Paling tidak di kursi nomer empat ke belakang, tapi di paling buntut aku juga menghindar tak meduduki. Itu jawaban bila orang menanya bagaimana strategiku jika pergi naik kendaraan umum. Di kawasan agak tengah begitulah!
Sambil masih menyesali kenapa dapat duduk di kursi depan meski dibatasi jok mesin, aku bersedekap memandang jalan lurus yg terbentang disoroti sepasang lampu bis yang kutumpangi. Rasanya tak tega atau takut mengubah pandanag ke arah lain. Juga kepada Dulah di kiriku.
Tatkala naik di halte, penumpang sepertinya penuh jika tidak malah berdesakan. Namun kenapa tak ada suara berisik terdengar, misalnyaberceloteh atau berkisah. Padahal ada juga perempuan bahkan anak-anak. Dan sejenak kemudian, seperti perahu oleng tiba-tiba kurasakan setelah mencoba bersandar.
Jalan memang nampak licin dan mengkilap lantaran habis hujan. Kadang masih diseling rintik dengan sisa kilat tanpa gemuruh halilintar. Biasanya aku sudah menguap bila telah mendapat tempat duduk di atas bis apalagi malam hari. Akan tetapi tidak untuk kali ini.
Sopir yg mengendarai dan menyeretku kemana dia injak gas, kurasa sudah terpental. Tampak ia bergeleparan, kendati tak ada sinar selain bintang di langit. Kemudian ada suara mengerang. Suara merintih. Gaduh di sebelah belakang. Bergerombol orang-orang datang. Entah dari mana. Saya selamat, walau berada dalam kamar rumah sakit. Masih bingung, kupandangi sejumlah masih pada tidur.
-Ayo Mas cepat! Masih gerimis!-, suara memerintah itu kuikuti meski pantat terasa masih lekat. Dulah yg turun duluan menutupi rambut kepalanya degan koran, kukejar dari belakang untuk turut bernaung di bawah koran yg dibawanya. Kotaku sudah sepi ketika mencari becak, dan ternyata aku tadi hanya berhalusinasi tentang situasi kecelakaan yg sedang menimpaku. Kambing hitamnya sudah barang tentu, sopir yg bikin gara2 mengemudi tak meyakinkan memegangi setir.
-Seperti tak bernafas tadi,- kataku mendengus sambil ngos2an.
-Sama kalau gitu. Sembrono sekali! Barangkali sopir pengganti atau keneknya itu tadi. Aku kira kau tidur!-
-Justru kamulah yg aku kira bisa lelap, sebab bukankah kau sudah acap kali menyetir dan biasa main2 kendaraan,- sahutku menimpali.
Jadi memang sama2 tegang selama satu jam barusan. Tak heranlah rokok yg kupegang sampai mati sendiri tanpa kuhisap, dan baru kubuang puntungnya sewaktu turun. Sedikit saja beringsut seakan2 ada rasa takut atau terganggu, dan tulang2 tubuh jadi kaku tak dapat digerakkan samapi mau menggumam saja berat serta melirik mata orang terdekat terpaksa harus diurungkan.
Padahal jarak tempuh bis kep***t itu masih dua kali lebih dengan yg baru saja kualami. Betapa tersiksanya penumpang yg sarafnya tak membaja atau jiwanya tak mau pasrah.
-Jika tak bersamamu, sudah turun aku kira2 di Glodok,- gumam temanku lirih seperti terpaksa.
-Masak iya to Dul?,- sahutku seraya menyangsikan perkataannya yg kurasakan janggal.
-Mungkin, aku tadi malu, hingga keinginan memperbincangkan denganmu mengomentari ulah sopir yg menghawatirkan itu tak jadi kulaksanakan. Alias diam membungkam,- ujar Dulah.
-Padahal hati ketar-ketir dan jantung hampir copot,- selorohnya kemudian.
Memang aku tidak mendengar ia berkomentar tau bergeming tadi. Malahan isyarat atau tanda2 kegugupannya juga tak kutangkap. Yang ada, hanya asap rokok dari sopir gi*a yg membanting ke kiri dan kanan sambil melarikan gerobak bermesin itu. Dan selebihnya, se----nyap, kendati mesin terus menderu dan gemeretak.
Ketika aku memasukkan anak kunci dan kemudian membuka pintu rumah, Dulah mengatakan tak jadi terus pulang. Menginap. Keesokannya baru dia pamit pagi2. Namun dengan sengit kami berdua menggerutui sopir si***n hingga dini hari. Istriku sampai terbangun mendengar lampiasan rasa yg tersekat dan larut malam itu dihabiskan tercurah bagai semangat.
M. Har Harijadi 1985
Well, ternyata cerita dewasa ya..., plotnya kayak cerpenku nih, halusinasi, wuw...