Lesi yang terlihat biasanya terbatas pada saluran pernapasan bagian atas, terutama larynx dan trakea, meskipun conjunctiva dan jaringan respiratori yang lain juga dapat terpengaruh. Bentuk berat ditandai dengan adanya eksudat kaseus, selaput difteritik, mukus dan perdarahan di dalam trakea, yang kerap kali menyumbat daerah laring dan siring. Trakea kerapkali sangat kongestif dan sianotik. Bentuk ringan ditandai oleh adanya mukus yang berlebihan dengan/tanpa sejumlah kecil eksudat difteritik di dalam trakea. Lubang hidung biasanya mengalami keradangan dan berisi eksudat kaseus. Terlihat juga adanya dan difteritik di dalam jaringan orofaring. Lesi ini dapat dikelirukan dengan fowl pox dan defisiensi vitamin A.
Paru dan kantung udara jarang terkena; paru dapat mengalami kongesti dan kantung udara menebal dan tertutup oleh eksudat kaseus. Bentuk perakut ditandai oleh adanya pendarahan dan bekuan darah di dalam trakea (pada bagian tertentu atau seluruhnya); dapat juga trakea hanya terisi oleh mukus yang ternoda oleh darah; bronki primer dapat juga menunjukkan lesi yang sama dengan trakea.
Pada kasus tertentu, semua bentuk ILT dapat ditemukan; dapat hanya bentuk ringan atau bentuk berat pada kasus dan berakhir dengan bentuk yang lebih ringan. Pada sejumlah kasus, ayam yang terserang mungkin hanya menunjukkan keradangan pada konjungtiva dan trakea.
2. Perubahan Mikroskopik
Pada stadium awal akan ditemukan adanya kebengkakan sel, diikuti oleh hilangnya silia dan goblet sel, infiltrasi sel radang pada mukosa, dan edema selular. Setelah 2-3 hari, akan terlihat adanya infiltrasi limfosit, heterofil dan sel plasma di dalam mukosa dan submukosa. Selanjutnya akan diikuti oleh nekrosis epitel dan hemorragik. Jika proses penyakit melanjut, maka infiltrasi sel radang akan makin ekstensif. Lesi yang karakteristik untuk ILT adalh pembentukan benda inklusi intranuklear, yang hanya dapat diamati selama beberapa hari sebelum terjadi deskuamasi epitel. Perubahan tersebut di atas sangat parah pada trakea dan laring.
Menurut Jordan (1981), beberapa tipe respon imun terlibat setelah terjadi infeksi ILTV. Antibodi netralisasi virus dapat terdeteksi pada 5-7 hari post infeksi, dengan puncaknya pada hari 21 dan antibodi terdeteksi pada level yang rendah dalam waktu tahunan (Hitchner et al., 1958).
York et al. (1989) menemukan bahwa antibodi spesifik yang melawan ILTV terdeteksi pada trachea dari 5 hari post infeksi. Antibodi Ig A tampak pada hari ke-6 namun antibodi netralisasi tidak dapat terdeteksi samapi hari ke-14. pada ayam yang telah divaksin ILTV tampak peningkatan jumlah Ig-A dan Ig-G pada trachea.
Maternal antibodi terhadap ILTV tidak melindungi terhadap infeksi atau menginterferensi vaksinasi (Fahey et al., 1983). Vaksinasi ILTV atau eksposure di lapangan pada ayam berumur lebih dari 2 minggu memberikan proteksi lengkap selama 6-8 hari. Kerentanan ayam terhadap ILTV menurun seiring bertambahnya umur. Ayam jantan lebih rentan dibandingkan yam betina. (Benton et al., 1958; Gelenczei & Marty, 1964; Hitchner, 1975). Suhu lingkungan yang tinggi (35°C) juga menyebabkan mortalitas yang lebih tinggi pada breed yang beart/heavy dibandingkan dengan breed yang ringan/light.
