Thursday, June 10, 2010

TERIMA RAPOR DI RUMAH

Ini ada lagi koleksi cerpen anak-anak punya bapakku. Tapi ga jelas apa sudah pernah dimuat atau belum. Check it out...!



TERIMA RAPOR DI RUMAH

Setiap hari Sabtu minggu terakhir bulan Oktober, konon merupakan ujung waktu murid-urid masuk sekolah. Hari itu dibagikan rapor untuk kurun masa pelajaran Cawu I. Sesudah itu, selama seminggu anak-anak akan menikmati masa liburan.
Biasanya di hari terakhir tersebut, orangtua atau wali murid diundang ke sekolah. Kadang-kadang juga tidak, tapi langsung rapor dibagikan kepada siswa, dipangil satu persatu.
Di sekolah Timbul kali ini ada perkecualian. Hal itu lantaran di kelas 5 SD Kauman, tempat Timbul bersekolah, guru kelasnya baru. Pak Bardi memang masih muda dan baru mulai bekerja sekitar tiga tahun belakangan. Sedangkan mengajar di kelasnya Timbul menginjak tiga bulanan ini. Dulu, di SD Klampisan dekat kawasan hutan, sebelum pindah ke SD Kauman.
“Oh, Pak Bardi..., maaf pak rumahnya kotor,” ujar Timbul terbata-bata. “Ada apa pak, mencari saya?” lanjutnya.

“Orangtuamu tidak pergi? Saya mau silaturahmi,” tutur guru kelas 5 SD itu singkat.
“Sebentar pak, saya panggilnya. Tadi ayah di belakang sedang memperbaiki selokan limbah. Kalau ibu, di tetangga sebelah.”
Grogi juga Timbul, hingga lupa ia tidak menyilakan duduk pada gurunya. Tak kehilangan akal, Pak Bardi lanatas mondar-mandir di beranda, memandangi bunga-bunga yang ada di taman dekatnya. Tangannya tampak memegangi majalah yang dibawanya dari rumah.
“Wah, mari pak duduk! Kok tidak disilakan terlebih dulu tadi oleh Timbul..., maaf lho, “ tutur ayah Timbul. Baru kemudian, ibunya menyusul.
“Agaknya bapak orang yang rajin, “ cetus Pak Bardi mengawali pembicaraan. “Tanaman bunganya amat menarik dan menyejukkan mata, “ sambung pak guru itu memuji Pak Karto.
“Aduh, saya nati bisa besar kepala, sahut ayah Timbul. “Daripada dibiarkan kososng, mending ada tumbuhannya”.
“Begini pak, kedatangan saya sore ini ada perlunya sedikit. Tapi mungkin juga janggal, mengingat besok ada penerimaan rapor. Tak apalah, ini memang sudah niat saya. Rapor murid-murid akan saya berikan langsung di rumahnya masing-masing, begitulah Pak Bardi menyampaikan maksud kedatangannya.
Betapa gembiranya orangtua Timbul, sampai seakan tak berkedip, mendengar penuturan pengasuh sekolah anaknya tersebut. Heran campur bangga, bahwa ada guru yang sangat memperhatikan siswa-siswanya.
“Kok tidak kami saja..., yang dipanggil ke sekolah?” kata Pak Karto. “Kami tidak keberatan lho pak, di waktu lalu kan pernah begitu, “ sambungnya kemudian.
Malah Bu Karto juga ikut menimpali : “Saya pikir, nanti rapornya akan diterima sendiri oleh murid-murid”. Sepertinya orangtua itu merasa bersalah. Kenapa seorang guru sekolah, harus berpayah-payah.
”Ya, ya..., saya memang harus minta maaf kepada bapak ibu, tapi..., seperti tadi saya katakan, ini memang niat saya pribadi, “ ungkap Pak Bardi menjelaskan. “ Karenanya mohon tak berprasangka buruk, ini pun saya telah berkonsultasi dengan Kepala sekolah. Beliau sudah mengijinkan”.
Timbul yang mendengarkan perbincangan dari ruang dalam, merasa bersuka cita pula. Namun setelah itu, berdegup juga detak jantungnya, lantaran was-was apakah peringkatnya masih bagus. Dulu memang termasuk sepuluh terbesar di kelasnya, yakni pada peringkat atau rangking ketujuh.
“Lantas anak kami prestasinya bagaimana, pak?”
“Syukurlah, ternyata timbul naik prestasinya, biarpun belum mencapai puncak. Dibanding saat di kelas empat dulu, ada kemajuan pesat. Kini peringkatnya menjadi ketiga di kelasnya. Selamat pak.., bu...!” tukas wali kelas itu sembari berdiri menyalami mereka.
“Terima kasih..., terima kasih.., “ serentak kedua orangtua itu berucap seraya menyambut uluran tangan Pak Bardi.
Kemudian pak guru itu mengambil buku rapor timbul yang diselipkan pada majalah yang dibawanya. Lalu diserahkan pada Pak Karto. Sedang ibu Timbul segera bergabung mendekati suaminya, untuk kemudian bebarengan mencermati angka-angka rapor yang berbentuk buku warna biru itu. Pada saat asyik-asyiknya mereka mengagumi nilai yang diperoleh anaknya itulah, Pak Bardi menyela mohon pamit.
Hanya sekitar sepuluh menit termasuk untuk basa-basi, Pak Bardi berada di rumah keluarga seorang muridnya. Kendati jarak rumah itu dengan sekolah tak sampai setengah kilometer, pak guru berpikir alangkah sedihnya bila tak pernah berkunjung ke sana. Sebab itu disempatkannya, walau cuma sebentar-sebentar, bersilaturahmi atau menjalin hubungan baik, di saat yang dianggapnya cukup tepat itu.