Thursday, July 1, 2010

Monyet Ekor Panjang (MEP)

Menurut Bonadio (2000) dan Lang (2006), MEP termasuk dalam kingdom Animalia, filum Chordata, subfilum Vertebrate, kelas Mammalia, ordo Primata, subordo Anthropoidea, infraordo Catarhini, superfamili Cercopithecoidea, famili Cercopithecidae, subfamili Cercopithecinae, genus Macaca, dan spesies Macaca fascicularis.
Monyet ekor panjang termasuk dalam ordo primata yang mempunyai banyak kesamaan dengan manusia, baik secara anatomi maupun fisiologis. Kesamaan yang menyolok dalam hal anatomi adalah kemampuan gerakan ekstremitas depan yang begitu baik, kuku yang datar, adanya lima jari pada masing-masing tangan dan kakinya, sepasang glandula mammae, dan mempunyai dua gigi insisi untuk setiap setengah rahang, sehingga peneliti di jaman dahulu, contohnya Galenus (180 SM) menggunakan satwa primata untuk mempelajari struktur tubuh manusia (Sulaksono, 2007).
Ciri-ciri MEP meliputi: panjang tubuh antara 385-648 mm, panjang ekor antara 400-655 mm, berat tubuh rata-rata jantan dewasa antara 3,5-8 kg dan betina dewasa sekitar 3 kg, warna tubuhnya bervariasi mulai dari abu-abu sampai kecoklatan dengan bagian ventral berwarna putih, jambang pada daerah pipi mencolok, dan anak yang baru lahir berambut kehitaman. Jenis yang mirip dengan MEP adalah lutung kelabu Prebytis cristata yang memiliki warna rambut kelabu namun tidak ada warna putih pada bagian perut dan anak yang baru lahir berwarna jingga. Monyet ekor panjang juga mirip dengan beruk Macaca nemestrina yaitu rambut berwarna kelabu namun beruk memiliki ekor yang pendek. Masa kebuntingan MEP antara 153-179 hari dan umumnya hanya melahirkan satu ekor anak dengan jarak kelahiran sekitar 13 bulan. Monyet ini dapat bertahan hidup hingga 37 tahun (Payne dkk., 2000; Supriatna dan Wahyono, 2000).
Penyebaran MEP cukup luas meliputi Sumatera, Kalimantan, Jawa, Lombok, Sumba, Sumbawa, dan Flores, di luar Indonesia dapat ditemukan di Kamboja, Laos, Vietnam, Malaysia, Thailand, Myanmar, dan Filiphina. MEP dapat hidup di taman nasional maupun di hutan-hutan dekat kebun, bahkan monyet ini menjadi hama di beberapa tempat. Habitat MEP adalah hutan primer dan sekunder, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi sekitar 1000 m di atas permukaan laut. Pada dataran tinggi, jenis monyet ini biasanya dijumpai di daerah pertumbuhan sekunder atau pada daerah perkebunan penduduk, namun seringkali juga ditemukan di hutan bakau sampai ke hutan di dekat perkampungan. Di Kalimantan, MEP dikenal di seluruh dataran rendah, terutama di wilayah pesisir, tetapi juga ada pada ketinggian sampai 1300 m di beberapa pegunungan (Payne dkk., 2000; Supriatna dan Wahyono, 2000; Suhartono dan Mardiastuti, 2002).
Makanan utama MEP adalah buah-buahan (60%), selebihnya berupa bunga, daun muda, biji, umbi, serangga, telur kodok, dan invertebrata pantai lainnya, sehingga digolongkan sebagai omnivora. Monyet yang hidup di rawa-rawa kadang-kadang turun ke tanah pada air surut dan berjalan menelusuri sungai mencari serangga. Monyet yang hidup di daerah bakau atau pesisir, sering dijumpai memakan kepiting atau jenis moluska lainnya, sehingga monyet ini sering disebut Crab-eating macaques (Payne dkk., 2000; Supriatna dan Wahyono, 2000).
Kehidupan sosial MEP berada dalam kelompok yang terdiri atas jantan dan betina dewasa dengan jumlah individu setiap kelompok berbeda-beda. Di hutan bakau umumnya berjumlah antara 10-20 ekor, sedangkan pada hutan primer bisa mencapai 20-30 ekor. Satu kelompok menempati suatu kawasan sampai seluas beberapa puluh hektar dan setiap hari berjalan dari 150-1500 m. Besar kecilnya kelompok ditentukan oleh ada tidaknya pemangsa atau kelimpahan sumber pakan di alam. MEP jika sedang sendirian cenderung tidak terlalu ramai dibandingkan lutung yang sedang melakukan perjalanan melalui tajuk pohon, tetapi jika dalam kelompok MEP lebih ramai. Jenis pergerakan genus Macaca pada umumnya diklasifikasikan sebagai quadropedal, yaitu berjalan dengan empat anggota badannya. Macaca pada umumnya juga dapat memanjat dan meloncat mencapai 5 m, serta berenang dengan baik. MEP bersifat diurnal, artinya aktif pada siang hari (Payne dkk., 2000; Supriatna dan Wahyono, 2000).
Sumber
1. Bonadio, C., 2000. Macaca fascicularis. http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/accounts/information/Macaca_fascicularis.html. [Diakses tanggal 17 Maret 2008].
2. Lang, K. C., 2006. Primate Factsheets : Long-tailed macaque (Macaca fascicularis) Taxonomy, Morphology, & Ecology. http://pin.primate.wisc.edu/factsheets/entry/long-tailed_macaque. [Diakses tanggal 7 Desember 2007].
3. Payne, J., Francis, C. M., dan Phillips, K., 2000. Panduan Lapangan Mamalia di Kalimantan, Sabah, Serawak, dan Brunei Darussalam (Diterjemahkan oleh Kartikasari, S. N.). The Sabah Society, Malaysia.
4. Sulaksono, M. B., 2007. Peranan Primatologi dalam Mengembangkan Ilmu Kedokteran dan Biologi. http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/21_PerananPrimatologi.pdf/21_PerananPrimatologi.html. [Diakses tanggal 5 Maret 2008].
5. Supriatna, J. dan Wahyono, E. H., 2000. Panduan Lapangan Primata Indonesia. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.