Kadang terlihat adanya kepala yang diletakkan pada punggung sambil menengadah ke atas ”melihat bintang” (star gazing, opistotonus).
Gejala ini kerapkali diamati pada 1%-5% dari ayam yang terkena. Ayam juga akan mengalami inkoordinasi, jika diangkat sering jatuh dan sulit berdiri, kepala kerapkali bergetar selama beberapa waktu setelah ayam kembali ke posisi normal.produksi telur biasanya menurun 5-30%, tanpa adanya gangguan pada kualitas telur. Penyakit dapat menyebabkan kematian dalam waktu 5-10 hari, dengan angka mortalitas antara 0,5-10%. Gejala lain yang tampak meliputi ayam lesu dan mengantuk disertai penururan nafsu makan, diare berwarna hijau dan berbau tidak sedap yang akan mengotori kloaka dan sekitarnya, leleran hidung dan mata kadang disertai batuk yang ringan.
1. Perubahan makroskopik
Unggas yang terserang mengalami perdarahan titik dan bendung pada selaput lendir sekat rongga hidung. Apabila kulit bagian muka dibuka, akan terlihat busung bernanah.
Perubahan yang terlihat tebatas pada daerah kepala dan saluran pernapasan bagian atas. Daerah muka sekitar mata akan terlihat bengkak, dimana kebengkakan ini dapat menyebar ke daerah intermandibular dan pial, terlihat juga adanya edema atau timbunan cairan mukus. Kerapkali timbunan cairan di daerah tersebut menjadi kental menyerupai keju dan tebalnya dapat mencapai beberapa cm. Tulang tengkorak bagian luar kerapkali menunjukkan adanya timbunan sejumlah cairan atau eksudat mukopurulent bernoda darah yang memberi petunjuk terhadap adanya proses keradangan pada daerah tersebut.
Pada daerah cavum nasi hanya terlihat kemerahan pada mukosa dengan eksudat yang minim, kecuali jika diikuti infeksi secunder oleh bakteri maka akan ditemukan eksudat mukopurulen. Mukosa palatum durum kemerahan dan kadang disertai oleh petekie, celah antara palatum durum biasanya melebar.
Daerah bagian dorsal kepala, fasial, atau intermandibular dan pial dapat mengalami pembengkakan akibat adanya edema subkutan atau timbunan cairan mukopurulent sampai purulent.
Lesi pada jaringan lain pada umumnya bersifat ringan dan dapat ditemukan terutama di larynx, trakea dan paru-paru serta ovarium. Jika ayam bertahan dari periode infeksi akut, maka kebengkakan di daerah kepala berkurang, tetapi jaringan yang bengkak akan mengeras, terutama jaringan intermandibula dan pial.
Jika terkena infeksi sekunder E.coli akan terjadi penumonia, airsacculitis perihepatitis, perikarditis dan peritonitis. Ayam pedaging yang terserang Mycoplasma sp. biasanya akan mederita SHS yang parah dan selanjutnya mengalami komplikasi dengan kolibasilosis sistemik.
2. Perubahan mikroskopis
Jaringan yang konsisten mengalami perubahan pada kasus SHS adalah kulit di daerah kepala yang membengkak. Pada epidermis bisanya terlihat adanya edema interseluler/degenerasi hidrofik. Perubahan pada dermis superfisial dapat berbentuk edema sampai infiltrasi limposit dan heterofil yang bersifat multifokal, terlihat juga adanya perifolikulitis dan perivaskulitis. Perubahan pada subkutis didominasi oleh reaksi heterofil, limposit, dan jaringan ikat disamping adanya nekrosis, hemoraghi, fibrin dan material mengkeju, biasanya ada abses atau radang granulomatosa.
Perubahan pada jaringan lain sehubungan dengan SHS meliputi rhinitis, laryngitis, tracheitis, pneumonia, dan ooforitis yang bersifat ringan.
Ayam sakit SHS boleh dipotong dang dagingnya dapat dikonsumsi. Sisa pemotongan harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau dikubur. Lesi bagian kepala yang sudah melanjut harus dibuang dan dimusnahkan.
