Penyebaran melalui udara telah dibuktikan terjadi di suatu gua dimana terdapat banyak kelelawar yang hinggap dan pernah juga terjadi di laboratorium, namun kejadiannya sangat jarang. Di Amerika Latin, penularan melalui kelelawar vampire yang terinfeksi kepada binatang domestik sering terjadi. Di Amerika Serikat kelelawar pemakan serangga jarang menularkan rabies kepada binatang di darat baik kepada binatang domestik maupun binatang liar.
Diagnosa dapat dilakukan berdasar gejala klinis yang tampak. Namun juga dapat dilakukan melalui teknik laboratorium antara lain :
1. Menemukan adanya benda inklusi pada sel otak
2. Metode IFAT (Indirect Flouroescent Antibody Technique)
3. Inokulasi hewan percobaan
4. Teknik NPLA (Neutralization Peroxidase Linked Assay)
5. Teknik FAVN (Flouroescent Antibody Virus Neutralization test)
6. Deteksi antigen dengan rapid rabies enzym immunodiagnostic (RREID)
7. Pembuatan konjugat flouroescentisothiocyanate (FITC)
8. Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)
9. RT-PCR
Pencegahan dan pengendaliannya yaitu :
1. Undang-undang dan peraturan tentang pengendalian rabies harus dijalankan secara tegas.
2. Vaksinasi
3. Pengamatan epidemiologik secara rutin
4. Penyuluhan yang mantap dan terus-menerus
5. Pengawasan lalu lintas ternak
6. Lakukan pendaftaran, berikan lisensi dan imunisasi kepada semua anjing di negara-negara enzootik, imunisasi semua kucing.
7. Cara yang paling efektif untuk mencegah rabies adalah dengan segera dan dengan secara seksama membersihkan luka gigitan atau cakaran binatang dengan sabun atau detergen lalu dibasuh dengan air.
8. Pencegahan imunologis terhadap rabies pada manusia adalah dengan memberikan Human Rabies Immunoglobulin (HRIG) secepat mungkin setelah terpajan untuk menetralisir virus pada luka gigitan, kemudian berikan vaksin pada tempat yang berbeda untuk mendapatkan imunitas aktif.
Pemberantasan rabies di Inggris dilakukan dengan: (1) pembunuhan anjing geladak, (2) penggunaan penutup moncong bagi anjing yang keluar rumah, (3) pengurangan populasi rubah, dan (4) pengawasan ketat terhadap lalu lintas anjing dan kucing. Masa karantina enam bulan diterapkan terhadap anjing dan kucing yang akan masuk Inggris. Inggris bebas rabies tahun 1903.
Sekali penyakit rabies berkembang lebih lanjut, maka tidak ada lagi pengobatan spesifiknya, walaupun begitu terapi suportif dapat membantu untuk mengendalikan penyakit ini.
a) Orang yang berisiko tinggi (dokter hewan, petugas suaka alam dan petugas keamanan taman di daerah enzootik atau epizootik, petugas pada karantina, laboratorium dan petugas lapangan yang bekerja dengan rabies dan wisatawan yang berkunjung dalam waktu yang lama ke daerah endemis rabies) harus diberi imunisasi
b) Pengobatan terhadap gigitan binatang
1. Bersihkan dan basuh luka dengan segera (pertolongan pertama).
2. Bersihkan luka dengan seksama dibawah supervisi medis.
3. Berikan rabies immunoglobulin dan atau vaksin anti rabies sesuai dengan indikasi.
4. Berikan profilaksis terhadap tetanus dan berikan pengobatan antibakterial bila diperlukan.
5. Luka jangan dijahit atau ditutup kecuali kalau tidak dapat dihindari.
Sumber
http://www.who-rabies-bulletin.org
http://www.nathnac.org
http://www.miamidade.gov
http://www.cdc.gov/ncidod/dvrd/rabies
http://www.tempointeraktif.com/
http://www.kompas.com/kompas-cetak/
http://www.keswan.ditjennak.go.id/
http://www.penyakitmenular.info/
http://www.who.int/
http://www.rabies.net/
Diagnosa dapat dilakukan berdasar gejala klinis yang tampak. Namun juga dapat dilakukan melalui teknik laboratorium antara lain :
1. Menemukan adanya benda inklusi pada sel otak
2. Metode IFAT (Indirect Flouroescent Antibody Technique)
3. Inokulasi hewan percobaan
4. Teknik NPLA (Neutralization Peroxidase Linked Assay)
5. Teknik FAVN (Flouroescent Antibody Virus Neutralization test)
6. Deteksi antigen dengan rapid rabies enzym immunodiagnostic (RREID)
7. Pembuatan konjugat flouroescentisothiocyanate (FITC)
8. Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)
9. RT-PCR
Pencegahan dan pengendaliannya yaitu :
1. Undang-undang dan peraturan tentang pengendalian rabies harus dijalankan secara tegas.
2. Vaksinasi
3. Pengamatan epidemiologik secara rutin
4. Penyuluhan yang mantap dan terus-menerus
5. Pengawasan lalu lintas ternak
6. Lakukan pendaftaran, berikan lisensi dan imunisasi kepada semua anjing di negara-negara enzootik, imunisasi semua kucing.
7. Cara yang paling efektif untuk mencegah rabies adalah dengan segera dan dengan secara seksama membersihkan luka gigitan atau cakaran binatang dengan sabun atau detergen lalu dibasuh dengan air.
8. Pencegahan imunologis terhadap rabies pada manusia adalah dengan memberikan Human Rabies Immunoglobulin (HRIG) secepat mungkin setelah terpajan untuk menetralisir virus pada luka gigitan, kemudian berikan vaksin pada tempat yang berbeda untuk mendapatkan imunitas aktif.
Pemberantasan rabies di Inggris dilakukan dengan: (1) pembunuhan anjing geladak, (2) penggunaan penutup moncong bagi anjing yang keluar rumah, (3) pengurangan populasi rubah, dan (4) pengawasan ketat terhadap lalu lintas anjing dan kucing. Masa karantina enam bulan diterapkan terhadap anjing dan kucing yang akan masuk Inggris. Inggris bebas rabies tahun 1903.
Sekali penyakit rabies berkembang lebih lanjut, maka tidak ada lagi pengobatan spesifiknya, walaupun begitu terapi suportif dapat membantu untuk mengendalikan penyakit ini.
a) Orang yang berisiko tinggi (dokter hewan, petugas suaka alam dan petugas keamanan taman di daerah enzootik atau epizootik, petugas pada karantina, laboratorium dan petugas lapangan yang bekerja dengan rabies dan wisatawan yang berkunjung dalam waktu yang lama ke daerah endemis rabies) harus diberi imunisasi
b) Pengobatan terhadap gigitan binatang
1. Bersihkan dan basuh luka dengan segera (pertolongan pertama).
2. Bersihkan luka dengan seksama dibawah supervisi medis.
3. Berikan rabies immunoglobulin dan atau vaksin anti rabies sesuai dengan indikasi.
4. Berikan profilaksis terhadap tetanus dan berikan pengobatan antibakterial bila diperlukan.
5. Luka jangan dijahit atau ditutup kecuali kalau tidak dapat dihindari.
Sumber
http://www.who-rabies-bulletin.org
http://www.nathnac.org
http://www.miamidade.gov
http://www.cdc.gov/ncidod/dvrd/rabies
http://www.tempointeraktif.com/
http://www.kompas.com/kompas-cetak/
http://www.keswan.ditjennak.go.id/
http://www.penyakitmenular.info/
http://www.who.int/
http://www.rabies.net/