalan. Ia menemui ajal, lantaran keserempet kendaraan sepulang dari pasar.
1991
Well, ternyata ceritanya lilttle bit mature, yg diangkat topik agama lagi. Oya btw Arkian* dan dangau**, aku ga tau itu bahasa apa dan artinya apa. Maap ya.., coba aq tanya mbah gugel dulu...gagaga