Monday, June 28, 2010

Kulit Tubuhnya Mengkilat

Hampir saban malam, tidur di rumah tak pernah dilakukannya. Ya, katakanlah sangat jarang. Justru tidur siang masih agak kerap, ketika usai sekolah pagi harinya.
Lantas dimanakah aku melonjorkan tubuh jika hari sudah gelap? Sejak duduk di kelas IV SD, kelompok teman-temanku yang rajin ke surau, ternyata berpengaruh besar terhadapku. Tak cuma bila sedang sembahyang lima waktu aku berada di sana, tapi tidur malam pun kujalani dengan setia di bangunan berpanggung itu. Meski tanpa kasur, bahkan bantal sekalipun.
“Seperti tidak punya rumah saja kau, Mir!” begitu bapakku sering bilang. “Mestinya kamu bisa mengatur. Misalnya, empat hari tidur di rumah tiga hari di surau, atau lakukanlah sebaliknya.”
Saran bapakku tadi cukup bagus, lantaran ada semacam keseimbangan. Namun buatku yang mengalami amat berat mematuhinya. Bayangan kesepian bila tidur di rumah, selalu menggumpal di hati. Sendau gurau, ngomong ngalor ngidul maupun belajar bersama, terasa nikmat dan tak mudah kutinggalkan.
Dari seringnya menghayati kehidupan di surau itu berbagai pengalaman kusadap malah sebagian kebiasaan hingga aku melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Kuakui juga pengalaman itu ada yang jelek meski yang baik lebih banyak jumlahnya.

Sebagaimana biasa, sekitar jam 10 malam kami mulai berbaring untuk tidur. Sekitar belasan murid SD yang semuanya laki-laki itu menggerombol di sudut-sudut surau. Malah ada pula yang terpuruk di bagian luar, tapi juga selalu bergerombol. Hanya bila malam minggu atau kebetulan besoknya libur, kami suka bergadang hingga menjelang larut malam. Maklum jam 4 pagi harus bangun buat sholat subuh yang wajib ditunaikan.
Malam itu cuaca amat dingin. Baru jam 9 teman-teman sudah mulai menempatkan diri melonjorkan tubuh. Kendati masih terdengar bisik-bisikan sesekali tawa meledak, namun sebagian banyak nampak segera ingin tidur. Sorenya hujan emang turun amat deras, malah sudah sejak siang harinya. Lamanya berhujan-hujan barangkali yang membuat teman-teman kecapekan.
Aku sendiri merasa sudah jatuh tertidur tatkala belum sepuluh menit dari saat aku mengonggokkan tubuh di dekat mikrab*. Amat pulas rasanya dengan tanpa jaga sekalipun, sampai pantatku diguncang-guncang entah oleh siapa.
“Mir.. Amir! Bangun, bangun! Ada maling di rumahnya Pak Surat,” suara berbisik agak bergetar tertangkap di telingaku. “Ayo keluar, yang lain sudah menunggu,” desak suara lirih itu yang kemudian membuatku berdebar. Wahab ternyata yang mebangunkanku.
“Untuk apa?” gumamku bingung sebab baru pertama mengalami kejadian semacam itu.
“Ah jangan banyak cakap, ayo cepat,” bentak Wahab seraya menarik sarungku biarpun dengan suara perlahan. “Kita harus siap sedia kalau-kalau..,”
Bersambung.......