Desa Patak Banteng sendiri berada di antara Jalan Raya Dieng. Rumah-rumah penduduk begitu padat dan jarang ditemukan ada halaman luas. Semua lahan berubah menjadi lahan perkentangan. Sungguh miris mengamati gunung yang terpetak-petak tanpa pohon satu pun. Masalah lingkungan merupakan salah satu masalah yang harus diatasi di Dieng selain masalah kesejahteraan. Semenjak adanya pembukaan lahan beberapa dekade yang lampau, dieng semakin tampak merana. Batu-batu besar tampak muncul diantara lahan kentang, hutan semakin terang dan pohon bisa dihitung dengan jari. Entah kenapa ini hanya terjadi di Dieng kawasan wonosobo.
Berdasarkan pengamatan penulis yang juga sempat mengunjungi puncak Gunung Prahu dan sempat mengunjungi kawasan di Kabupaten Banjarnegara, kawasan hutan di Banjarnegara dan Batang masih lumayan baik dan tidak segundul di Wonosobo.
 |
| Hutan yang Terang |
Meskipun begitu, ga berarti penduduk Patak Banteng ga peduli ma lingkungan. Mereka juga punya agenda tahunan reboisasi, mereka juga punya keprihatinan terhadap lingkungan mereka, bahkan ada salah seorang penduduk yang membiarkan lahannya tidak ditanami demi melihat sejumput petak pepohonan diantara gundulnya hutan. Hanya saja mereka memang terpaku pada ekonomi mereka yang tidak bisa dibilang sukses. Lingkungan yang semakin rusak membuat tanaman ketang mereka tidak mendatangkan keuntungan sebesar dulu. Tanah yang semakin tidak subur, belum lagi ancaman bencana longsor yang selalu mengintai. Hemm.., banyak banget ya masalah mereka, jadi semkain termotivasi deh. Namun ternyata tak semudah itu lho, solusi peternakan yang kami tawarkan tidak banyak menarik mereka. Banyak alasannya, mulai dari kurangnya perhatian pemerintah sampai kurangnya tenaga kesehatan hewan. Menurut penulis sendiri, memang campur tangan pemerintah masih sangat kurang pada penduduk disini.
 |
| Arahan Perhutani |
 |
| Rapat |
.JPG) |
| Plangisasi |
.JPG) |
| Pulang nandur kayu |
Masih menurut penulis pribadi, hal yang sangat diperlukan disini adalah pendampingan. Pendampingan sendiri sangat menuntut waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Ini yang menjadi kendala dalam program KKN kami. Well, bisa dibilang KKN kami waktu itu sangat sederhana banget, jadi feeling guilty gini.. Dari persiapan sendiri memang kurang banget, tim juga kurang solid. Mungkin itu juga yang bikin beberapa warga menganggap kami hanya mencari nilai dan tidak akan memikirkan Patak Banteng lagi jika sudah selesai KKN. Tapi sebenarnya kalau boleh membela diri kami sudah berusaha sekuat tenaga lho.. Begadang bikin proposal di tengah dinginnya malam dan diantara kesibukan pengajian tiap malam. Kami juga sudah berkeliling mencari sponsor buat dukungan dana karena kami ini kan belum punya penghasilan sendiri, sayangnya hanya satu perusahaan saja yang mau mendukung kami. Kami juga sudah berkeliling ke Dinas Pemerintah yang berkaitan dnegan program kami, nmaun sambutannya ternyata tidak seperti yang kami harapkan. Jadinya tampak seklai program kami kurang disana sini, hufff... Kalau saja ada kesempatan lagi, pengen banget kesana lagi, bantuin mereka lagi. At least mereka jadi tahu kalau sebenarnya ada yang masih peduli pada Dieng. Semoga saja ada jalan untuk kesana, amin...
^^b