Rabies disebabkan oleh virus rabies yang termasuk dalam ordo Mononegavirales, famili Rhabdoviridae, dan genus Lyssavirus. Struktur Rhabdovirus adalah mempunyai panjang 180 nm dan lebar 75 nm. Envelopenya terdiri atas 50% lemak dan 50% protein. Genom dari rabies mengkode 5 protein yaitu nucleoprotein (N), phosphoprotein (P), matrix protein (M), glycoprotein (G) dan polymerase (L). Semua Rhabdovirus memiliki dua struktur komponen mayor yaitu helical ribonucleoprotein core dan amplop.
Virus ini menyerang sistem syaraf pusat, menyebabkan paralisa progresif, encephalitis koma dan merupakan infeksi yang berakibat fatal. Meskipun rabies terjadi terutama pada hewan yang berdarah panas (domestik maupun hewan liar), namun dapat bertransmisi ke manusia, biasanya melalui gigitan hewan yang terinfeksi.
Virus ini berkembang biak dalam kelenjar ludah hewan terserang, terutama ketika hewan penular rabies terjadi viremia. Sangat peka terhadap pelarut-pelarut yang bersifat alkalis seperti sabun, desinfektan, alkohol, dll.
Karnivora seperti serigala dan rakun, serta kelelawar merupakan hospes alami virus rabies. Mamalia terdomestikasi juga dapat terinfeksi rabies. Kucing, sapi dan anjing adalah hewan yang paling sering dilaporkan terinfeksi rabies. Manusia juga dapat terinfeksi melalui gigitan hewan terinfeksi.
Sumber utama penularan rabies adalah dari anjing, terutama pada daerah tropik. Di Indonesia sumber penularan adalah anjing geladak yang bebas berkeliaran.
Masa inkubasi dari rabies adalah 20-90 hari, meskipun pada beberapa kasus bisa menjadi lebih cepat atau lebih lambat. Masa inkubasi sangat tergantung pada tingkat keparahan luka, lokasi luka yang erat kaitannya dengan keadatan jaringan saraf di lokasi luka dan jarak luka dari otak, dan tergantung pula dengan jumlah dan strain virus yang masuk, serta tergantung dari perlindungan oleh pakaian dan faktor-faktor lain. Sekali virus mencapai otak atau medula spinalis maka gejala rabies akan terlihat. Karena rabies adalah penyakit yang bersifat fatal maka sekali manusia menunjukkan gejala klinis, mereka biasanya akan meninggal. Gejala dari rabies dibedakan menjadi :
1. Stadium prodromal
Gejala awal berupa demam, sakit kepala, malaise, sakit tulang, kehilangan nafsu makan, mual, rasa nyeri di tenggorokan, batuk dan kelelahan luar biasa selama beberapa hari (1-4 hari).
2. Fase neurologik akut dan Stadium Sensoris
Ditandai dengan sistem syaraf yang mulai tidak berfungsi. Penderita merasa nyeri, rasa panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka gigitan. Kemudian disusul dengan gejala cemas dan reaksi yang berlebihan terhadap rangsang sensorik.
3. Fase furious/eksitasi
Tonus otot-otot dan aktivitas simpatik menjadi meninggi dengan gejala hiperhidrosis, hipersalivasi, hiperlakrimasi dan pupil dilatasi. Bersamaan dengan stadium eksitasi ini penyakit mencapai puncaknya yang sangat khas yaitu adanya macam-macam fobia, diantaranya hidrofobia (takut air). Pada stadium ini dapat terjadi apnoe, sianosis, konvulsan dan takikardi. Gejala eksitasi ini dapat terus berlangsung sampai penderita meninggal, tetapi pada saat dekat kematian justru lebih sering terjadi otot-otot melemas, hingga terjadi paresis flaksid otot-otot.