ILT merupakan penyakit respirasi viral dengan List E pada Epidemiology Office International des Epizooties (OIE). Ayam merupakan hospes primer utnuk ILTV, dan tidaka ada spesies reservoir lain meskipun beberapa unggas secara alami dapat terinfeksi karena kontak dengan ayam yang aktif menyebarkan ILTV (Guy & Bagust, 2003).
Sumber dari ILTV adalah ayam yang terinfeksi, ayam sebagai carrier latent, muntahan dan personil peternakan yang terkontaminasi ILTV.
Tidak tergantung dari cara penularannya (nasal, oral, conjunctiva, atau intraorbital sinus) epithel dari trachea dan larynx selalu terpengaruh oleh ILTV, dan sebgaian besar viral replikasi aktif akan terjadi pada trachea.
Sporadic kasus sporadik terjadi pada semua kelas ayam, termasuk hobby/show/game ayam, broilers, heavy breeders, and leghorns. Untungnya, ILT menyebar secra lambat. Jika diagnosa ILT teramati pada awal outbreak, vaksinasi pada ayam yang belum terinfeksi dapat menambah proteksi sebelum ayam yang lain terinfeksi.
Pada bentuk akut,diagnosis ILT dapat didasarkan pada anamnesa, gejala klinik, dan perubahan patologik yang tersifat untuk penyakit ini.pada ILT bentuk ringan, gejala klinis dan perubahan patologik biasanya mirip dengan penyakit pernapasan lainnya sehingga diagnosis perlu didasarkan atas isolasi dan identifikasi virus.
Isolasi virus dapat dilakukan pada telur ayam berembrio, kultur jaringan, dan secara in vivo pada ayam yang peka melalui trakea dan sinus infraorbitalis. Bahan yang dipakai untuk isolasi virus adalah jaringan trakea dan pulmo. Diagnosis ILT dapat juga dilakukan dengan pengecatan Giemsa pada trakea dan konjungtiva untuk membuktikan adanya benda inklusi intranuklear. Benda inklusi dapat diamati pada stadium awal penyakit ini, yaitu sekitar 1-5 hari sebelum terjadinya nekrosis dan deskuamasi epitel. Penggunaan cairan fiksatif dengan pH rendah sangat penting untuk dapat menemukan benda inklusi pada jaringan yang diwarnai.
Pemeriksaan serologik yang meliputi agar gel immunodiffusion (AGID), virus neutralization (VN), indirect fluorescent antibody (IFA) test, fluorescence antibody, agar gel presipitasi (AGP), dan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), dapat dipakai untuk membuktikan adanya antibodi terhadap virus ILT. ELISA mudah digunakan pada jumlah sera yang banyak, dan lebih sensitif dibandingkan VN, dan sebanding dengan kesensitifan IFA. Differensial diagnosa; fowl pox bentuk basah dan infectious coryza.
Pada kasus tertentu, semua bentuk ILT dapat ditemukan; dapat hanya bentuk ringan atau bentuk berat pada kasus dan berakhir dengan bentuk yang lebih ringan. Pada sejumlah kasus, ayam yang terserang mungkin hanya menunjukkan keradangan pada konjungtiva dan trakea.
2. Perubahan Mikroskopik
Pada stadium awal akan ditemukan adanya kebengkakan sel, diikuti oleh hilangnya silia dan goblet sel, infiltrasi sel radang pada mukosa, dan edema selular. Setelah 2-3 hari, akan terlihat adanya infiltrasi limfosit, heterofil dan sel plasma di dalam mukosa dan submukosa. Selanjutnya akan diikuti oleh nekrosis epitel dan hemorragik. Jika proses penyakit melanjut, maka infiltrasi sel radang akan makin ekstensif. Lesi yang karakteristik untuk ILT adalh pembentukan benda inklusi intranuklear, yang hanya dapat diamati selama beberapa hari sebelum terjadi deskuamasi epitel. Perubahan tersebut di atas sangat parah pada trakea dan laring.
Menurut Jordan (1981), beberapa tipe respon imun terlibat setelah terjadi infeksi ILTV. Antibodi netralisasi virus dapat terdeteksi pada 5-7 hari post infeksi, dengan puncaknya pada hari 21 dan antibodi terdeteksi pada level yang rendah dalam waktu tahunan (Hitchner et al., 1958).
