Ini adalah cerpen yg aq buat hampir 6 tahun yg laulu, tepatnya saat aq masih SMA. Sempet aq kirim ke media tapi mungkin aq yg ga sabar nunggu jadi aq publikasikan sendiri aja. Oya ini aq departing biar ga kepanjangan ya... Enjoy!HARAPAN TERAKHIR
Teet... teet... teet…. Bunyi bel tiga kali yang mungkin sangat dinantikan oleh hampir semua anak di sekolah ini pun berbunyi. Bel tanda istirahat. Sungguh melegakan hati para pemilik wajah pucat yang lelah dicekoki rumus dan ceramah yang entah masuk ke otak atau tidak. Berhamburanlah para pemilik wajah pucat itu ke segala penjuru, entah apa yang dicari, obat pelepas penat barangkali. Aku tidak sedang mencari obat pelepas penat, aku hanya mencari tempat pelampiasan.
“Toilet, yuk!” ajakku pada orang di sebelahku, kawan sebangkuku.
Tanpa kata, dia mengangguk mengikuti langkahku. Aku pikir dia pasti masih memikirkan nilai ulangan fisikanya yang demi toleransi kita anggap saja tidak membanggakan. Tadi dia terus memandangi kertas ulangannya, seperti tak habis pikir, apa kesalahan yang telah diperbuatnya sehingga harus menanggung malu dan derita seperti ini. Padahal aku saja tidak malu berkawan dengannya, seberapa pentingnya sih harga sebuah nilai di pojok kanan atas itu?.
“Sudahlah...., selama apapun kau pikirkan, nilai itu tak akan berubah,” ujarku sembari melewati pintu kelas, “nilaiku juga hancur, tapi masih ada ulangan berikutnya kan?” tambahku mencoba menghiburnya.
“Aku cuma shock, dan aku baik-baik saja” sergahnya sambil mengepalkan tangan, membusungkan dada, mukanya serius dan berlebihan sekali. Rupanya ia sedang menguatkan hatinya sendiri.
Kami berdua berjalan perlahan. Kelas-kelas tampak lengang, anak-anak pasti telah pergi ke kantin mengusir rasa lapar mereka. Hari ini aku puasa, jadi aku tak perlu berdesak-desakan di kantin demi sepiring nasi pecel yang tak lebih enak dari masakan ibuku. Lagipula aku jadi bisa menghemat uang jajan, ditabung untuk beli apalah yang ingin kubeli. Ah.., kawanku? Dia juga puasa. Sudah menjadi kebiasaan bagi kami, bersama-sama puasa, karena lebih ringan rasanya jika rasa lapar dan dahaga dibagi berdua. Memang sifat dasar manusia tidak mau menderita sendirian.
Belok ke kiri ada dua buah ruangan kecil, berpintu kusam dengan cat cokelat muda kekuning-kuningan. Di depannya satu dua lalat berterbangan. Ini toilet terdekat dari kelasku. Toilet campuran pria-wanita, tak dipisah. Toilet inilah yang paling banyak dikunjungi anak-anak karena faktor kepraktisan. Dan karena kelarisannya, tak heran toilet ini paling jorok dan paling bau. Malas rasanya harus buang hajat di sini, tapi daripada harus berkeliling sekolah demi toilet yang agak tidak jorok dan agak tidak bau, kelihatannya aku harus berpikir dua kali, dan karena waktu istirahat hanya 15 menit maka toilet jorok inilah pilihanku saat ini. Aku masih ingin ke perpustakaan juga soalnya, ingin melampiaskan hausku akan buku.
Untunglah toiletnya sepi, jadi aku tak harus mengantre, pikirku girang. Kudorong pelan pintu toilet dan kulangkahkan kakiku ke dalam. Aku tetap berdiri, ada yang aneh, pikirku. Lantai toilet ini kering, benar-benar kering. Oh.., tidak! Airnya habis. Kupukul jidatku sendiri sambil melongokkan kepalaku, menatap bak air yang telah kosong. Kubuka lagi pintu toilet yang belum sempat kututup sempurna, dan masuk ke toilet satunya. Namun hasilnya sama saja.
“Tak ada airnya“ sahutku pelan sambil mengangkat bahuku ketika wajah kawanku meminta penjelasan.
“Ayo ke toilet sana saja“ sahutku lagi, sedikit kesal.
Dia menurut saja. Rupanya toilet ini sepi karena tak ada airnya. Tentu saja tak ada yang mau buang air kecil di sini, apalagi capek-capek mengantre.
Kami berdua kembali menyusuri lorong-lorong sekolah. Kulihat jam tangan di tangan kananku, belum lima menit, masih lama, pikirku lega. Selepas ruang aula yang dimana-mana memang luas ada toilet. Berbeda dengan toilet yang pertama, toilet ini ada pemisahannya, khusus pria dan khusus wanita. Tiap-tiapnya berisi lima bilik kecil.
“Kok sepi juga, jangan-jangan tak ada airnya juga” belum-belum aku sudah berprasangka jelek.
Berlari kecil karena penasaran, kutinggalkan kawanku di belakang. Kuperiksa bilik-bilik itu satu persatu dengan cermat seperti aku memeriksa kertas ulangan sebelum dikumpulkan.
“Kata-kata adalah doa, benar katamu dulu, doaku telah dikabulkan” keluhku putus asa setelah selesai memeriksa bilik satu persatu.
”Masih ada satu toilet lagi, ayo cepat!” ajak kawanku sambil menyeret tanganku.
Kenapa jadi dia yang bersemangat mencari toilet? Pasti dia juga telah ketularan ingin buang air kecil, pikirku asal. Sambil berjalan kusempatkan melirik toilet khusus guru dan karyawan di samping ruang guru yang ramai. Ah..., airnya bahkan sampai meluap.
“Lihat itu!” bisikku sambil menunjuk air yang tumpah dari bak.
Sambil menggelengkan kepala dia berkata dengan serius, ”Sudah kubilang, kebijakan sekolah hanyalah sampah, tak menolong, tak berguna, bahkan untuk seember air, membicarakannya hanya akan menambah luka hatimu”.
Hei hei hei, dia sudah melupakan nilai fisikanya, sebagai buktinya dia sudah bisa berkata-kata, panjang lebar pula. Namun aku tak benar-benar mengerti perkataannya tadi. Kupikir hatinyalah yang terluka. Hatiku tak terluka, kok! Sudah terbiasa aku melihat ketidakbenaran disana-sini, namun tak tahu apa yang harus diperbuat untuk memperbaiki masalah. Orang yang benar-benar bodoh, mungkin itulah aku. Kepalaku berdenyut keras. Memberontak dan menuntutku untuk berhenti memikirkan masalah ini dan terus berjalan mengikuti kawanku menuju toilet di bagian belakang sekolah.
Berjalan dengan lebih cepat, kami sampai di toilet ketiga. Toilet di sebelah deretan kelas anak satu, toilet campuran seperti toilet pertama yang kukunjungi, tak lebih bersih dari toilet pertama. Karena dekat dengan kelas satu maka pengunjung toilet ini mayoritas adalah anak kelas satu. Bukan aku dan kawanku, kami kan kelas tiga. Dulu sewaktu aku masih kelas satu selalu buang air di sini, bukan di toilet depan yang tadi.
Entah mimpi apa aku tadi malam sampai-sampai untuk buang air kecil saja aku harus susah payah seperti ini. Lihat! Antreannya sampai satu.., dua.., tiga.., ...lima orang! Tubuhku lemas, ingin berteriak, tapi yang keluar cuma hembusan nafas kesal dan lelah.