Sunday, June 20, 2010

Case Report Kaskado dan Strongylosis pada Sapi PFH di Koperasi Warga Mulya Candibinangun Pakem

Dilakukan pemeriksaan terhadap sapi di Koperasi Warga Mulya Pakem Sleman Yogyakarta pada tanggal 23 November 2007 dan 30 November 2007, merupakan sapi PFH dengan berat badan ±300 kg. Pada pemeriksaantanggal 23 November 2007, hasil dari pemeriksaan fisik adalah sapi dapat berjalan normal, rambutnya rontok dan pada kulit terdapat lesi dan tampak kotor. Didapatkan pula lesi pada mata yaitu penebalan di daerah mata. Konjungtiva berwarna merah muda; hidung basah, lembab, hangat; vulva berwarna merah muda.
Refleks pupil normal, aktivitas otot dan saraf baik. Tidak terjadi pembengkakan kelenjar limfe pada limfoglandula parotidea, limfoglandula cervicalis dan limfoglandula prescaularis. Pernafasan berlangsung secara thoracoabdominal (normal). Refleks syaraf baik. Urinasi baik, tidak ada leleran lendir atau darah dari vulva. Sapi dapat berdiri dengan 4 kaki. Saat diperiksa, sapi terlihat stress, frekuensi nafas 32 kali/ menit, frekuensi pulsus 56 kali/menit dan suhunya 39,2o C. Gerak rumen 7x setiap menit. Feses yang dikeluarkan konsistensinya lunak dan dengan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut dengan metode Sentrifuge ditemukan adanya telur Strongyl.
Pada pemeriksaan tanggal 30 November 2007, didapatkan hasil pemeriksaan fisik yang sama dengan pemeriksaan sebelumnya kecuali frekuensi pulsus yang menurun yaitu menjadi 36 kali/menit, konsistensi feses menjadi agak keras dan lesi pada mata sudah mulai mengering. Pada pemeriksaan feses di laboratorium tidak ditemukan adanya telur Strongyl ataupun telur cacing yang lain.
Dari hasil pemeriksaan, diagnosa mengarah ke penyakit kaskado yang disebabkan oleh cacing Stephanofilaria. Kemudian dilakukan pengobatan dengan memberi Asuntol salep. Asuntol salep adalah anthelmentik berspektrum luas golongan organophospat yang mengandung coumafos 16%. Sebagai ester asam phospat, Asuntol mencegah kerja enzim kolinesterase sehingga asetilkolin tertimbun di ganglia dan ujung-ujung saraf, dengan akibat saraf kolinerjik terangsang terus menerus hingga parasit menjadi kejang dan mati. Sapi juga diberi Delladryl untuk mengantisipasi adanya reaksi radang. Diberikan sebanyak 5ml secara intramuskuler.
Pada pemeriksaan yang kedua terlihat efek terapi Asuntol yaitu terjadi pengeringan lesi di daerah mata yang sebelumnya menebal. Untuk mengatasi lesi-lesi yang terdapat pada kaki dilakukan pengobatan dengan Sulfanilamid+Gusanex dalam bentuk salep. Kemudian diberikan Delladryl sebagai antihistamin.
Pada pemeriksaan feses tidak ditemukan adanya telur cacing. Padahal pada pemeriksaan sebelumnya ditemukan telur Strongyl dan belum dilakukan pengobatan terhadap cacing. Hal ini mungkin disebabkan adanya negatif palsu sehubungan dengan waktu pemeriksaan yang belum mencapai stadium telur atau faktor ketelitian dalam pemeriksaan feses.
Dari pemeriksaan darah/patologi klinik, pada sel darah merah (RBC), terjadi penurunan kadar hematokrit (PCV), hal ini mengindikasikan terjadinya anemia. Anemia normositik normokromik dapat terjadi karena radang kronis, dalam kasus ini karena infeksi parasit Strongyl pada sapi.
Pemeriksaan sel darah putih (WBC), terjadi neutropenia yang kemungkinan terjadi karena distribusi cacing Strongyl pada tubuh sapi, sehingga jaringan membutuhkan neutrofil untuk memfagositosis parasit. Akibatnya neutrofil banyak ditarik ke jaringan dan kadarnya di dalam darah menurun.. neutrofil dimobilisasi dari posisi marginal ke daerah yang terluka itu, dan menembus dinding kapiler di antara sel-sel(diapedesis), kemudian dengan gerakan amoeboid masuk ke jaringan untuk memfagositosis partikel-partikel asing seperti parasit.
Jumlah limfosit pada pemeriksaan adalah 70%(normal 47,7% – 68,5%), sehingga terjadi peningkatan (limfositosis). Limfosit mempunyai fungsi untama yang berhubungan dengan pertahanan tubuh yaitu mensintesis zat antibodi dan respon seluler. Limfosit memiliki granula yang bersifat azurofilik dan sebagian besar tersusun atas sitoplasma dengan nukleus berbentuk ovoid. Limfosit merupakan sel utama pada sistem getah bening memiliki ukuran yang relatif lebih kecil daripada makrofag dan neutrofil.
Jumlah normal eosinofil adalah 2,54% – 11,5%, sedangkan hasil praktikum adalah 13%. Terjadinya eosinofilia merupakan respon tubuh terhadap adanya infeksi parasit. Karena mempunyai histaminase, sehingga fungsi utamanya adalah menetralisir histamin yang sering dihasilkan oleh mast cell atau jaringan-jaringan yang rusak. Cacing telah merusak jaringan sehingga mast cell terdegranulasi dan mengeluarkan histamin karena histamin akan menarik eosinofil ke jaringan. Dengan bantuan IgE akan berikatan pada cacing sehingga eosinofil melekat pada membran cacing, eosinofil mengeluarkan enzim-enzim yang mempunyai kemampuan menghidrolisa cacing dan cacing mati.
Protein total mengalami penurunan sedikit atau masih bisa dikatakan normal, sedangkan fibrinogen mengalami peningkatan secara relatif. Indikasi dehidrasi adalah jika TPP : F > 10:1. Dari hasil pemeriksaan, TPP 5,8 dan F 200. Sehingga 5,8 : 0,2 = 29 : 1 > 10 : 1, dari perbandingan ini dapat diketahui bahwa sapi mengalami dehidrasi.
Berdasarkan pemeriksaan darah diatas maka dapat disimpulkan bahwa sapi menderita radang kronis dikarenakan manifestasi cacing.