Sunday, June 20, 2010

Case Report Diare Pada Kucing Dan Penanganannya

Pada tanggal 31 Maret 2008, dilakukan pemeriksaan terhadap kucing lokal bernama Badrun, jenis kelamin jantan, berumur 5 bulan, warna rambut putih cream. Dari hasil anmnesa
didapatkan keterangan bahwa Badrun tidak mau makan sejak 2 hari yang lalu, hanya mau minum sedikit, mengalami diare selama 2 hari, belum pernah mendapatkan vaksinasi maupun obat cacing. Populasi dalam kandang adalah 2 ekor. Pakan berupa nasi dicampur ikan.

Hasil dari pemeriksaan fisik adalah kucing tidak menunjukkan perubahan yang berarti kecuali pasien kecuali kondisi tubuh yang kurus dan lemah, frekuensi pulsus di bawah normal yaitu hanya 64/menit dalam kisaran normal 92-150/menit, gerakan peristaltik yang lemah, serta palpebrae yang mengalami pembengkakan dan berwarna merah. Frekuensi nafas dan suhu tubuh termasuk dalam kisaran normal yaitu 40/menit dalam kisaran normal 26-48/menit dan 39,1°C dalam kisaran normal 37,6-39,4°C. Kulit, rambut, selaput lendir, kelenjar-kelenjar limfe, sistem pernafasan, sistem peredaran darah, sistem kelamin dan perkencingan, sistem syaraf dan anggota gerak tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Kebengkakan dan warna merah pada palpebrae mungkin disebabkan oleh iritasi ataupun trauma yang memicu adanya respon radang yang ringan, namun kucing tidak mengalami gangguan fungsi penglihatan yang berarti.
Gejala diare seperti sisa feces atau kotoran di daerah ekor atau pantat tidak ditemukan dan pengambilan sampel untuk memeriksa konsistensi dan sifat feces juga tidak dapat diperoleh karena sampel yang didapat hanya sedikit. Sedangkan pada pemeriksaan sistem pencernaan ditemukan hasil gerakan peristaltik yang lemah. Hasil ini berlawanan dengan teori bahwa pada diare akan terjadi peningkatan frekuensi, fluidity, dan volume feces karena peningkatan kandungan air pada feces. Hal ini mungkin terjadi dikarenakan isi perut yang sudah relatif kosong karena pasien tidak mau makan selama 2 hari sebelumnya.
Hasil dari pemeriksaan feces menunjukkan hasil positif ditemukan telur Ancylostoma. Maka diare pada pasien diduga dikarenakan manifestasi Ancylostoma atau Ancylostomiasis. Ancylostoma merupakan cacing yang menginfeksi mukosa usus halus dan menyebabkan efek perdarahan, hilangnya vili usus halus, gangguan absorbsi makanan, memicu anemia radang usus dan diare, serta penekanan respon imunitas.
Hasil pemeriksaan darah juga mendukung diagnosa. Penurunan hematokrit/PCV menunjukkan gejala anemia, meskipun tidak disertai penurunan kadar hemoglobin dan eritrosit. Walaupun kadar hemoglobin dan eritrosit tidak menunukkan penurunan, namun dengan penurunan PCV sudah cukup untuk membuktikan adanya anemia. PCV merupakan komponen yang paling akurat dalam menentukan anemia, dalam penghitungan kadar hemoglobin dapat terjadi kemungkinan polisitemia dan kekurangan oksigen, sedangkan dalam penghitungan manual eritrosit kemungkinan human error sangat besar. Penurunan MCV dan nilai normal dari MCHC menunjukkan tipe anemia yaitu mikrositik normokromik. Hal ini mungkin dikarenakan manifestasi cacing Ancylostoma yang menyebabkan hemoragi pada intestinal.
Gambaran perbandingan total protein dan fibrinogen menunjukkan gejala dehidrasi yaitu 8,5:0,2 > 10:1. Dehidrasi terjadi karena diare yang membawa cairan keluar dari tubuh secara berlebihan.
Pada perhitungan diferensial leukosit didapatkan hasil leukositosis, neutrofilia, dan limfopenia. Leukositosis dan neutrofilia menunjukkan adanya infeksi dan hemoragi akut, mungkin disebabkan oleh adanya parasit dalam tubuh yang memicu leukosit dalam peran pertahanan tubuh. Neutrofilia juga dapat disebabkan karena pengambilan darah yang menyebabkan kucing stres dan memicu keluarnya neutrofil marginal menuju sirkulasi, sehinggga gambaran neutrofil tampak meningkat. Gambaran limfopenia menunjukkan adanya kebutuhan limfosit yang sangat meningkat pada jaringan.
Diare terjadi pada kasus Ancylostomiasis karena cacing ini menginfeksi mukosa usus halus. Oleh gigitan cacing, yang sekaligus melekat pada mukosa, segera terjadi perdarahan yang tidak segera membeku karena toxin yang dihasilkan cacing. Cacing dewasa biasa berpindah-pindah tempat gigitannya, sehingga terjadi luka yang mengucurkan darah segar. Darah yang mengucur ke dalam lumen akan keluar bersama tinja sehingga tinja berwarana kehitaman atau biasa disebut melena. Infeksi cacing ini juga menyebabkan hilangnya vili usus halus dan mengakibatkan gangguan absorbsi makanan serta diare.
Terapi terhadap pasien difokuskan pada terapi causative yaitu mengatasi manifestasi cacing Ancylostoma. Gejala diare tidak terlalu dikedepankan karena meskipun lemah namun hewan masih waspada dan mampu beraktifitas tanpa gangguan yang berarti. Terapi yang dilakukan adalah injeksi Delladryl 10% 10 mg/kg berat badan. Delladryl mengandung diphenhydramine yang berperan sebagai antihistamine. Kerja diphenhydramine adalah memblok efek histamin pada reseptor histamin. Dengan berat badan 1, 3 kg maka Delladryl yang diberikan adalah : 0, 13 ml. Kemudian diberikan Vitamin B-complex. Vitamin B complex merupakan vitamin larut air yang penting bagi anjing dan kucing. Sejumlah kecil vitamin B diperlukan oleh tubuh, beberapa diantaranya dapat disintesis oleh bakteri pada lumen usus. Vitamin ini merupakan komponen enzim dan koenzim sehingga sangat penting peranannya dalam fungsi fisiologi dan biokimia normal. Vitamin B penting dalam pertumbuhan, reproduksi, imunitas, fungsi syaraf, mata, jantung, dan kulit.
Untuk mengatasi cacing digunakan Pyrantel pamoat. Pyrantel pamoate merupakan obat cacing yang paling umum dipakai untuk anjing dan kucing. Pyrantel pamoate beraksi pada sistem syaraf parasit dan menyebabkan paralysis dan kematian cacing. Dosis pyrantel pamoate adalah 2, 5-5mg/pound (5-20mg/kg), diulang dalam 3 minggu. Dengan berat badan 1, 3 kg, maka Pyrantel pamoat yang diberikan dengan konsentrasi sediaan 125 mg adalah : 0, 2 ( 1/5) tablet. Diharapkan dengan mengobati penyebab yaitu cacing Ancylostoma, maka diare akan teratasi.