Yang satu ini juga dalam bentuk draf tapi dengan editan disana-sini. Ada yg bisa aq baca, tapi ada juga yg tidak,. Ini dia another story from my dad.., enjoy..!Warung Yang Mengundang
Sejak umurnya setahun, tatkala tak lagi minum Air Susu Ibu (ASI), Budi makannya banyak sekali. Artinya, ia tak menampik segala makanan dan minuman yang diberikan. Termasuk pula kopi sisa ayahnya. Malah sering ia sembunyi2 meneguknya walau harus celepotan bibirnya. Hanya cabe, ia tidak mau.
“Senang ya.. punya anak makannya gampang” begitu gumam bibibnya waktu bertandang. “ Beda dengan Ipul. Banyak makanan yang ditolak” lanjutnya. “Makanan tertentu saja yang disukai’.
Bahkan Pepen,
Sejak umurnya setahun, tatkala tak lagi minum Air Susu Ibu (ASI), Budi makannya banyak sekali. Artinya, ia tak menampik segala makanan dan minuman yang diberikan. Termasuk pula kopi sisa ayahnya. Malah sering ia sembunyi2 meneguknya walau harus celepotan bibirnya. Hanya cabe, ia tidak mau.
“Senang ya.. punya anak makannya gampang” begitu gumam bibibnya waktu bertandang. “ Beda dengan Ipul. Banyak makanan yang ditolak” lanjutnya. “Makanan tertentu saja yang disukai’.
Bahkan Pepen,
kakaknya Ipul yang juga anak bibi, tak mau makan sama sekali semua jenis buah-buahan. Hanya pisang goreng terkadang dicicipi, itupun cuma secuil.
Para orang tua memang suka bersedih kalau anaknya sulit diberi makan. Kendati dipaksa dengan menyuapi, paling-paling hanya dikulum tau malau disemprot2kan. Sebab itu orang tua Budi merasa berbahagia, sebab ia tak berperilaku begitu.
Namun demikian, kegemaran makan seorang anak ternyata juga dapat menyusahkan seperti yg dialami Pak Tarji. Apalagi pak dan bu Tarji sama-sama bekerja di kantor, sedang Budi anak sulung lelakinya itu asih punya seorang adik.
Untunglah mereka masih punya nenek, yang bila sedang repot kedua anak itu dititipkan ke sana. Kasih sayang terhadap cucu yg seperti berlebihan itu kemudian membuat Budi acap manja kepada orang tuanya. Ditambah karena merasa besar dibanding adiknya, ia suka berulah macam-macam.
Salah satu kesenangan yg bikin pusing, adalah makan soto ayam pada sebuah warung di terminal. Sebetulnya warung itu kurang sehat. Sebab selain terbuka tanpa penyekat, berbagai panganan seperti tempe goreng, tahu, pisang, dll, dijajakan begitu saja, disamping yg utama soto ayam. Makanan itu ditempatkan pada piring tanpa tutp di atas meja yg tersedia.
Dari warung itu memang mudah memandangi lalu lalangnya orang yg bepergian. Dan yg menarik bagi Budi, dapat melihat dengan jelas bis-bis yg mampirke terminal.
Pernah dicoba ayahnya dengan menawari ke warung lain, tapi Budi ngotot tak mau sembari menangis. Apa boleh buat ayahnya terpaksa menuruti.
“Soto terminal, pak! Soto terminal!”jeritnya.
Tapi apa hasilnya? Belum juga ia mau untuk berganti tempat ke selain soto terminal itu. Malah anak yg baru akan masuk TK itu, bisa menyanggah nasihat kedua orangtuanya.
Sebenarnya bagi Pak Tarji, mencegah anaknya untuk tidak selalu ke tempat itu, tak cuma masalah kesehatan melulu. Tapi juga karena perihal kesopanan. Dirasakannya kurang pantas, sebab acap berjumpa dengan temannya sewaktu nongkrong di warung pojok yg ramai itu.
