Sunday, January 9, 2011

Skenario yang Spektakuler

Jalan hidup ini memang unbelieveable ya, ga bisa dimengerti, karena itu manusia harus selalu berpasrah pada Yang Maha Kuasa, karena kalau tidak malah bisa gila. Seperti penulis yang menghabiskan uang tak kurang dua juta rupiah untuk mengikuti sejumlah ujian departemen, yang kemudian akhirnya mendatangkan hasil yang nihil alias gagal total. Belum lagi perjalanan yang tidak semuanya mulus, semisal karena suatu hal harus menunggu di kereta berjam-jam, perjalanan yang terlambat hampir setengah hari, atau juga karena harus mengejar panitia dengan bersepeda motor di tengah malam. Semua itu membuat penulis kehabisan stamina dan merasa capek sekali, terutama setelah hajatan ujian selesai tanpa hasil.

Namun kalau dikaji lebih lagi ternyata perjalanan dua juta tersebut adalah berkah, karena dengannya penulis bisa jalan-jalan ke Jakarta, keliling ibukota, menyambangi Gelora Bung Karno, mencoba naik pesawat terbang Jakarta-Surabaya untuk pertama kali, menyambangi Sidoarjo, Bogor, dan Malang meski hanya sebentar, mencoba naik kereta eksekutif meski akhirnya terganjal insiden kereta anjlok, dan banyak pengalaman lain.
Dan lebih-lebih karena Yang Maha Kuasa telah menyiapkan skenario yang lebih spektakuler, ya meskipun penulis tidak berhasil lulus di pusat ternyata masih nyantol di daerah, keuntungannya adalah domisili lebih dekat dengan orang tua, subhanalloh. Karena limpahan karunia yang tak terbayangkan ini, penulis jadi lebih bersyukur atas semua yang telah terjadi, kejadian baik dan buruk harus disikapi dengan bijaksana.
Teringat lagi saat insiden kereta anjlok penulis melihat sesosok pria tua yang berjalan sepanjang rel mencari sampah yang masih bisa dijual. Juga bapak renta di terminal Senen yang menjajakan sekantung besar tissue dengan peluh membasahi tubuhnya karena terik matahari Ibukota. Dan yang paling baru seorang bapak juga yang berjalan membawa dagangan di pasar dengan harapan di wajahnya. Ternyata semua lelah dan capek penulis tidak sebanding dengan mereka, mereka yang kurang beruntung dan setiap hari harus membanting tulang di kerasnya kehidupan, mereka yang tak pernah mengeluh dan tidak pernah mempertanyakan skenario Yang Maha Kuasa. Ah, penulis jadi malu karena menganggap hidup penulis lah yang paling menderita. Penulis kemudian membulatkan tekad untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan menyisakan sebagian hasilnya untuk mereka, menjadi abdi negara yang bebas korupsi dan tetap hidup sederhana untuk menghormati sesama.^^b