Tidur adalah kebutuhan pokok manusia, tubuh memerlukan tidur lelap untuk mendapatkan growth hormon dan suntikan imunitas. Sayangnya, ada saja faktor yang dapat menghambat terciptanya tidur lelap, kondisi tersebut dapat disebut sebagai insomnia.
Ada 3 tipe insomnia, yang pertama insomnia transien yaitu insomnia yang terjadi saat ada faktor pemicu misalnya stres akut, jet lag, jadwal kerja, dll. Sifatnya temporer dan akan kembali normal begitu akar persoalannya teratasi, dan berlangsung kurang dari 1 minggu. Insomnia jangka pendek biasa berlangsung 1-4 minggu karena adanya stresor yang berkelanjutan. Sedangkan insomnia kronis bisa berlangsung berminggu-minggu bahkan bisa menetap sampai hitungan tahun.
Insomnia kronis diperkirakan telah menjangkiti tiga juta warga indonesia. Bagi pengidapnya, tantangan terjadi pada memulai tidur dan rasa penat masih tersisa saat bagun tidur. Mereka jadi mudah marah, serta konsentrasi dan sosialisasi terganggu. Penyebabnya antara lain depresi, penyakit tertentu, bipolar, dll. Insomnia kronis muncul bukan karena faktor tunggal, itu terjadi karena adanya perubahan hormon otak dan struktur kimia otak dengan gangguan psikiatris sebagai pelengkapnya.
Mimpi dengan banyak tema dalam satu malam menunjukkan kualitas tidur yang kurang baik. Anda tidak akan mengingat mimpi tadi malam jika tubuh benar-benar terlelap. Faktanya wanita lebih banyak mengalami insomnia, karena pengaruh hormon estrogen.
Insomnia dapat diatasi dengan obat seperti golongan benzodiazepin dengan efek sedasi dan ramelteon yang bekerja spesifik pada melatonin yang mempengaruhi unit yang mengatur jam utama tubuh termasuk siklus tidur. Namun insomnia dapat juga diatasi dengan memperbaiki higiene tidur, terutama pada kasus insomnia transien.
Higiene tidur penting menjadi kebiasaan semua orang. Bagun pagi teratur, tidur begitu mengantuk, dan tidak tidur di siang hari. Selain itu juga menjauhi cokelat, rokok, dan alkohol. Higiene tidur juga berkaitan dengan pengelolaan stres sehingga perlu melatih relaksasi. Lampu yang redup berperan pula dalam tidur karena pengeluaran melatonin dipicu oleh gelap, seiring dengan itu suhu tubuh menurun dan tubuh terkondisi utnuk tidur lelap.
Insomnia kronis diperkirakan telah menjangkiti tiga juta warga indonesia. Bagi pengidapnya, tantangan terjadi pada memulai tidur dan rasa penat masih tersisa saat bagun tidur. Mereka jadi mudah marah, serta konsentrasi dan sosialisasi terganggu. Penyebabnya antara lain depresi, penyakit tertentu, bipolar, dll. Insomnia kronis muncul bukan karena faktor tunggal, itu terjadi karena adanya perubahan hormon otak dan struktur kimia otak dengan gangguan psikiatris sebagai pelengkapnya.
Mimpi dengan banyak tema dalam satu malam menunjukkan kualitas tidur yang kurang baik. Anda tidak akan mengingat mimpi tadi malam jika tubuh benar-benar terlelap. Faktanya wanita lebih banyak mengalami insomnia, karena pengaruh hormon estrogen.
Insomnia dapat diatasi dengan obat seperti golongan benzodiazepin dengan efek sedasi dan ramelteon yang bekerja spesifik pada melatonin yang mempengaruhi unit yang mengatur jam utama tubuh termasuk siklus tidur. Namun insomnia dapat juga diatasi dengan memperbaiki higiene tidur, terutama pada kasus insomnia transien.
Higiene tidur penting menjadi kebiasaan semua orang. Bagun pagi teratur, tidur begitu mengantuk, dan tidak tidur di siang hari. Selain itu juga menjauhi cokelat, rokok, dan alkohol. Higiene tidur juga berkaitan dengan pengelolaan stres sehingga perlu melatih relaksasi. Lampu yang redup berperan pula dalam tidur karena pengeluaran melatonin dipicu oleh gelap, seiring dengan itu suhu tubuh menurun dan tubuh terkondisi utnuk tidur lelap.
