Sebelum operasi hewan dipuasakan 8-12 jam sebelum operasi. Hal ini untuk mencegah muntah, apabila terjadi muntah akan berakibat slik pneumonia, selain itu dapat menurunkan kadar darah sehingga hewan anestesi narkosenya menjadi lama. Kemudian dilakukan pencukuran rambut pada bagian yang akan diincisi dengan silet tajam searah rebah rambut, terlebih dahulu daerah yang akan dicukur dibasahi dengan air sabun. Hal ini untuk mempermudah pencukuran dan membersihkan kotoran yang tidak larut air.
Setelah hewan siap maka dapat dilakukan premedikasi dan anastesi. Premedikasi yang digunakan adalah Atropin sulfat 0,04 mg/kg BB konsentrasi 0,025% diinjeksikan secara subcutan. Setelah 15-30 menit diinjeksi Atropin sulfat kemudian diinjeksikan kombinasi Ketamin dengan Xylazin. Ketamin yang digunakan dosis 10 mg/kg BB dengan konsentrasi 10% sedangkan Xylazin dosis 2 mg/kg BB konsentrasi 2%. Penggunaan Ketamin tanpa agen tambahan akan menyebabkan hipertonus otot, yang perlu dihilangkan untuk mendapatkan kondisi anestesi yang optimal dengan pemberian Xylazin. Ketamin yang dikombinasikan dengan Xylazin lazim digunakan pada anjing dan kucing. Ketamin dan Xylazin merupakan kombinasi yang baik karena memberikan beberapa keuntungan seperti mudah disuntikkan, baik secara intramuskuler maupun intravena, induksi dan pemulihannya cepat, relaksasi otot yang dihasilkan cukup baik, dan jarang menimbulkan efek klinis. Kombinasi antara Xylazin dan Ketamin yang digunakan sebagai anestetika telah terbukti sangat memuaskan karena memperpanjang durasi analgesia, menurunkan dosis penggunaan ketamin dan mempercepat waktu sadar.
Setelah hewan teranastesi, kemudian diletakkan rebah dorsal dengan keempat kaki diikatkan pada meja operasi dengan bantuan tali untuk mempertahankan posisi. Daerah yang sudah dicukur diolesi alkohol secara sirkuler dari sentral ke perifer. Jika diaplikasikan secara lokal pada jaringan dapat meningkatkan daya bunuh kuman, alkohol sering dikombinasikan dengan antiseptik lain karena sifatnya selalu sinergik. Setelah itu dioleskan iodium tinctur dengan cara yang sama. Iodium tinctur merupakan preparat halogen yang mempunyai efek antibakteri yang sangat poten karena afinitas yang tinggi terhadap protoplasma maupun bakteri digunakan sebagai antiseptik sebelum tindakan bedah. Preparat ini mengandung 3 % iodium tinctur dalam alkohol.
Operasi dimulai dengan incisi kulit pada kaudal midline. Incisi pada dinding abdomen dilakukan lewat kaudal midline tepat di belakang umbilicus ke arah kaudal ±6-12 cm dengan scalpel. Kulit dijepit dengan allis forceps, muskulus yang terletak pada kanan kiri garis median dijepit dengan allis forceps kemudian dengan menggunakan gunting atau scalpel dibuat irisan kecil pada linea alba. Dengan menggunakan gunting dan tangan sebagai pemandu dan supaya tidak melukai organ visceral, irisan pada linea alba diperpanjang secukupnya. Tepi irisan dikuakkan dengan allis forsep sampai rongga abdomen terbuka dan tarik keluar kolon yang akan dioperasi.
Kemudian lakukan skarifikasi dengan scalpel ±3–5 cm sepanjang sisi antimesenterium distal kolon descenden. Lakukan pula skarifikasi pada dinding abdomen yang bersebelahan. Masing-masing tepi yang bersebelahan yaitu dinding kolon dan dinding submukosa yang telah dilukai dijahit pada lapisan seromuskularis jangan sampai menembus mukosa kolon, dengan tiga jahitan sederhana tunggal dengan menggunakan benang catgut chromic, jarum berujung bulat. Benang chromic digunakan karena kuat, lebih mudah mengaposisikan lapisan serosa kolon, mempunyai efek minimal pada jaringan, tetap mengikat kuat, dan tetap utuh dalam waktu 10-20 hari, tetapi jika kondisi lingkungan tidak normal maka benang diserap dalam waktu 6-10 hari. Benang ini akan lebih cepat diserap jika pasien sensitif terhadap benang tersebut atau terhadap asam chromic atau jika digunakan untuk menjahit jaringan yang mendapat suplai darah yang melimpah. Jarum yang dipakai menggunakan jarum berujung bulat karena kurang tajam, sehingga tidak akan merusak jaringan. Kedalam rongga abdomen dimasuki larutan antibiotik untuk mencegah kontaminasi. Penstrep merupakan obat campuran antara Penicillin dan Streptomycin sehingga diharapkan daya kerjanya berspektrum luas. Penicillin bekerja dengan menghambat kerja enzim transpeptidase pada pembentukan dinding bakteri, sehingga hanya efektif terhadap bakteri Gram positif. Sedangkan Streptomycin bekerja dengan jalan menghambat sintesa protein bakteri langsung pada ribosom dan mengganggu penerjemah kode genetik sehingga efektif terhadap bakteri gram Negatif.