4. Fase paralitik
Sebagian besar penderita rabies meninggal dalam stadium eksitasi. Kadang-kadang ditemukan juga kasus tanpa gejala-gejala eksitasi, melainkan paresis otot-otot yang bersifat progresif. Hal ini karena gangguan sumsum tulang belakang yang memperlihatkan gejala paresis otot-otot yang bersifat asendens, yang selanjutnya meninggal karena kelumpuhan otot-otot pernapasan. Tanpa perawatan serius, kematian dapat terjadi 4-20 hari setelah gejala-gejala muncul.
5. Fase koma
Rabies endemik pada populasi anjing pada kebanyakan negara berkembang, namun tidak selalu dilaporkan sehingga menyebabkan kurang akuratnya data . Ada dua bentuk rabies pada hewan yaitu:
a) Dumb rabies (bentuk tenang)
b) Furious rabies (bentuk ganas)
Pada anjing dan kucing biasanya bersifat ganas. Masa inkubasi 10-60 hari namun bisa juga lebih lama. Gejala dari rabies dibedakan menjadi :
1. Fase prodromal (awal)
Bersikap tidak normal, bersembunyi pada tempat yang gelap, gelisah, tidak dapat tidur, reflek keaktifan meningkat, anoreksia, nyeri pada gigitan, dan suhu tubuh meningkat.
2. Fase eksitasi (1-3 hari)
Agresif, suka menggigit, paralisa otot untuk menelan sehingga menyebabkan hipersalivasi, dan terjadi perubahan pada gonggongan(serak dan meraung) karena paralisa pada sebagian saraf vokal.
3. Fase yang lebih parah (akhir)
Konvulsi, kejang, dan inkoordinasi otot dan melanjut menjadi paralisa dan diikuti oleh kematian.
Pada sapi, rabies ditularkan oleh kelelawar (vampire bat), biasanya bersifat tenang. Gejala klinis yaitu dilatasi pupil, depresi, gerakan abnormal kaki belakang, termor, tidak bisa istirahat, inkoordinasi otot, kontraksi otot leher, punggung dan kaki, serta sulit menelan. Pada fase akhir hewan ambruk dengan keadaan kurus, bibir atas dilapisi buih kuning berbusa dan konstipasi. Gejala kelumpuhan biasanya terjadi pada hari kedua dan ketiga setelah munculnya gejala. Rabies pada kuda, domba dan kambing mirip denagn gejala rabies pada sapi.
Virus ini menyerang sistem syaraf pusat, menyebabkan paralisa progresif, encephalitis koma dan merupakan infeksi yang berakibat fatal. Meskipun rabies terjadi terutama pada hewan yang berdarah panas (domestik maupun hewan liar), namun dapat bertransmisi ke manusia, biasanya melalui gigitan hewan yang terinfeksi.
Virus ini berkembang biak dalam kelenjar ludah hewan terserang, terutama ketika hewan penular rabies terjadi viremia. Sangat peka terhadap pelarut-pelarut yang bersifat alkalis seperti sabun, desinfektan, alkohol, dll.
Karnivora seperti serigala dan rakun, serta kelelawar merupakan hospes alami virus rabies. Mamalia terdomestikasi juga dapat terinfeksi rabies. Kucing, sapi dan anjing adalah hewan yang paling sering dilaporkan terinfeksi rabies. Manusia juga dapat terinfeksi melalui gigitan hewan terinfeksi.
Sumber utama penularan rabies adalah dari anjing, terutama pada daerah tropik. Di Indonesia sumber penularan adalah anjing geladak yang bebas berkeliaran.
Masa inkubasi dari rabies adalah 20-90 hari, meskipun pada beberapa kasus bisa menjadi lebih cepat atau lebih lambat. Masa inkubasi sangat tergantung pada tingkat keparahan luka, lokasi luka yang erat kaitannya dengan keadatan jaringan saraf di lokasi luka dan jarak luka dari otak, dan tergantung pula dengan jumlah dan strain virus yang masuk, serta tergantung dari perlindungan oleh pakaian dan faktor-faktor lain. Sekali virus mencapai otak atau medula spinalis maka gejala rabies akan terlihat. Karena rabies adalah penyakit yang bersifat fatal maka sekali manusia menunjukkan gejala klinis, mereka biasanya akan meninggal. Gejala dari rabies dibedakan menjadi :
1. Stadium prodromal
Gejala awal berupa demam, sakit kepala, malaise, sakit tulang, kehilangan nafsu makan, mual, rasa nyeri di tenggorokan, batuk dan kelelahan luar biasa selama beberapa hari (1-4 hari).
