Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan akan selalu berhubungan dengan manusia yang lain. Ini adalah hal yang sudah sama-sama kita ketahui sejak dari SD. Karenanya kita diajari untuk saling menghormati, saling membantu, dan saling mengasihi. Namun, tak usah heran jika kita sudah berbuat baik dengan seseorang kemudian orang tersebut malah menikam kita dari belakang. Tak usah pula terpaku pada jika kita berbuat baik maka akan mendapatkan balasan yang baik, karena memang sudah kewajiban kita untuk berbuat baik tanpa pamrih.Bukan pula karena pamrih penulis kemudian menceritakan kisah ini, hanya ingin berbagi saja kok..., hehe.. Yang pertama adalah cerita tentang sebuah kesempatan yang diabaikan begitu saja.
Waktu itu penulis sedang singgah di suatu kota dan menumpang beberapa hari di rumah saudara. Suasana malam yang sepi saat penulis keluar membeli makan di sebuah warung tenda pinggir jalan. Sayangnya selembar uang seratusribuan yang dimiliki penulis tidak mendapatkan kembalian, sang penjual menyuruh penulis untuk membawa saja uang itu dan kembali lagi kapan-kapan.
Hampir sampai di rumah saudara ketika penulis bertemu dengan ibu dan anaknya itu. Sang anak tampak kesal dan duduk di trotoar ketika ibunya berbicara dengan penulis. Katanya ia habis dicopet dan sekarang menuju ke terminal hendak pulang ke rumahnya, ia bertanya letak terminal yang lumayan jauh dari tempat kami berbicara. Penulis pun memberikan arahan dan meninggalkan mereka tanpa memberi uang. Sebenarnya ada niat untuk memberi uang sekedar utnuk ongkos bus, tapi tahu sendiri uang cuma selembar seratusribuan. Sampai di rumah penulis baru menyesali, kenapa tidak mengajak mereka makan saja lalu mengantar ke terminal, pasti uang seratusribuan itu akan pecah dan mereka pun akan tertolong...
Peristiwa itu masih menimbulkan penyesalan dalam hati penulis hingga suatu saat datang lagi orang yang memohon bantuan. Seorang pria muda dengan tas ransel dan mengendarai motor datang ke rumah dan bercerita bahwa kartu ATM miliknya tertelan di sebuah mesin ATM di pasar, ia hendak meminjam uang sepuluh ribu sekedar untuk jaga-jaga di perjalanan. Oya ia juga mengaku sebagai teman satu almamater namun berbeda fakultas dan mengaku mendapatkan alamat penulis dari hasil bertanya pada orang-orang di masjid. Ia juga menawarkan laptonya sebagai jaminan dan menunjukkan sekilas kartu identitas perusahaannya. Kali ini penulis tanpa curiga memberikan uang dan si pria tersebut berjanji untuk mengembalikannya segera. Namun uang itu tidak pernah kembali sampai sekarang. Sebenarnya nominalnya tidak banyak dan penulis sangat merelakannya, hanya saja kenapa sih dia harus berbohong hanya untuk uang sepuluh ribu?
Jadi dari dua cerita tersebut, intinya kita tetap harus berbuat baik pada orang lain, bagaimanapun kondisinya, mau ditipu atau tertipu tak usah dipikirkan, serahkan saja pada yang di atas untuk menilainya...^^b
Waktu itu penulis sedang singgah di suatu kota dan menumpang beberapa hari di rumah saudara. Suasana malam yang sepi saat penulis keluar membeli makan di sebuah warung tenda pinggir jalan. Sayangnya selembar uang seratusribuan yang dimiliki penulis tidak mendapatkan kembalian, sang penjual menyuruh penulis untuk membawa saja uang itu dan kembali lagi kapan-kapan.
Hampir sampai di rumah saudara ketika penulis bertemu dengan ibu dan anaknya itu. Sang anak tampak kesal dan duduk di trotoar ketika ibunya berbicara dengan penulis. Katanya ia habis dicopet dan sekarang menuju ke terminal hendak pulang ke rumahnya, ia bertanya letak terminal yang lumayan jauh dari tempat kami berbicara. Penulis pun memberikan arahan dan meninggalkan mereka tanpa memberi uang. Sebenarnya ada niat untuk memberi uang sekedar utnuk ongkos bus, tapi tahu sendiri uang cuma selembar seratusribuan. Sampai di rumah penulis baru menyesali, kenapa tidak mengajak mereka makan saja lalu mengantar ke terminal, pasti uang seratusribuan itu akan pecah dan mereka pun akan tertolong...
Peristiwa itu masih menimbulkan penyesalan dalam hati penulis hingga suatu saat datang lagi orang yang memohon bantuan. Seorang pria muda dengan tas ransel dan mengendarai motor datang ke rumah dan bercerita bahwa kartu ATM miliknya tertelan di sebuah mesin ATM di pasar, ia hendak meminjam uang sepuluh ribu sekedar untuk jaga-jaga di perjalanan. Oya ia juga mengaku sebagai teman satu almamater namun berbeda fakultas dan mengaku mendapatkan alamat penulis dari hasil bertanya pada orang-orang di masjid. Ia juga menawarkan laptonya sebagai jaminan dan menunjukkan sekilas kartu identitas perusahaannya. Kali ini penulis tanpa curiga memberikan uang dan si pria tersebut berjanji untuk mengembalikannya segera. Namun uang itu tidak pernah kembali sampai sekarang. Sebenarnya nominalnya tidak banyak dan penulis sangat merelakannya, hanya saja kenapa sih dia harus berbohong hanya untuk uang sepuluh ribu?
Jadi dari dua cerita tersebut, intinya kita tetap harus berbuat baik pada orang lain, bagaimanapun kondisinya, mau ditipu atau tertipu tak usah dipikirkan, serahkan saja pada yang di atas untuk menilainya...^^b