Thursday, June 10, 2010

Renang, Obat Takut

Ini juga punya bapakku, he2... Dimuat di Majalah Mingguan Anak-Anak Ananda No 49 Th XI 8-14 Desember 1989 Harga 900 Halaman 10-11


Renang, Obat Takut

Prapto masih ingat, waktu di TK ia sering terkesiap jika melihat sungai yang meluap. Setiap Sabtu, ketika Bu Darti mengajak semua muridnya berjalan-jalan, ketakutannya menyelinap saat lewat sungai di tepian kota.
Tatkala sudah duduk di SD, seharian waktunya ia pakai untuk bermain sampai sudut-sudut kampung sekitar, terutama bila ia ta bersekolah. Juga mulai punya kesenangan dan hampir setiap hari ia ke kali kecil yang disebut orang saluran irigasi.
Kegemaran ini dilakukannya pada waktu kapan pun. Usai sekolah pada siang yang terik, sore menjelang gelap atau bahkan pagi sekali pun, jika pelajaran kosong lantaran gurunya rapat. Pokoknya jika ada kesempatan, main-main di saluran keruh itu, nyaris tak pernah terlupakan.

Sebagai kota kecil tingkat kabupaten, di tempat bermukim Prapto memang tersedia pemandian umum yang memiliki kolam renang untuk anak. Tapi karena membayar dan letaknya di ujung terjauh pojok kota, tak terpikir olehnya untuk pergi kesana.
Untunglah di dekat kampung ia tinggal, terdapat pintu air yang membagi saluran jadi bercabang, sehingga di bagian bawah aliran airnya agak jernih. Di situlah Prapto bersama temannya berselancar, terjun, berendam, dan menyelam, meskipun kedalaman airnya tidak sampai satu meter.
Dari tempat yang jelas kurang sehat itu, selang beberapa bulan kemudian beralihlah kegiatan serupa ke sungai yang lebih besar. Hal itu bukan sebab ada yang sakit perut atau selesma kemasukan air akibat sembur-semburan, namun karena air terasa kian dangkal jika kemarau tiba. Lantas mereka memberanikan diri ke sungai di tepi kota. Pertimbangannya, sungai yang airnya meluap di musim hujan, tentunya telah surut dan arusnya tidak deras di musim kemarau.
Pada mulanya Giman, slah seorang di antara mereka yang terbesar punya usul, “Ayo kita ke sungai di utara sana. Aku nanti yang mencoba masuk air dulu, untuk memeriksa kedalaman sungai. Sedang kamu yang pendek-pendek, baru mencebur setelah tahu mana tempat yang aman buat bermain.”
“Jika terperosok dibawa arus bagaimana?” sanggah yag lain, lantaran masih kuatir.
“Oh ya, kita cari saja bagian sungai yang dikelilingi bebatuan. Sebagai pembatas agar tak hanyut!” tukas Giman menyakinkan teman-temannya supaya tak celaka. Maklum, sebagian dari mereka memang belum bisa berenang, kendati sudah mahir menyelam dan meluncur, berkat pengalaman yang dimiliki. Yakni dengan menjejakkan kaki dari pinggiran sebelah menyebelah saluran, yang lebarnya sekitar lima meter itu.
Mereka menyambut usul Giman mereka lalu ramai-ramai pindah ke sungai di tepi kota itu. Prapto yang sebetulnya kurang yakin atas kemampuan dan keberaniannya, terpaksa ikut pula. Masa sih aku harus bermain sendiri di kali yang dangkal itu, tanya Prapto dalam hati. Memalukan! Gumamnya tanpa suara, berupaya meneguhkan diri.
Ternyata di sungai yang lebarnya dua puluh meter lebih itu, terdapat beberapa tempat yang dangkal. Yang aman terlindungi bongkahan-bongkahan batu seperti yang disebut Giman, ada pula disana-sini. Di tempat yang terakhir ini, banyak anak-anak berkubang, berlatih renang.
Dari pengalaman beberapa kali ke sungai pinggir kota itu, peningkatan keterampilan bermain air, barulah terasa bagi Prapto. Kendati semula hanya kebetulan dan terpaksa, ternyata faedahnya. Genangan air setinggi leher atau bahkan lebih dalam, tak takut lagi ia menceburi. Meski pernah tenggelam megap-megap kemasukan air pada awal-awalnya. Sebab di kawasan aman yagn dilingkupi bebatuan, giman dapat menolongnya dengan menyodok tubuh Prapto, agar menyentuh batu di dekatnya sehingga bisa berpegangan.
“Untung aku bisa bergayut dan tak lepas,” terengah seraya gemetar Prapto ketika itu, lalu terduduk di tepian tebing dengan perasaan malu.
“Istirahat dulu... nanti lagi!” seru temannya cekikikan. “Biasanya habis tenggelam, kian lekas dapat berenang,” tambahnya lagi. Dan memang benar, sebab Prapto pernah mengalaminya.
Ia baru yakin benar-benar bisa berenang setelah lebh belasan ali pergi ke sungai. Yakni, tatkala sudah berani menempuh air ke pesisir sungai di seberangnya, biarpun Prapto acap mencari lebih dulu jarak yang tak begitu jauh sebelum melintasi arus sungai.
Di belakangan waktu usim huja tiba, dan air sungai melimbah bagaikan bah, ia dan kelompoknya masih pula main-ain ke sana. Acaranya, sudah berganti, yakni mengail dari tepian. Baru mandi setelah memancing.
Sekarang Prapto sudah tidak lagi terkesiap bila memandang luapan sungai. Apakah karena usianya telah bertambah dan tubuhnya tak kecil seperti waktu di TK? Keterampilan bisa berenang itulah yang diyakini Prapto telah menumbuhkan keberaniannya.
M. Har Harijadi