York et al. (1989) menemukan bahwa antibodi spesifik yang melawan ILTV terdeteksi pada trachea dari 5 hari post infeksi. Antibodi Ig A tampak pada hari ke-6 namun antibodi netralisasi tidak dapat terdeteksi samapi hari ke-14. pada ayam yang telah divaksin ILTV tampak peningkatan jumlah Ig-A dan Ig-G pada trachea.
Maternal antibodi terhadap ILTV tidak melindungi terhadap infeksi atau menginterferensi vaksinasi (Fahey et al., 1983). Vaksinasi ILTV atau eksposure di lapangan pada ayam berumur lebih dari 2 minggu memberikan proteksi lengkap selama 6-8 hari. Kerentanan ayam terhadap ILTV menurun seiring bertambahnya umur. Ayam jantan lebih rentan dibandingkan yam betina. (Benton et al., 1958; Gelenczei & Marty, 1964; Hitchner, 1975). Suhu lingkungan yang tinggi (35°C) juga menyebabkan mortalitas yang lebih tinggi pada breed yang beart/heavy dibandingkan dengan breed yang ringan/light.
ILT merupakan penyakit respirasi viral dengan List E pada Epidemiology Office International des Epizooties (OIE). Ayam merupakan hospes primer utnuk ILTV, dan tidaka ada spesies reservoir lain meskipun beberapa unggas secara alami dapat terinfeksi karena kontak dengan ayam yang aktif menyebarkan ILTV (Guy & Bagust, 2003).
Sumber dari ILTV adalah ayam yang terinfeksi, ayam sebagai carrier latent, muntahan dan personil peternakan yang terkontaminasi ILTV.
Tidak tergantung dari cara penularannya (nasal, oral, conjunctiva, atau intraorbital sinus) epithel dari trachea dan larynx selalu terpengaruh oleh ILTV, dan sebgaian besar viral replikasi aktif akan terjadi pada trachea.
Sporadic kasus sporadik terjadi pada semua kelas ayam, termasuk hobby/show/game ayam, broilers, heavy breeders, and leghorns. Untungnya, ILT menyebar secra lambat. Jika diagnosa ILT teramati pada awal outbreak, vaksinasi pada ayam yang belum terinfeksi dapat menambah proteksi sebelum ayam yang lain terinfeksi.
Pada bentuk akut,diagnosis ILT dapat didasarkan pada anamnesa, gejala klinik, dan perubahan patologik yang tersifat untuk penyakit ini.pada ILT bentuk ringan, gejala klinis dan perubahan patologik biasanya mirip dengan penyakit pernapasan lainnya sehingga diagnosis perlu didasarkan atas isolasi dan identifikasi virus.
Isolasi virus dapat dilakukan pada telur ayam berembrio, kultur jaringan, dan secara in vivo pada ayam yang peka melalui trakea dan sinus infraorbitalis. Bahan yang dipakai untuk isolasi virus adalah jaringan trakea dan pulmo. Diagnosis ILT dapat juga dilakukan dengan pengecatan Giemsa pada trakea dan konjungtiva untuk membuktikan adanya benda inklusi intranuklear. Benda inklusi dapat diamati pada stadium awal penyakit ini, yaitu sekitar 1-5 hari sebelum terjadinya nekrosis dan deskuamasi epitel. Penggunaan cairan fiksatif dengan pH rendah sangat penting untuk dapat menemukan benda inklusi pada jaringan yang diwarnai.
Pemeriksaan serologik yang meliputi agar gel immunodiffusion (AGID), virus neutralization (VN), indirect fluorescent antibody (IFA) test, fluorescence antibody, agar gel presipitasi (AGP), dan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), dapat dipakai untuk membuktikan adanya antibodi terhadap virus ILT. ELISA mudah digunakan pada jumlah sera yang banyak, dan lebih sensitif dibandingkan VN, dan sebanding dengan kesensitifan IFA. Differensial diagnosa; fowl pox bentuk basah dan infectious coryza.