Tentang Dieng sendiri, Dieng yang berada di dataran tinggi di Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara Jawa Tengah memiliki banyak sekali keistimewaan, mungkin bagian yang satu ini kita khususkan bagi keistimewaan Dieng saja, oke... Oya, lebih lengkapnya tempat untuk KKN itu berada di desa Patak Banteng, Kejajar, sedangkan sub unit yang lain berada di desa Dieng Wetan dan Desa Sembungan di kecamatan yang sama.
| Rumah di kaki gunung |
| Lumayan padat |
Penulis pribadi memang belum pernah ke Dieng sebelumnya. Namun Dieng di kalangan mahasiswa sebenarnya sangat terkenal sebagai tempat tujuan wisata, karena jaraknya tidak terlalu jauh dari Yogyakarta. Persiapan KKN di Dieng tentu sedikit berbeda dengan KKN di tempat lain, selain perlengkapan umum sehari-hari, 2 buah selimut tebal ikut saya masukkan dalam list bawaan, tak lupa pelembap wajah dalam jumlah besar, hair dryer, kaos kaki, sarung tangan, baju lengan panjang, celana panjang, dan beberapa jaket tebal. Ya, tentu saja karena cuaca di Dieng sehari-hari selalu dingin antara 15-18?C. Air sangat dingin sehingga membuat penulis malas mandi, cuaca yang dingin ini berlangsung sepanjang hari, meskipun matahari telah beranjak tinggi, cuaca tidak beranjak hangat pula. Sehingga tak heran pula jika penduduk disini selalu menyediakan air panas untuk minum, juga selalu ada tungku di dapur yang menyala di dapur, tak lupa semua lantai rumah selalu dilapisi oleh karpet untuk mengusir rasa dingin yang hampir-hampir membekukan tubuh. Hal yang ekstrim pun kadang terjadi ketika kami mandi, yaitu tampak asap mengepul dari tubuh kami, saking dinginnya cuy, makin malas mandi deehh... Mungkin karena cuaca yang dingin ini juga lah yang membuat tidak banyak hewan berkeliaran disini, penulis jarang sekali melihat semut, lalat, nyamuk, dan cicak, padahal hewan-hewan itu biasanya selalu hadir dalam keseharian kita kan, aneh... Masih ada hal yang khas sekali yaitu minyak goreng yang selalu dalam keadaan beku, dan pasta coklat yang harusnya cair juga membeku dengan otomatis disini, tak heran kalau termos adalah perkakas yang harus ada disini, bahkan air galon kami juga sedingin air kulkas tanpa masuk kulkas, ajaib..
| Kentang yang jadi tumpuan |
| Terus belajar |
Selain cuaca yang khas, ada juga kegiatan yang khas. Penduduk disini sebagian besar antara 90% adalah petani kentang. Mereka berangkat ke ladang yang mereka sebut dengan alas pagi-pagi dan pulang saat siang hari. Laki-laki dan perempuan semua terjun ke ladang. Ladang mereka itu kadang ada yang jauh sampai naik ke lereng gunung, tak heran kalau penduduknya memiliki perawakan yang tegap, dengan kata lain jarang ada yang bertubuh gendut. Selain berladang mereka juga memiliki kegiatan peternakan, olahraga, keagamaan, dan kesenian. Hewan ternak yang dipelihara adalah domba dengan bulu yang sangat tebal, meskipun sektor ini bisa menjadi sektor tumpuan hidup namun mereka masih tetap setia dengan kentang. Anak muda sering bermain sepak bola dan bulu tangkis, dan ada pula yang bergabung dengan kelompok kesenian seperti tari topeng dan orkes dangdut, yang lain aktif dalam kegiatan hadroh atau terbangan klasik maupun semi modern. Hal lain yang khas adalah kegiatan pengajian yang setiap minggu rutin diadakan. Pengajian ini dilakukan pada malam hari bergiliran di rumah warga, yang menarik adalah ibu-ibu selalu membawa barang untuk mengusir dingin, mulai dari sarung sampai selimut tebal, unik kan... Masih segar dalam ingatan saat-saat malam hari sepulang dari pengajian, kami menyusuri jalan yang sangat lengang sambil meniup udara seakan dengan begitu kami juga bisa mengusir dingin...
^^b