Monday, June 28, 2010

Kulit Tubuhnya Mengkilat bagian 2

“Untuk apa?” gumamku bingung sebab baru pertama mengalami kejadian semacam itu.
“Ah jangan banyak cakap, ayo cepat,” bentak Wahab seraya menarik sarungku biarpun dengan suara perlahan. “Kita harus siap sedia kalau-kalau..,” ucapnya tak diteruskan, tapi jari telunjuknya menempel di bibir lantaran bicaraku yang setengah sadar digayuti kantuk terdengar keras.
Wahab lalu membangunkan teman tidurku di sebelah. Tanpa banyak kesulitan Marno sudah segera bangkit. Dan sewaktu diberitahu ia langsung berdiri dan bergegas menyusulku.
Ternyata ada sepuluhan teman sudah berdiri di dean surau. Mereka diam membisu, namun pasang kuda-kuda seraya matanya nyalang, mengawasi arah depan. Ketika kami bertiga menuju ke dekatnya hampir serentak mereka menoleh.
“Kok tak ada tanda-tanda yang mencurigakan Hab? Sudah kabur barangkali..” salah seorang teman tiba-tiba bertanya.
“Apa mungkin dia masih ngumpet?” sela lainnya lagi.
“Kita dekati ramai-ramai yuk!Kita kan ingin tahu seperti apa wajah maling itu,” desis Marno dengan suara enteng mengusulkan.
“Sebentar sebentar.., kita tidak usah tegang dulu,” Wahab teman terbesarku itu segera melontarkan ucapannya. “Harus sabar menunggu, bukankah peran kita ini cuma berjaga-jaga, baru bergerak jika petugas ronda yang akan menjebak si pencuri minta bantuan. Kalau bertindak sendiri usaha mereka malah teganggu,” katanya mendinginkan gemuruh ketidaksabaran teman-temannya.
“Wah, ngantuk-ngantuk tidak ada hasilnya nanti,” celetuk Amat yang sehari-hari cerewwet.
“Diam kamu! Kalau ngotot ayo sana berangkat maju sendiri,” sahut Wahab cepat.
Bocah cerewet itu hanya pringas-prringis tak bergerak, sedang yang lain hanya diam mematung.
“Pak Drajad tadi bilang, supaya anak surau mangkal saja di tempatnya waktu pertama membangunkanku,” ujar Wahab lirih di telinga kiriku. Pak Drajad petugas kamling yang sedang menguntit ulah pencuri di rumah Pak Surat.
“Beliau pesan, jangan berbuat gaduh dulu sebelum perusuh kampung kita itu tertangkap,” ujarnya lagi.
Perkiraanku waktu itu sekitar jam setengah tiga. Kokok ayam jantan hanya terdengar sebentar waktu aku mulai bangun. Biasanya kokok pertama menandakan pukul dua dini hari. Mataku masih terasa lengket, belum puas tidurku walau sejak jam sembilan sudah terlelap. Teman-teman tampak juga banyak yang masih menagntuk. Sebagian malah mulai bosan. Ada yang mulai jongkok, berdiri sambil bersandar bahkan duduk seenaknya di emperan surau. Sebal dan resah barangkali yang menjangkiti perasaan mereka.
“Mana pentungmu? Hei, malingnya lewat!” Wahab berseru lantang mengagetkan. Lampu senter di tangannya terus menerus menyorotkan sinar ke arah samping surau.
“Ayo ikut mengejar, kita kepung melingkar,” suara salah seorang petugas kamling membahana.
Ada lima orang dewasa kusaksikan melesat mengejar di anatara batang pepohonan. Aku tak tahu kemana teman-teman bergerak. Hanya Wahab yang terlihat ikut maju ke depan. Aku sendiri bingung. Sendirian rasanya takut, berdiam saja di tempat teman-teman pun tak ada. Akhirnya aku hanya mondar mandir di sekitar surau, sambil berharap bertemu dengan salah seorang temanku. Eh, ternyata Amat cuma berdiri mematung tak ikut berlari mengepung.
Tak sampai sepuluh menit riuh rendah menagkap maling itu berlangsung. Tapi seluruh penduduk kampung yang ikut mengejarnya kali ini belum beruntung. Pencuri itu berhasil berkelit dari kejaran. Orang-orang pada menyesal termasuk teman-temanku di fajar menjelang subuh itu. Ada yang mengumpat, ada pula yang menggebukkan pentungan. Tapi buatku cukuplah jadi pengalaman yang menarik. Aku ikut menyaksikan kegemparan itu, lagi pula dengan mata kepala sendiri melihat pencuri sedang beraksi. Berlari cepat meskipun cuma terlihat sekejab. Permukaan tubuhnya hitam dan punggungnya mengkilat seperti habis diminyaki. Ya, bagai orang telanjang habis mandi yang meloncat loncat. Menurut Pak Drajad konon pencuri itu memang ada yang jika akan berangkat, sengaja telanjang dan meminyaki tubuhnya sewaktu memasuki rumah korbannya. Katanya itu memang syaratnya.
M. Har Harijadi
mikrab*: pengimaman