2. Fase neurologik akut dan Stadium Sensoris
Ditandai dengan sistem syaraf yang mulai tidak berfungsi. Penderita merasa nyeri, rasa panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka gigitan. Kemudian disusul dengan gejala cemas dan reaksi yang berlebihan terhadap rangsang sensorik.
3. Fase furious/eksitasi
Tonus otot-otot dan aktivitas simpatik menjadi meninggi dengan gejala hiperhidrosis, hipersalivasi, hiperlakrimasi dan pupil dilatasi. Bersamaan dengan stadium eksitasi ini penyakit mencapai puncaknya yang sangat khas yaitu adanya macam-macam fobia, diantaranya hidrofobia (takut air). Pada stadium ini dapat terjadi apnoe, sianosis, konvulsan dan takikardi. Gejala eksitasi ini dapat terus berlangsung sampai penderita meninggal, tetapi pada saat dekat kematian justru lebih sering terjadi otot-otot melemas, hingga terjadi paresis flaksid otot-otot.
4. Fase paralitik
Sebagian besar penderita rabies meninggal dalam stadium eksitasi. Kadang-kadang ditemukan juga kasus tanpa gejala-gejala eksitasi, melainkan paresis otot-otot yang bersifat progresif. Hal ini karena gangguan sumsum tulang belakang yang memperlihatkan gejala paresis otot-otot yang bersifat asendens, yang selanjutnya meninggal karena kelumpuhan otot-otot pernapasan. Tanpa perawatan serius, kematian dapat terjadi 4-20 hari setelah gejala-gejala muncul.
5. Fase koma
Rabies endemik pada populasi anjing pada kebanyakan negara berkembang, namun tidak selalu dilaporkan sehingga menyebabkan kurang akuratnya data . Ada dua bentuk rabies pada hewan yaitu:
a) Dumb rabies (bentuk tenang)
b) Furious rabies (bentuk ganas)
Pada anjing dan kucing biasanya bersifat ganas. Masa inkubasi 10-60 hari namun bisa juga lebih lama. Gejala dari rabies dibedakan menjadi :
1. Fase prodromal (awal)
Bersikap tidak normal, bersembunyi pada tempat yang gelap, gelisah, tidak dapat tidur, reflek keaktifan meningkat, anoreksia, nyeri pada gigitan, dan suhu tubuh meningkat.
2. Fase eksitasi (1-3 hari)
Agresif, suka menggigit, paralisa otot untuk menelan sehingga menyebabkan hipersalivasi, dan terjadi perubahan pada gonggongan(serak dan meraung) karena paralisa pada sebagian saraf vokal.
3. Fase yang lebih parah (akhir)
Konvulsi, kejang, dan inkoordinasi otot dan melanjut menjadi paralisa dan diikuti oleh kematian.
Pada sapi, rabies ditularkan oleh kelelawar (vampire bat), biasanya bersifat tenang. Gejala klinis yaitu dilatasi pupil, depresi, gerakan abnormal kaki belakang, termor, tidak bisa istirahat, inkoordinasi otot, kontraksi otot leher, punggung dan kaki, serta sulit menelan. Pada fase akhir hewan ambruk dengan keadaan kurus, bibir atas dilapisi buih kuning berbusa dan konstipasi. Gejala kelumpuhan biasanya terjadi pada hari kedua dan ketiga setelah munculnya gejala. Rabies pada kuda, domba dan kambing mirip denagn gejala rabies pada sapi.