Diagnosa dilakukan secara klinis didasarkan pada gejala spesifik untuk SHS. Diagnosa patologi didasarkan pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis bisa lebih tepat, walaupun pada kondisi tertentu harus diperkuat dengan uji serologik menggunakan ELISA, atau uji netralisasi virus. Serologis biasanya menggunakan uji ELISA dan uji netralisasi virus (VN), meskipun tidak semua komersial kit sensitif terhadap respon virus A dan B. Uji ELISA merupakan metode yang cepat dan praktis untuk mengevaluasi antibodi di dalam serum sekitar 10-14 pasca infeksi virus SHS. Isolasi virus dari trachea, paru-paru, atau eksudat nasal pada kultur telur ayam atau kalkun berembrio spesific pathogen free (SPF). Untuk pemeriksaan laboratorium sebaiknya dikirim ayam sakit yang masih hidup.
Infeksi dari Avian pneumovirus tidak dapat diobati. Pemberian antibiotik hanya untuk mengobati infeksi sekunder oleh bakteri untuk menghilangkan gejala kebengkakan pada kepala. Jenis obat yang diberikan biasanya dihubungkan dengan jenis bakteri yang menimbulkan infeksi sekunder yang dapat diperkirakan dari pemeriksaan patologik atau pemeriksaan bakteriologik. Dapat dilakukan dengan preparat sulfa, nitrofuran atau oksitetrasiklin untuk menurunkan kejadian infeksi. Harus mengevaluasi pemicu stres respirasi, klorinasi dari air minum, dan multivitamin. Udara segar pada kandang dan pengurangan kepadatan juga dapat membantu.
Pengendalian biasanya ditekankan pada perbaikan manajeman yang optimal meliputi biosecurity ketat, sistem kandang yang memadai, sanitasi ketat, stres yang minimal, pencegahan penyakit imunosupresif yang optimal serta produksi secara All-in/all-out. Vaksinasi tehadap SHS menggunakan vaksin aktif atau gabungan vaksin aktif dan inaktif telah banyak dilakukan pada farm komersial dengan hasil yang cukup menjanjikan. Lived vaccines dapat mengurangi gejala klinis dan efek sampingan dengan spray atau drinking water, sedangkan inactivated vaccines digunakan terutama untuk ayam petelur.
Pada ayam petelur dan ayam bibit vaksin aktif dapat diberikan sekitar umur 11 minggu dan vaksin inaktif diberikan sekitar 3-4 minggu sebelum berproduksi. Pada ayam pedaging biasanya digunakan vaksin aktif dan dapat diberikan pada umur 9 hari.
Sumber
Akoso, Budi Tri, 1998, Kesehatan Unggas, Penerbit Kanisius, Yogyakarta
Tabbu, Charles Rangga, 2000, Penyakit Ayam dan Penanggulangannya Volume I, Penerbit Kanisius, Yogyakarta
http://www.thepoultrysite.com/
http://www.agriworld.nl/worldpoultry/headlines.asp?issue=420
http://www.poultrymed.com/Poultry/index.asp
1. Perubahan makroskopik
Unggas yang terserang mengalami perdarahan titik dan bendung pada selaput lendir sekat rongga hidung. Apabila kulit bagian muka dibuka, akan terlihat busung bernanah.
Perubahan yang terlihat tebatas pada daerah kepala dan saluran pernapasan bagian atas. Daerah muka sekitar mata akan terlihat bengkak, dimana kebengkakan ini dapat menyebar ke daerah intermandibular dan pial, terlihat juga adanya edema atau timbunan cairan mukus. Kerapkali timbunan cairan di daerah tersebut menjadi kental menyerupai keju dan tebalnya dapat mencapai beberapa cm. Tulang tengkorak bagian luar kerapkali menunjukkan adanya timbunan sejumlah cairan atau eksudat mukopurulent bernoda darah yang memberi petunjuk terhadap adanya proses keradangan pada daerah tersebut.
Pada daerah cavum nasi hanya terlihat kemerahan pada mukosa dengan eksudat yang minim, kecuali jika diikuti infeksi secunder oleh bakteri maka akan ditemukan eksudat mukopurulen. Mukosa palatum durum kemerahan dan kadang disertai oleh petekie, celah antara palatum durum biasanya melebar.
Daerah bagian dorsal kepala, fasial, atau intermandibular dan pial dapat mengalami pembengkakan akibat adanya edema subkutan atau timbunan cairan mukopurulent sampai purulent.
Lesi pada jaringan lain pada umumnya bersifat ringan dan dapat ditemukan terutama di larynx, trakea dan paru-paru serta ovarium. Jika ayam bertahan dari periode infeksi akut, maka kebengkakan di daerah kepala berkurang, tetapi jaringan yang bengkak akan mengeras, terutama jaringan intermandibula dan pial.
