SORE ITU ANGIN BERHEMBUS KENCANG SEKALI part2
Pagi itu sepi dan dingin. Masih pagi sekali ketika kami sampai di sana. Bapak membiarkanku masuk sendiri, dia menunggu di luar, sambil ngopi barangkali. Aku berada di Kotamadya, acara verifikasi pendaftaran sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka tepatnya. Teman-teman sekolah yang mengikuti acara ini kebanyakan pergi naik sepeda motor, sehabis acara ini mereka pergi ke mall, aku rasa, karena di kota kecilku tidak ada mall. Teman-teman yang dekat denganku tidak ada yang mengikuti acara ini, mendaftar di perguruan tinggi ini layaknya bunuh diri bagi mereka. Maka aku pergi bersama bapak karena aku tidak berani membawa motor sampai keluar kota. Mungkin aku satu-satunya anak yang mendaftar yang diantar bapaknya, atau mungkin ada yang lain tapi aku tidak mengetahuinya. Aku senang sekali, bapak mau mengantarkan aku, kami berdua pergi berdua seperti mau dolan saja. Naik bus pagi-pagi sekali, sampai di tempat acara nomor pertama, dan pulang nomor pertama.
Pagi itu sepi dan dingin. Masih pagi sekali ketika kami sampai di sana. Bapak membiarkanku masuk sendiri, dia menunggu di luar, sambil ngopi barangkali. Aku berada di Kotamadya, acara verifikasi pendaftaran sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka tepatnya. Teman-teman sekolah yang mengikuti acara ini kebanyakan pergi naik sepeda motor, sehabis acara ini mereka pergi ke mall, aku rasa, karena di kota kecilku tidak ada mall. Teman-teman yang dekat denganku tidak ada yang mengikuti acara ini, mendaftar di perguruan tinggi ini layaknya bunuh diri bagi mereka. Maka aku pergi bersama bapak karena aku tidak berani membawa motor sampai keluar kota. Mungkin aku satu-satunya anak yang mendaftar yang diantar bapaknya, atau mungkin ada yang lain tapi aku tidak mengetahuinya. Aku senang sekali, bapak mau mengantarkan aku, kami berdua pergi berdua seperti mau dolan saja. Naik bus pagi-pagi sekali, sampai di tempat acara nomor pertama, dan pulang nomor pertama.
Sore itu hujan, aku sendirian di kost, tidak ada kerjaan dan terkantuk-kantuk. Hapeku berbunyi, kamu ke kost abang, bapak mampir sebentar. Dari bapak. Aku bergegas ganti baju, mengambil payung, berjalan berjingkat menghindari genangan air menuju kost abangku. Bapak belum sampai disana. Kata abangku, bapak ada acara di Jogja, karena naik mobil kantor maka hanya akan mampir sebentar. Hujan sudah mulai reda, ketika sosok bapak muncul dengan membawa kardus kecil. Aku dan abangku menyambutnya. Ini titipan ibumu, katanya sambil menyorongkan kardus yang dibawanya. Lalu bapak mengeluarkan lima puluh ribuan dua, ini sangu buat kalian, tambahnya. Lalu kami mengantar bapak sampai mobil, bapak duduk di depan dekat sopir. Kardus kecil titipan ibu berisi ayam goreng dan perkedel tahu, kami makan berdua dengan lahap, maklum anak kost yang kekurangan makanan bergizi.
Malam itu aku sendiri, sehabis shalat tarawih dan mengaji. Masih memakai mukena lengkap, menghadap laptop, mengetik cepat-cepat. Laporan ini harus dikumpul besok. Hapeku bergetar-getar, sepupuku menelepon, tumben. Aku harus pulang sekarang, bapak kecelakaan. Telpon kututup, kuteruskan mengetik, ada-ada saja bapak ini, pikirku, kecelakaan dimana, aneh-aneh saja, pikirku lagi. Satu dua kalimat terus kuketik, pikiranku mengusik, perasaanku janggal, bapak tidak akan apa-apa kan, tapi kenapa aku harus pulang sekarang. Kucoba menelepon rumah, tidak diangkat. Kucoba lagi, kali ini diangkat. Halo?, aku tidak mengenal suaranya, bukan suara ibu atau bapak. Aku mencari ibu, kusebut nama lengkapnya, aneh. Yang mengangkat telpon menjawab, ibu tidak ada, bapak meninggal. Aliran darahku serasa terhenti seketika, jantungku serasa tidak berdetak. Namun kemudian jantungku berdetak lagi, semakin kencang, kencang sekali. Telpon kututup, jantungku masih berdetak kencang sekali.
Malam itu sepi sekali, aku pulang bersama abangku naik bus. Kami banyak diam. Tangisku meleleh tiap kali aku menyekanya. Abang hanya berkata, doakan bapak, lalu dia diam lagi. Aku tertidur karena kelelahan menangis, namun tidak lama terbangun lagi. Lalu tangisku meleleh lagi, kali ini kubiarkan saja, tidak kuseka, disampingku abangku tertidur miring. Begitu terus sampai kami tiba di kota kecil kami. Abang memelukku erat ketika kami sudah sampai di rumah, pukul satu dini hari, di rumahku yang terang benderang dengan bendera putih terpasang di tiang di depan rumah. Aku lemas sekali, tapi aku tidak pingsan. Aku memeluk ibuku, adikku, abangku, tangisku berderai-derai seperti sungai.
Barisan pohon berlari, bus melewati hutan di perbatasan provinsi, aku sudah membayar ongkos perjalanan ke Jogja pada kondektur kurus itu, air mataku menetes sekali lagi, sekali lagi. Kuseka, namun menetes lagi. Aku rindu bapak... Aku menangis lagi.
Jogja, 24 Februari 2008, 22.05
Teruntuk bapakku, M. Har Harijadi, disana, aku sungguh-sungguh rindu.