Sunday, December 26, 2010

Belajar Sejarah di Museum Trinil

Teman-teman pasti tidak asing dengan Pithecanthropus Erectus bukan? Yup, itu adalah manusia purba di Indonesia. Penelitian manusia purba di Indonesia sendiri telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Eugene Dobois tertarik meneliti manusia purba di Indonesia setelah mendapat kiriman sebuah tengkorak dari B.D Von Reitschoten yang menemukan tengkorak di Wajak, Tulung Agung. Fosil itu dinamai Homo Wajakensis, termasuk dalam jenis Homo Sapien. Fosil lain yang ditemukan adalah Pithecanthropus Erectus yang ditemukan di daerah Trinil, Ngawi, pada tahun 1891.
Penemuan ini sangat menggemparkan dunia ilmu pengetahuan. Selain itu juga menemukan Pithecanthropus Majokertensis di daerah Mojokerto dan Pithecanthropus Soloensis di daerah Solo.
Sedangkan hasil penemuan G.H.R Von Koeningswald adalah fosil tengkorak di Ngandong, Blora dan pada tahun 1936 menemukan tengkorak anak di Perning, Mojokerto. Tahun 1937 - 1941 menemukan tengkorak tulang dan rahang Homo Erectus dan Meganthropus Paleojavanicus di Sangiran , Solo.
Penelitian oleh peneliti Indonesia sendiri dimulai pada tahun 1952 yang dipimpin oleh Prof. DR. T. Jacob dari UGM, di daerah Sangiran dan sepanjang aliran Bengawan Solo. Manusia purba yang ditemukan di Indonesia adalah Meganthropus, Pithecantropus, dan Homo, sesuai urutan kemajuan. Homo memiliki tarap kehidupannya yang lebih maju dibanding manusia sebelumnya.
Nah, kebetulan domisili penulis ada di sekitar Trinil dimana Pithecanthropus Erectus ditemukan. Tempat penemuannya kini dijadikan museum. Sayangnya, museum ini tidak banyak menarik perhatian masyarakat. Penulis sendiri hanya pernah mengunjungi museum saat masih SMA, itu pun karena tugas sekolah. Dari pusat kota Ngawi sendiri sebenarnya museum Trinil ini tidak begitu jauh jaraknya, hanya sekitar 10 km. Sayang letaknya tidak berada di pinggir jalan raya, sehingga lebih nyaman memakai transportasi pribadi. Sekitar 10 tahun yang lalu tarif masuknya hanya Rp. 500.
Disini kita bisa melihat replika fosil manusia purba tentunya. Tempat ini juga dilengkapai area parkir, taman, tempat bermain, pendopo, dan juga ada patung gajah sebagai landmark-nya. Di belakang museum juga langsung berdempetan dengan Bengawan Solo. Manusia purba tersebut rupanya memilih sungai sebagai sumber kehidupannya. Layaknya peradaban-peradaban sungai lain di dunia, seperti peradaban sungai Gangga di India atau sungai Nil di Mesir, situs ini mungkin bisa disebut peradaban Bengawan Solo. Well.., maybe teman-teman bisa berkunjung jika berminat, tidak ada salahnya lho belajar dari sejarah masa lalu, iya kan?