Setelah itu dinding abdomen dijahit berturut-turut dari dalam ke luar, yaitu peritoneum dan musculus dengan menggunakan benang katun dan jarum berujung bulat dengan jahitan sederhana tunggal. Subkutan dijahit dengan model jahitan sederhana menerus dengan memakai benang catgut plain 3.0/4.0 dan jarum berujung bulat, benang ini dapat diserap dalam waktu 3-7 hari dengan meningkatkan intensitas reaksi jaringan pada benang tersebut. Kemudian kulit dijahit dengan model jahitan sederhana tunggal menggunakan benang katun dan jarum berujung segitiga. Benang katun dapat ditolerir oleh jaringan, mudah dihandle, dan simpulnya tidak mudah lepas serta kekuatan benang dapat bertambah apabila dalam keadaan basah dengan diberi iodium tincture. Jarum yang digunakan berujung segitiga karena lebih tajam sehingga lebih mudah untuk menjahit permukaan kulit.
Setelah kulit tertutup, luka jahitan diberi iodium tincture dan salep isodine sebagai antiseptik dan merangsang kesembuhan luka serta untuk menjaga sterilitas jahitan. Kemudian dilakukan penyuntikan Ampicillin 10% dengan dosis 10-20 mg/kg BB sebanyak 0,4 ml secara intramuskuler untuk menghindari adanya infeksi sekunder. Selama hewan masih teranestesi, dilakukan pemberian infus Ringer Dextrose 5% ±80 ml secara intravena sebagai pengganti cairan elektrolit dan sumber kalori, penambah volume darah pada keadaan shock, dehidrasi, dan perdarahan, serta untuk mengatasi alkalosis dan asidosis. Selain itu juga dilakukan monitoring terhadap denyut jantung, nafas, dan suhu tubuh. Pada bekas jahitan diolesi salep isodine, kemudian juga dilakukan injeksi Ampicillin 10% dosis 10 mg/kg secara intramuskuler, dua kali sehari selama tiga hari.
Setelah hewan siap maka dapat dilakukan premedikasi dan anastesi. Premedikasi yang digunakan adalah Atropin sulfat 0,04 mg/kg BB konsentrasi 0,025% diinjeksikan secara subcutan. Setelah 15-30 menit diinjeksi Atropin sulfat kemudian diinjeksikan kombinasi Ketamin dengan Xylazin. Ketamin yang digunakan dosis 10 mg/kg BB dengan konsentrasi 10% sedangkan Xylazin dosis 2 mg/kg BB konsentrasi 2%. Penggunaan Ketamin tanpa agen tambahan akan menyebabkan hipertonus otot, yang perlu dihilangkan untuk mendapatkan kondisi anestesi yang optimal dengan pemberian Xylazin. Ketamin yang dikombinasikan dengan Xylazin lazim digunakan pada anjing dan kucing. Ketamin dan Xylazin merupakan kombinasi yang baik karena memberikan beberapa keuntungan seperti mudah disuntikkan, baik secara intramuskuler maupun intravena, induksi dan pemulihannya cepat, relaksasi otot yang dihasilkan cukup baik, dan jarang menimbulkan efek klinis. Kombinasi antara Xylazin dan Ketamin yang digunakan sebagai anestetika telah terbukti sangat memuaskan karena memperpanjang durasi analgesia, menurunkan dosis penggunaan ketamin dan mempercepat waktu sadar.
Setelah hewan teranastesi, kemudian diletakkan rebah dorsal dengan keempat kaki diikatkan pada meja operasi dengan bantuan tali untuk mempertahankan posisi. Daerah yang sudah dicukur diolesi alkohol secara sirkuler dari sentral ke perifer. Jika diaplikasikan secara lokal pada jaringan dapat meningkatkan daya bunuh kuman, alkohol sering dikombinasikan dengan antiseptik lain karena sifatnya selalu sinergik. Setelah itu dioleskan iodium tinctur dengan cara yang sama. Iodium tinctur merupakan preparat halogen yang mempunyai efek antibakteri yang sangat poten karena afinitas yang tinggi terhadap protoplasma maupun bakteri digunakan sebagai antiseptik sebelum tindakan bedah. Preparat ini mengandung 3 % iodium tinctur dalam alkohol.
