Jangan salah ini bukan cerpenku lho, ini karya bapakku. Dimuat di Majalah Anak-anak BOBO No 19 Tahun XVIII Tgl 16 Agustus 1990 Harga 900 Hal 32-33. Enjoy!
Parlan Buntut
Rapat di Balai Desa tiba-tiba meledak dengan berbagai pertanyaan. Ini terjadi setelah pembicaraan rapat mengumumkan, akan diadakan lomba prestasi, yaitu perang tikus. “Gerr...” begitu awal reaksinya. Suara tawa sebagian besar hadirin.
“Saya ulangi!Perang tikus!” tutur Ketua LKMD. Ia kuatir dikira hanya main-main.
“Ha... ha... ha... “ suara tawa itu kian membahan.
Parlan Buntut
Rapat di Balai Desa tiba-tiba meledak dengan berbagai pertanyaan. Ini terjadi setelah pembicaraan rapat mengumumkan, akan diadakan lomba prestasi, yaitu perang tikus. “Gerr...” begitu awal reaksinya. Suara tawa sebagian besar hadirin.
“Saya ulangi!Perang tikus!” tutur Ketua LKMD. Ia kuatir dikira hanya main-main.
“Ha... ha... ha... “ suara tawa itu kian membahan.
Pak Kades Turi yang juga hadir dan memimpin, berkata “Saya harap saudara-saudara tenang!”
“Nah sekarang siapa mau bertanya, silakan!” Pak Kades menyilakan. “Khususnya, tentang lomba tikus, eh perang tikus. Apa masih ada yang belum jelas?”
Satu persatu pertanyaan dan usul diajukan. Jawaban pun diberikan sampai tuntas.
“Pokoknya, semua penduduk yang berKTP atau yang namanya tertulis di KSK boleh ikut. Yang mengumpulkan ekor tikus terbanyak, akan juara. Rangking satu sampai sepuluh, ditetapkan panitia sebagai penerima hadiah atau penghargaan.”
Seperti setiap tahun, tikus selalu menyerang tananman petani Desa Turi. Tikus-tikus itu bukan berkeliaran di rumah-rumah seperti di kota, tetapi justru di ladang dan persawahan yang jadi sumber kehidupan warga desa.
Beberapa waktu lalu, memang hama wereng merupakan momok atau usuh tanaman mereka. Tetapi setelah ditemukan obat peberantas dengan sistem terpadu, serangan hama lembut dan bisa terbang itu dapat dikalahkan. Namun, sang tikus yang sepintas lalu nampak lucu itu, masih saja tak lenyap. Tiap tahun mereka muncul. Walau akibatnya tak separah serangan wereng!
Entah gagasan siapa, upaya memusnahkan hama kali ini dilombakan. Dalam memeriahkan Agustusan, sejumlah lomba memang selalu diadakan sejak dahulu. Seperti olah ragadan kesenian. Kalaulah jenisnya agak lain, paling-paling lomba memasak atau permainan anak-anak. Barangkali panitianya sudah jenuh dan ingin mengadakan lomba yang lebih beraneka ragam. Perang tikus yang kali ini menjadi salah satu di antaranya.
“Kamu tentu sudah dengar, ada lomba menarik di desa kita?” tanya Marno pada Parmin, setibanya di depan sekolah pagi itu.
“Apa semacam balap karung?” tanya Parlan.
“Bukan! Ayahku bilang, ada lomba mengumpulkan buntut tikus. Tadi malam diumumkan di Balai Desa. Ayahmu tidak hadir?”
“Aku belum dengar!” sela Parman menimpali. “Sebaya kita, apa boleh turut, No?” sambungnya. “Kapan mulainya? Tentunya juga berhadiah seperti lomba lainnya kan?”
Parlan di antara teman-temannya, dikenal suka ikut berbagi macam lomba. Ia tak peduli kalah atau tak jadi juara. Ia bukanlah anak yg pemalu. Tiap tahun, ia selalu ikut lomba apa saja.
“Habis seolah yuk kita cari tikus! Tebing ladang sebelah timur, biasanya jadi sarang tikus,” Parlan menggumam, lalu beranjak ke kelas.
“Aku juga mau coba. Bukankah itu namanya ikut membantu masyarakat. Walaupun nanti aku tak meraih juara, “ sahut Marno.
Orang yang berburu tikus di Desa Turi semakin ramai sejak awal Agustus. Ada yang berkelompok 5 sampai 10 orang. Yang sendirian pun tak kurang banyaknya. Tak cuma kaum lelaki, gadis-gadis pun ada yang ikut. Bahkan, ibu-ibu juga ikut giat mengumpulkan buntut hewan pengerat yang sering masuk ke dapur.
Kegiatan itu menarik banyak peminat. Bukan karena hadiah yang besar atau penghargaan yang tinggi. Tetapi karena lomba unik dan baru pertama diadakan itu, menggairahkan masyarakat.
Selama dua minggu hingga tanggal 15, pnaitia sibuk mencatat nama peserta dan jumlah ekor tikus yang diserahkan. Hasilnya ternyata cukup menarik. Mereka yang termasuk “sepuluh besar” dapat sebuah lampu senter. Termasuk Parlan, yang kali ini ikut beruntung.
“Setelah dihitung semuanya, sebanyak 3.375 ekor tikus yang terkumpul,“ kata Pak Kades pada saat pidato resepsi. “Terima kasih atas semangat warga desa, harap perang terus ditingkatkan. Biarpun tidak ada perlombaan!”
Alangkah senangnya Parlan. Sifat tak jera dan tak malu mengikuti setiap lomba, membuahkan hasil juga. Tetapi tak enaknya, gara-gara lomba itu ia mendapat julukan Parlan Buntut.
M. Har Harijadi