Thursday, July 1, 2010

Swollen Head Syndrome

Swollen Head Syndrome (SHS) adalah suatu penyakit viral menular yang menyerang alat pernafasan unggas yang tersifat oleh adanya kebengkakan daerah kepala, gangguan pernapasan dan penurunan produksi telur pada ayam petelur, terutama ditemukan pada ayam pedaging berumur 4-6 minggu.

Di Indonesia penyakit ini ditemukan diberbagai daerah sejak tahun 1995 dan dikenal dengan nama sindrom kepala bengkak. Penyakit ini mempunyai dampak ekonomis yang penting pada industri perunggasan sehubungan dengan adanya gangguan pertumbuhan, penurunan efisiensi pakan, penurunan produksi telur, komplikasi dengan penyakit pernafasan lain misalnya infectious coryza (snot), chronic respiratory disease (CRD), kolibasilosis, infectious bronchitis (IB), penekanan respon kekebalan (bersifat imunosupresif) dan peningkatan biaya pengobatan.
Berbagai faktor manajemen merupakan pendukung timbulnya penyakit ini, meliputi kepadatan kendang yang tinggi, ventilasi yang kurang memadai, kadar amoniak yang tinggi, umur ayam yang berbeda dalam suatu lokasi peternakan, dan adanya penyakit imunosupresi (terutama Gumboro).
SHS disebabkan oleh Avian pneumovirus yang tergolong famili Paramyxoviridae. Avian pneumovirus adalah virus non-hemaggllutinating, nonsegmented, enveloped single stranded RNA dari family Paramyxoviridae dengan helical capsid symmetry (80-200nm) dan permukaannya ditutupi spike.
Virus SHS mempunyai hubungan yang erat dengan virus turkeyfhino tracheitis (TRT) yang menyerang kalkun. Ayam yang terinfeksi virus TRT tidak menunjukkan gejala yang tersifat untuk SHS, walaupun menunjukkan adanya peningkatan titer antibodi terhadap virus tersebut. Sebaliknya kalkun yang terinfeksi dengan virus SHS menunjukkan gejala yang klasik utnuk SHS.
Virus ini merupakan penyebab nekrosis dan perdarahan pada saluran pernapasan bagian atas dan celah palatum durum. Melalui lesi tersebut, bakteri dapat menginfeksi dan menyebabkan sindrom kepala bengkak. Infeksi sekunder terutama disebabkan oleh E coli, Haemophillus paragallinarum, Pasteurella multocida, Staphylococcus aureus.
Virus SHS dapat menginfeksi ayam (pedaging, petelur, maupun ayam bibit), ayam mutiara, dan burung merak. Penyakit ini mudah menyebar secara cepat dari ayam ke ayam lain dalam satu flok, demikian juga dari satu flok ke flok lain. Menyebar melalui udara dan rute mekanik (makanan, minuman dan peralatan). Penularan secara langsung dapat terjadi melalui kontak antara ayam sakit dengan ayam peka. Penularan secara tidak langsung melalui kontak dengan berbegai bahan di peternakan, alat peternakan ataupun pekerja yang tercemar virus SHS. Penularan melalui udara mungkin juga terjadi jika kandang ayam berdekatan dan udara tercemar oleh debu/kotoran yang mengandung virus SHS. Transmisi lateral pada infeksi berlangsung cepat melalui aerosol yaitu rute pernafasan, sedangkan transmisi vertikal belum banyak diketahui. Pada banyak infeksi, fomit/muntahan merupakan penularan yang penting diantara ayam. Periode inkubasi adalah 5-7 hari, angka morbiditas yaitu 10-100% dan angka mortalitas antara1-10%.
Pada ayam pedaging, SHS dapat ditemukan sejak umur 15 hari, walau kasus dilapangan banyak dijumpai pada umur 3-5 minggu. Pada broiler breeder atau petelur, SHS dapat ditemukan pada semua umur, walaupun penyakit ini ditemukan pada awal dan selama masa produksi.
Proses penyakit berjalan cepat dan dapat kambuh lagi setelah menunjukkan gejala sembuh. Penyakit ini dapat berlangsung tanpa komplikasi oleh bakteri dan ayam yang terserang virus SHS dapat bertindak sebagai carrier. Masa inkubasi biasanya sekitar 3-5 hari, sedangkan perkembangan penyakit dapat berlangsung 2-3 minggu.
Gejala paling awal adalah bersin, yang diikuti oleh kemerahan konjungtiva dan kebengkakan kelenjar air mata dalam waktu 24 jam kemudian, diikuti oleh edema subcutan di daerah kepala. Pembengkakan ini biasanya dimulai di sekitar mata, lali meluas ke kepala bagian atas kemudian ke jaringan intermandibular dan pial. Pada awal proses ini, ayam cenderung akan menggaruk daerah muka akibat adanya pruritis yang bersifat lokal yang kerap kali akan menyebabkan timbulnya ulcer.