Kalau ini adalah cerpen yg baru aq buat 2-3 tahun yg lalu, little bit real story sih, dengan dramatusasi tentunya. Hihihi...SORE ITU ANGIN BERHEMBUS KENCANG SEKALI
Sore itu angin berhembus kencang sekali. Sambil memicingkan mata agar tidak kelilipan, aku menunggu datangnya bus yang akan membawaku kembali ke Jogja hari ini, disini di pinggir jalan yang panas dan kering. Aku tidak menunggu bus seorang diri, karena aku bersama abangku yang menemaniku di atas vespa-nya. Tidak seperti biasanya aku menunggu bus disini, karena memang biasanya bus tidak melewati jalan ini. Hanya karena area terminal sedang tergenang banjir luapan Bengawan Solo, maka bus-bus pun mengalihkan rutenya ke jalan ini. Bukan masalah bagiku, sama sekali bukan, karena jalan ini malah lebih dekat dari rumahku dibandingkan dengan terminal. Dari rumah menuju jalan ini hanya perlu waktu 5 menit. Aku bahkan tidak memakai helm saat dibonceng abangku naik vespa-nya, wahai Pak Polisi.
Sore itu jalanan sepi, toko-toko berderet serempak kompak tutup, maklum para pembeli, hari ini kan hari Minggu yang adalah hari libur. Pun jalanan hanya dilewati segelintir sepeda motor dan becak tanpa penumpang, maklum kotaku ini kota kecil. Di perempatan jalan tak jauh dari tempatku berdiri sekarang, ada spanduk-spanduk dibentang, beberapa spanduk kadaluarsa antara lain iklan sekolah swasta, beberapa spanduk tidak penting, menurutku, namun ada satu spanduk yang menarik perhatianku. Berkelir merah muda, spanduk itu adalah spanduk perayaan valentine di sebuah restoran lumayan besar tempat bus-bus patas biasa beristirahat. Aku tertarik bukan karena aku merayakan valentine, namun lebih karena band yang mengisi acara tersebut adalah band temanku semasa SD sekaligus kakak sepupu jauhku. Selain menjadi penggebuk drum di band itu, dia juga menjadi pegawai kontrak di salah satu sekolah di kotaku. Meskipun hanya band lokal dan hanya pegawai kontrak yang tidak tetap, setidaknya dia punya kesibukan yang lebih menjanjikan dibandingkan menjadi mahasiswa tingkat akhir seperti aku. Huh.., aku rindu sekali padanya, hampir sepuluh tahun kami tidak bertemu.
Sore itu jalanan sepi, sesaat kutangkap sosok sepeda motor mendekat ke arah kami (aku dan abangku yang masih duduk di atas vespa-nya). Ternyata sama sepertiku, ada seorang perempuan, sedikit lebih tua dibandingkan dengan aku, diantar oleh ayahnya, menunggu bus. Perempuan itu memakai jilbab sepertiku, memakai sandal wanita dan tas ransel (aku memakai sandal jepit hijau dan tas ransel baru pemberian abangku). Ayahnya sudah cukup tua dengan uban di antara rambut tipisnya, memakai hem krem dan celana berwarna coklat dengan mengendarai sepeda motor bebek. Aku menjadi teringat akan diriku sendiri. Teringat akan aku dan bapakku. Ada satu hal lagi yang tidak biasa sore ini, selain bus yang tidak melewati terminal, aku juga tidak ditemani bapakku sore ini. Bapakkulah yang biasanya mengantar aku ke terminal, memakai jaket tebal dan memakai kacamata hitam seperti mafia. Bapakku akan ikut menunggu di dalam terminal, duduk bersama calon penumpang dan pengantar yang lain, kadang sambil merokok dan aku akan terbatuk-batuk. Bapakku akan menyuruhku menunggu jika yang datang adalah bus A, bus itu jalannya ugal-ugalan, ujarnya dulu, aku masih ingat. Jika yang datang adalah bus B, maka ia akan ikut naik bus dan memilihkanku tempat duduk, asalkan bus tidak penuh berjejal-jejal. Setelah aku duduk, aku akan mencium tangannya dan berkata assalamualaikum... Kemudian ia akan turun menuju sepeda motornya yang diparkir di pinggir. Aku melambaikan tanganku. Dadaaa..., ujarku tanpa suara.
Siang itu jalanan sepi. Tadi pagi kami bersepeda motor menuju stasiun kereta api, setengah jam, menitipkan sepeda motor di tempat penitipan, membeli tiket, dua puluh tujuh ribu, lalu berdua menunggu kereta datang di peron yang sepi. Kereta yang datang pun sepi, tidak seperti yang sering diberitakan di teve-teve. Aku dan ayahku duduk berhadap-hadapan, memesan minuman pada pedagang asongan. Bapak memesan kopi, minuman kesukaannya, sedangkan aku memesan susu coklat hangat. Kereta berjalan pelan, aku menanyakan ini dan itu di sepanjang perjalanan, ini sudah sampai mana, disini ada apa, pertanyaan seperti itu, dijawab semua oleh bapak, karena dia memang gemar bepergian dan hafal tempat-tempat yang aku tanyakan. Sampai di stasiun Lempuyangan siang hari, bapak memborong banyak koran, lima buah, aku menghitungnya, kalau sudah sampai sini nggak baca koran sini ya nggak afdol, ujarnya, lagi-lagi aku masih ingat. Sesudah membeli koran kami berjalan sebentar menuju pertigaan jalan menunggu bus kota. Bus kota itu datang, ramai, penuh, tapi kami beruntung masih kebagian tempat duduk, dua ribu bapak membayar kepada kondektur. Sampai di kost abangku saat abangku sedang tidur siang, tapi pintu kamarnya tidak dikunci, lalu abangku terbangun tanpa kami sempat berniat membangunkannya.