Thursday, June 10, 2010

Harapan Terakhir part2

Entah mimpi apa aku tadi malam sampai-sampai untuk buang air kecil saja aku harus susah payah seperti ini. Lihat! Antreannya sampai satu.., dua.., tiga.., ...lima orang! Tubuhku lemas, ingin berteriak, tapi yang keluar cuma hembusan nafas kesal dan lelah.
“Aku tunggu di sini ya, kamu cepatlah mengantre nanti jadi tambah banyak” ujar kawanku tanpa menunggu jawabanku sambil beranjak duduk di sebuah kursi di depan kelas.

“Egrh.....” aku tetap menjawab walau dengan gumaman tak jelas.
Dengan langkah gontai selayaknya orang berpuasa, aku bergabung dengan antrean itu. Berdiri paling belakang kutatap punggung-pungung orang yang bernasib sama denganku, jumlah yang mengantre sekarang menjadi genap enam orang.
Teet... teet... teet…. Ah.., aku mendengar suara bel, walau sama-sama suara bel, bel yang ini sama sekali tak melegakanku, mungkin juga bagi semua anak di sini. Kutengokkan kepalaku, menatap wajah kawanku, meminta pendapatnya.

“Tak apa, kita masuk belakangan saja” teriaknya menjawab pertanyaan yang terukir di wajahku.
Aku mengangguk setuju dan sejurus kemudian membalikkan kepalaku ke posisi semula. Kalaupun nanti dimarahi guru karena terlambat, dia pasti akan membantah dengan sejuta alasan yang meyakinkan sehingga gigi keduanya kering karena air ludah keduanya habis karena kebanyakan bicara. Lalu sang guru akan kelelahan dan membiarkan kami duduk tanpa ada kata-kata yang tersisa lagi. Lagipula sepertinya guru tak akan mau repot-repot memarahi kami, buang-buang tenaga saja. Kau tak perlu khawatir, kataku pada diriku sendiri.
Lelah mengantre berdiri, aku duduk jongkok. Kutaruh satu tanganku di lutut dan satunya menopang daguku. Sial!! Kenapa lama sekali?!? Ingin terus menggerutu namun aku kemudian teringat kalau aku sedang berpuasa.
Dok...dok...dok... Terdengar gedoran tergesa. Gedoran dari dalam toilet. Ada apa lagi sih? Ingatanku akan puasa kembali menguap.
Lelah mengantre berdiri, aku duduk jongkok. Kutaruh satu tanganku di lutut dan satunya menopang daguku. Sial!! Kenapa lama sekali?!? Ingin terus menggerutu namun aku kemudian teringat kalau aku sedang berpuasa.
Dok...dok...dok... Terdengar gedoran tergesa. Gedoran dari dalam toilet. Ada apa lagi sih? Ingatanku akan puasa kembali menguap.
“Tolong! Pintunya tak bisa dibuka” sahut suara anak perempuan panik dari dalam toilet.
Yang di luar saling bertatapan, terkejut tanpa kata. Aku menggerutu dalam hati, menolak untuk bertatapan dengan anak kelas satu.
“Tenang! Coba kau buka lagi kuncinya pelan-pelan” anak laki-laki paling depan memecah keterkejutan, mencoba menenangkan, menawarkan solusi.
Ada suara krek-krek-krek sebentar tapi berhenti.
“Tak bisa, kuncinya macet, tak bisa dibuka, tolong!” sahut yang di dalam semakin panik.
Tanpa disuruh antrean pun bubar, semua mengerubungi pintu toilet, kecuali aku yang masih bengong dan menggerutu dalam hati di tempat antreanku.
“Bagaimana ini? Kita dobrak saja?” anak laki-laki tadi meminta pendapat anak-anak lainnya.
“Ya...ya.., tolong cepat didobrak, aku tak tahan lagi disini!” yang di dalam menyahut cepat walau tak dimintai pendapat.
Semua menganggukkan kepala sebagai tanda setuju. Anak perempuan menyingkir dari pintu dan anak laki-laki berkumpul hendak mendobrak pintu toilet itu.
“Kau agak menyingkirlah, agar tak terkena pintu” sahut anak laki-laki pencipta ide mendobrak.
“Ya!” sahut yang di dalam pendek, suaranya bergetar.
“Siap?” tanya anak laki-laki itu pada anak laki-laki yang lain.
Semua wajah tegang itu mengangguk berbarengan. Kompak banget sih, aku masih saja menggerutu.
“Satu.., dua.., tiga...” kata anak laki-laki itu memberi aba-aba.
Duak!!!!!! Suara dobrakan itu keras sekali, namun pintu toilet tetap tak bergeming.
“Sekali lagi!!” sahut anak laki-laki itu lagi.
Wajah-wajah tegang itu mendobrak pintu sekali lagi sambil diawasi anak-anak perempuan yang ngeri.
Duak!!!!! Suara dobrakan yang ini lebih keras dari suara dobrakan yang pertama.
Hei hei hei, aku baru tersadar dari gerutuanku. Kalau pintu itu didobrak, bagaimana kalau tak hanya terbuka tapi pintu itu lepas semua. Bagaimana pula kalau engselnya tak kuat menahan dobrakan gerombolan pendobrak itu. Di mana aku bisa buang air kecil??? Oh.., jangan!!! Jangan rusak toilet harapan terakhirku. Dengan panik kuhampiri gerombolan pendobrak itu. Lebih baik hubungi penjaga sekolah saja, atau cleaning service sekolah, atau kepala sekolah. Siapa saja boleh asal toilet ini tetap utuh.
Tapi terlambat!!! Pintu toilet telah berhasil didobrak dan seperti yang kutakutkan, pintu toilet itu sampai terlepas dan teronggok di sudut belakang toilet, menimpa bak air dan tak berbentuk lagi.
Busyet!! Makan apa gerombolan pendobrak itu!! Tak kusangka nasi pecel di kantin mengandung begitu banyak kalori.
Si anak perempuan yang tadi terkurung berlari keluar toilet dengan wajah pucat tapi berseri-seri. Saking senangnya dia memeluk salah seorang dari gerombolan pendobrak itu. Yang dipeluk bingung tapi kelihatannya tak keberatan.
Tiba-tiba saja semua orang itu membubarkan diri, si anak perempuan terkurung dan gerombolan pendobrak serta anak-anak perempuan yang berwajah ngeri. Sudah lupa semua dengan hajatnya untuk buang air kecil. Kini tinggal aku sendiri menatap toilet dengan pandangan kosong. Bagaimana ini? Toilet satu-satunya, telah musnah sambil membawa sisa-sisa harapku. Musnah, tak bisa kucegah, sama sekali.
“Heh! Jadi tidak? Sudah kosong tuh!” suara kawanku mengejutkanku.
“Astaghfirullah!!” sahutku tersadar dari lamunan.
Apa-apaan aku ini. Hanya karena mengantre toilet saja aku sampai melamun yang tidak-tidak. Kutengok toilet itu. Masih utuh, menungguku masuk ke dalam. Konyol sekali aku ini, aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.
Leganya hatiku, toilet ini masih utuh, pintunya masih terpasang rapi. Sambil tersenyum sendiri, kututup pintu toilet. Menghela nafas lega dan berputar anggun di tempat. Dan tanpa sengaja menengok bak air. Hah!!! Ya ampun…!!!! Aku benar-benar menggerutu sekarang. Ternyata sia-sia saja perjuangan dan penderitaanku mencari toilet hingga terbawa lamunan. Air di toilet ini telah tandas tak tersisa.