Saturday, December 11, 2010

Mengintip Yogyakarta


Yogyakarta sangat identik dnegan Gunung Merapi, yup benar sih. Semenjak hampir 6 tahun penulis tinggal di Yogyakarta untuk menimba ilmu, selalu akan teringat dengan gambaran Gunung Merapi di pagi hari, di siang hari, di sore hari, bahkan di malam hari saat Merapi mengeluarkan pijaran lavanya.

Merapi memang telah meletus beberapa saat yang lalu, saat itu penulis yang sedang tidak berada di Yogyakarta, pun merasa ketar ketir dan khawatir. Pada tahun 2006 Merapi juga sempat batuk-batuk, setiap malam Merapi menjadi hiburan kami anak kos. Naik ke lantai paling atas yang adalah jemuran kami dengan setia menyaksikan pijaran lavanya yang tampak cantik dari kejauhan. Bukan hanya kami, tetangga kos pun banyak melakukan hal yang sama.
Kini pada 2010, Merapi tak main-main, sepertinya sudah tak bisa menyaksikan pemandangan seperti tahun 2006 karena Yogyakarta diselimuti debu dan banyak orang tergerak ikut membantu warga lereng Merapi. Suasananya darurat bencana banget. Setidaknya begitulah yang tergambar dari stasiun televisi yang rajin memberitakan perkembangan merapi. Ingat, penulis sedang tidak berada di Yogyakarta, hehe.
Kemudian karena suatu hal, penulis pun berkesempatan mampir ke Yogyakarta. Berangkat dari Stasiun Senen Jakarta, dengan beberapa relawan dan tumpukan bantuan yang menggunung. Relawan-elawan tersebut tampak bersemangat karena saat baru sampai Stasiun Wates mereka sudah siap menggunakan masker. Penulis yang tidak bersiap-siap bahkan tidak memiliki masker, jadi malu... Untungnya suasana tidak seabu-abu yang digambarkan di televisi, penulis berada di kawasan Jalan kaliurang Km 4,5. Memang debu tampak di jalanan, sedikit mengganggu, beberapa warung di daerah padat anak kos juga tampak tutup, dan yang paling signifikan adalah tidak tampaknya mahasiswa sibuk beraktifitas karena memang kampus sempat diliburkan. Saat penulis harus kembali ke Jakarta pun di samping penulis lagi-lagi adalah relawan Merapi.
Beberapa minggu kemudian, penulis kembali lagi ke Yogyakarta, kali ini keadaan sudah mulai kembali berwarna. Warung makan sudah ramai, mahasiswa juga memenuhi jalanan Yogyakarta. Merapi masih belum menunjukkan rupanya, karena selalu diselimuti awan. Sesaat penulis berhasil menangkap sosok Merapi, meski hanya punggungnya saja yang kelihatan. Namun, ada masalah baru yaitu banjir lahar dingin yang mengancam daerah tepi sungai yang kebetulan padat penduduk. Penulis sempat mengintip kondisi Kali Code di area dekat Malioboro. Tampak warga menyiapkan karung-karung pasir, dan tampak pula sungai yang dangkal karena materi lahar dingin yang meenuhi sungai. Semoga saja kondisi cepat membaik.