Tapi dasar anak! Diberi pengertian yang baik pun kadang tak mau menerimanya kalau tak dipaksa. Sampai habis rasanya akal Pak Tarji! Ia lantas ingat kata banyak orang, bahwa anak sulung kalau pintar, bukan main pintarnya. Sebaliknya jika bodoh, bebalnya tak ketulungan. Budi yg cerdas itu, sepertinya tidak dapat diakali.
Hampir tiap minggu, masa libur sehari itu selalu Budi menggoda minta diantar ke terminal.
Pak Tarji baru lega, tatkala punya gagasan yg menarik. Ia mengusulkan ke penjual soto supaya di depan warung dipasang tuutp penyekat sederhana. Eh, ternyata pemilik warung menurut juga. Maka berkuranglah kejengkelan Pak Tarji di hari2 berikutnya.
Budi lantas tak minta diantar lagi sejak itu. Pak Tarji bersyukur, apalagi warung pojok itu masih tetap ramai dan semakin laris.
M. Har Harijadi 1987
Para orang tua memang suka bersedih kalau anaknya sulit diberi makan. Kendati dipaksa dengan menyuapi, paling-paling hanya dikulum tau malau disemprot2kan. Sebab itu orang tua Budi merasa berbahagia, sebab ia tak berperilaku begitu.
Namun demikian, kegemaran makan seorang anak ternyata juga dapat menyusahkan seperti yg dialami Pak Tarji. Apalagi pak dan bu Tarji sama-sama bekerja di kantor, sedang Budi anak sulung lelakinya itu asih punya seorang adik.
Untunglah mereka masih punya nenek, yang bila sedang repot kedua anak itu dititipkan ke sana. Kasih sayang terhadap cucu yg seperti berlebihan itu kemudian membuat Budi acap manja kepada orang tuanya. Ditambah karena merasa besar dibanding adiknya, ia suka berulah macam-macam.
Salah satu kesenangan yg bikin pusing, adalah makan soto ayam pada sebuah warung di terminal. Sebetulnya warung itu kurang sehat. Sebab selain terbuka tanpa penyekat, berbagai panganan seperti tempe goreng, tahu, pisang, dll, dijajakan begitu saja, disamping yg utama soto ayam. Makanan itu ditempatkan pada piring tanpa tutp di atas meja yg tersedia.
Dari warung itu memang mudah memandangi lalu lalangnya orang yg bepergian. Dan yg menarik bagi Budi, dapat melihat dengan jelas bis-bis yg mampirke terminal.
Pernah dicoba ayahnya dengan menawari ke warung lain, tapi Budi ngotot tak mau sembari menangis. Apa boleh buat ayahnya terpaksa menuruti.
“Soto terminal, pak! Soto terminal!”jeritnya.
Tapi apa hasilnya? Belum juga ia mau untuk berganti tempat ke selain soto terminal itu. Malah anak yg baru akan masuk TK itu, bisa menyanggah nasihat kedua orangtuanya.
Sebenarnya bagi Pak Tarji, mencegah anaknya untuk tidak selalu ke tempat itu, tak cuma masalah kesehatan melulu. Tapi juga karena perihal kesopanan. Dirasakannya kurang pantas, sebab acap berjumpa dengan temannya sewaktu nongkrong di warung pojok yg ramai itu.
Tapi dasar anak! Diberi pengertian yang baik pun kadang tak mau menerimanya kalau tak dipaksa. Sampai habis rasanya akal Pak Tarji! Ia lantas ingat kata banyak orang, bahwa anak sulung kalau pintar, bukan main pintarnya. Sebaliknya jika bodoh, bebalnya tak ketulungan. Budi yg cerdas itu, sepertinya tidak dapat diakali.
Hampir tiap minggu, masa libur sehari itu selalu Budi menggoda minta diantar ke terminal.
Pak Tarji baru lega, tatkala punya gagasan yg menarik. Ia mengusulkan ke penjual soto supaya di depan warung dipasang tuutp penyekat sederhana. Eh, ternyata pemilik warung menurut juga. Maka berkuranglah kejengkelan Pak Tarji di hari2 berikutnya.
Budi lantas tak minta diantar lagi sejak itu. Pak Tarji bersyukur, apalagi warung pojok itu masih tetap ramai dan semakin laris.
M. Har Harijadi 1987