Tuesday, July 13, 2010

Fakta dan Ancaman terhadap Orangutan dan Habitatnya


Artikel ini disarikan dari situs BOS [The Borneo Orangutan Survival Foundation] .
Orangutan adalah kera besar yang hanya terdapat di Asia. Kera besar lainnya ada di Afrika yaitu simpanse , gorila dan banobo. Orangutan termasuk ke dalam Ordo Primata, Familia Pongidae, dan species Pongo pygmaeus (orangutan Kalimantan) dan Pongo abelli (orangutan Sumatera).
Orangutan Sumatera memiliki ciri fisik badan yang lebih besar, dan rambut berwarna coklat kemerah-merahan. Sedangkan orangutan Kalimantan ciri fisik badannya terlihat lebih kecil, dan rambut berwarna oranye. Secara umum, orangutan jantan memiliki cheekpad pada kedua pipinya dan ukuran tubuhnya dua kali lebih besar dari betina, dengan berat tubuh di alam berkisar antara 50-90 kg.

Habitat orangutan adalah di hutan hujan tropik dataran rendah, hutan berawa atau hutan perbukitan pada ketinggian 1500 m dpl. Kini hanya bisa ditemukan di hutan Kalimantan, Sumatera, serta Malaysia (Sabah dan Sarawak).
Orangutan termasuk hewan pelahap buah. Mereka juga memakan daun, bunga dan kambium. Juga rayap dan semut guna mendapatkan protein. Sedangkan untuk mendapatkan kandungan mineral, kadang mereka memakan tanah.
Kebiasaannya memakan buah serta menjelajah dari satu pohon ke pohon lainnya, sangat berperan dalam regenerasi tumbuhan hutan. Orangutan juga membantu tumbuhan di bawah mendapatkan sinar matahari dengan membengkokkan ranting saat melintasi kanopi hutan.
Orangutan hidup semi solitaire. Mereka bersosialisasi dengan individu lainnya pada saat kawin yang berlangsung selama 2-3 minggu dan saat mengasuh anaknya. Orangutan melahirkan hanya satu anak setiap kelahiran, setelah 8-5 bulan mengandung. Orangutan bisa hidup hingga 50-60 tahunan lebih.
Menurut data yang dikeluarkan International Workshop on Population Habitat Viability Analysis (PHVA)-2004, populasi orangutan di Kalimantan ada 57.797. Sementara populasi orangutan di Sumatera ada 7.501.
International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN/2004) memasukkan kategori Critical Endangered /kritis. Menurut IUCN diperkirakan dalam satu sampai tiga dekade ke depan orangutan dikategorikan akan punah. Ini pasti terjadi jika tidak ada upaya serius dalam mengatasi kepunahan tersebut.
Sejak makin maraknya pembukaan lahan untuk perkebunan sawit yang mengelilingi hutan rimba yang mencerminkan tata ruang wilayah yang kurang begitu baik, semakin membuat orangutan kehilangan habitatnya. Setiap bulan Tim Rescue BOS menyelamatkan orangutan yang tersesat di perkebunan sawit yang baru dibuka. Namun kondisi orangutan yang akan diselamatkan tidak selalu mulus yang dibayangkan. Ada yang sudah terbunuh terpotong-potong begitu saja. Ada juga yang mengalami patah tulang kaki atau tangan, bahkan beberapa di antaranya di kubur hidup-hidup. Ada pula yang dibakar hingga tewas.
Kebakaran hutan telah meluluhlantakkan semua keragamanhayati yang ada dalam hutan rimba. Juga membuat orangutan liar mati karena hangus terbakar atau mengalami luka bakar yang amat parah. Sejumlah pohon buah ikut terbakar, sehingga orangutan sulit mencari makanan. Kebakaran ini terjadi bukan karena fenomena alami musim kemarau, tetapi lebih dipicu oleh ulah manusia sendiri, yaitu karena cara potong dan bakar pada lahan hutan gambut). Cara ini juga menyebabkan lumut dan batu bara yang terdapat di bawah tanah menyala secara spontan.
Orangutan menghabiskan kegiatan hidupnya di atas pohon. Namun akibat penebangan hutan baik legal maupun illegal, telah membuat kehidupan orangutan maupun makhluk hidup lainnya terancam punah. Orangutan yang mempunyai rutinitas menjelajah hingga 10.000 km, daya jelajah maupun kesempatan mendapatkan makanan mereka menjadi semakin sulit.
Ketika kehidupan orangutan makin terdesak dan ”dikepung” tanaman konversi monokultur yang luas, kadang orangutan jadi sangat mudah terlihat. Orangutan mudah ditangkap ketika ada di atas tanah karena gerakannya lebih lambat daripada ketika masih ada di pohon. Yang menjadi incaran adalah anak orangutan, para pemburu setidaknya harus membunuh tiga orangutan dewasa termasuk induknya sebelum mendapatkan bayi orangutan. Peminatnya memang cukup banyak karena tampang bayi orangutan yang imut dan lucu. Pemeliharanya justru tidak menyadari akan bahaya virus pada kera besar. Belum lagi bayi orangutan itu nantinya tidak akan lucu lagi, malah mungkin membahayakan bagi pemeliharanya.