Operasi dimulai dengan incisi kulit pada kaudal midline. Incisi pada dinding abdomen dilakukan lewat kaudal midline tepat di belakang umbilicus ke arah kaudal ±6-12 cm dengan scalpel. Kulit dijepit dengan allis forceps, muskulus yang terletak pada kanan kiri garis median dijepit dengan allis forceps kemudian dengan menggunakan gunting atau scalpel dibuat irisan kecil pada linea alba. Dengan menggunakan gunting dan tangan sebagai pemandu dan supaya tidak melukai organ visceral, irisan pada linea alba diperpanjang secukupnya. Tepi irisan dikuakkan dengan allis forsep sampai rongga abdomen terbuka dan tarik keluar kolon yang akan dioperasi.
Kemudian lakukan skarifikasi dengan scalpel ±3–5 cm sepanjang sisi antimesenterium distal kolon descenden. Lakukan pula skarifikasi pada dinding abdomen yang bersebelahan. Masing-masing tepi yang bersebelahan yaitu dinding kolon dan dinding submukosa yang telah dilukai dijahit pada lapisan seromuskularis jangan sampai menembus mukosa kolon, dengan tiga jahitan sederhana tunggal dengan menggunakan benang catgut chromic, jarum berujung bulat. Benang chromic digunakan karena kuat, lebih mudah mengaposisikan lapisan serosa kolon, mempunyai efek minimal pada jaringan, tetap mengikat kuat, dan tetap utuh dalam waktu 10-20 hari, tetapi jika kondisi lingkungan tidak normal maka benang diserap dalam waktu 6-10 hari. Benang ini akan lebih cepat diserap jika pasien sensitif terhadap benang tersebut atau terhadap asam chromic atau jika digunakan untuk menjahit jaringan yang mendapat suplai darah yang melimpah. Jarum yang dipakai menggunakan jarum berujung bulat karena kurang tajam, sehingga tidak akan merusak jaringan. Kedalam rongga abdomen dimasuki larutan antibiotik untuk mencegah kontaminasi. Penstrep merupakan obat campuran antara Penicillin dan Streptomycin sehingga diharapkan daya kerjanya berspektrum luas. Penicillin bekerja dengan menghambat kerja enzim transpeptidase pada pembentukan dinding bakteri, sehingga hanya efektif terhadap bakteri Gram positif. Sedangkan Streptomycin bekerja dengan jalan menghambat sintesa protein bakteri langsung pada ribosom dan mengganggu penerjemah kode genetik sehingga efektif terhadap bakteri gram Negatif.
Setelah itu dinding abdomen dijahit berturut-turut dari dalam ke luar, yaitu peritoneum dan musculus dengan menggunakan benang katun dan jarum berujung bulat dengan jahitan sederhana tunggal. Subkutan dijahit dengan model jahitan sederhana menerus dengan memakai benang catgut plain 3.0/4.0 dan jarum berujung bulat, benang ini dapat diserap dalam waktu 3-7 hari dengan meningkatkan intensitas reaksi jaringan pada benang tersebut. Kemudian kulit dijahit dengan model jahitan sederhana tunggal menggunakan benang katun dan jarum berujung segitiga. Benang katun dapat ditolerir oleh jaringan, mudah dihandle, dan simpulnya tidak mudah lepas serta kekuatan benang dapat bertambah apabila dalam keadaan basah dengan diberi iodium tincture. Jarum yang digunakan berujung segitiga karena lebih tajam sehingga lebih mudah untuk menjahit permukaan kulit.
Setelah kulit tertutup, luka jahitan diberi iodium tincture dan salep isodine sebagai antiseptik dan merangsang kesembuhan luka serta untuk menjaga sterilitas jahitan. Kemudian dilakukan penyuntikan Ampicillin 10% dengan dosis 10-20 mg/kg BB sebanyak 0,4 ml secara intramuskuler untuk menghindari adanya infeksi sekunder. Selama hewan masih teranestesi, dilakukan pemberian infus Ringer Dextrose 5% ±80 ml secara intravena sebagai pengganti cairan elektrolit dan sumber kalori, penambah volume darah pada keadaan shock, dehidrasi, dan perdarahan, serta untuk mengatasi alkalosis dan asidosis. Selain itu juga dilakukan monitoring terhadap denyut jantung, nafas, dan suhu tubuh. Pada bekas jahitan diolesi salep isodine, kemudian juga dilakukan injeksi Ampicillin 10% dosis 10 mg/kg secara intramuskuler, dua kali sehari selama tiga hari.