Jika terkena infeksi sekunder E.coli akan terjadi penumonia, airsacculitis perihepatitis, perikarditis dan peritonitis. Ayam pedaging yang terserang Mycoplasma sp. biasanya akan mederita SHS yang parah dan selanjutnya mengalami komplikasi dengan kolibasilosis sistemik.
2. Perubahan mikroskopis
Jaringan yang konsisten mengalami perubahan pada kasus SHS adalah kulit di daerah kepala yang membengkak. Pada epidermis bisanya terlihat adanya edema interseluler/degenerasi hidrofik. Perubahan pada dermis superfisial dapat berbentuk edema sampai infiltrasi limposit dan heterofil yang bersifat multifokal, terlihat juga adanya perifolikulitis dan perivaskulitis. Perubahan pada subkutis didominasi oleh reaksi heterofil, limposit, dan jaringan ikat disamping adanya nekrosis, hemoraghi, fibrin dan material mengkeju, biasanya ada abses atau radang granulomatosa.
Perubahan pada jaringan lain sehubungan dengan SHS meliputi rhinitis, laryngitis, tracheitis, pneumonia, dan ooforitis yang bersifat ringan.
Ayam sakit SHS boleh dipotong dang dagingnya dapat dikonsumsi. Sisa pemotongan harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau dikubur. Lesi bagian kepala yang sudah melanjut harus dibuang dan dimusnahkan.
Diagnosa dilakukan secara klinis didasarkan pada gejala spesifik untuk SHS. Diagnosa patologi didasarkan pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis bisa lebih tepat, walaupun pada kondisi tertentu harus diperkuat dengan uji serologik menggunakan ELISA, atau uji netralisasi virus. Serologis biasanya menggunakan uji ELISA dan uji netralisasi virus (VN), meskipun tidak semua komersial kit sensitif terhadap respon virus A dan B. Uji ELISA merupakan metode yang cepat dan praktis untuk mengevaluasi antibodi di dalam serum sekitar 10-14 pasca infeksi virus SHS. Isolasi virus dari trachea, paru-paru, atau eksudat nasal pada kultur telur ayam atau kalkun berembrio spesific pathogen free (SPF). Untuk pemeriksaan laboratorium sebaiknya dikirim ayam sakit yang masih hidup.
Infeksi dari Avian pneumovirus tidak dapat diobati. Pemberian antibiotik hanya untuk mengobati infeksi sekunder oleh bakteri untuk menghilangkan gejala kebengkakan pada kepala. Jenis obat yang diberikan biasanya dihubungkan dengan jenis bakteri yang menimbulkan infeksi sekunder yang dapat diperkirakan dari pemeriksaan patologik atau pemeriksaan bakteriologik. Dapat dilakukan dengan preparat sulfa, nitrofuran atau oksitetrasiklin untuk menurunkan kejadian infeksi. Harus mengevaluasi pemicu stres respirasi, klorinasi dari air minum, dan multivitamin. Udara segar pada kandang dan pengurangan kepadatan juga dapat membantu.
Pengendalian biasanya ditekankan pada perbaikan manajeman yang optimal meliputi biosecurity ketat, sistem kandang yang memadai, sanitasi ketat, stres yang minimal, pencegahan penyakit imunosupresif yang optimal serta produksi secara All-in/all-out. Vaksinasi tehadap SHS menggunakan vaksin aktif atau gabungan vaksin aktif dan inaktif telah banyak dilakukan pada farm komersial dengan hasil yang cukup menjanjikan. Lived vaccines dapat mengurangi gejala klinis dan efek sampingan dengan spray atau drinking water, sedangkan inactivated vaccines digunakan terutama untuk ayam petelur.
Pada ayam petelur dan ayam bibit vaksin aktif dapat diberikan sekitar umur 11 minggu dan vaksin inaktif diberikan sekitar 3-4 minggu sebelum berproduksi. Pada ayam pedaging biasanya digunakan vaksin aktif dan dapat diberikan pada umur 9 hari.
Sumber
Akoso, Budi Tri, 1998, Kesehatan Unggas, Penerbit Kanisius, Yogyakarta
Tabbu, Charles Rangga, 2000, Penyakit Ayam dan Penanggulangannya Volume I, Penerbit Kanisius, Yogyakarta
http://www.thepoultrysite.com/
http://www.agriworld.nl/worldpoultry/headlines.asp?issue=420
http://www.poultrymed.com/Poultry/index.asp