Saturday, February 26, 2011

Nasib Anak Kost

Menjadi anak kost adalah pilihan yang harus dijalani saat penulis memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Menyenangkan sebenarnya menjadi anak kost, berarti kita harus belajar mandiri, mulai dari masalah makan sampai keuangan. Bahkan penulis masih rajin mencatat semua pengeluaran, meski banyak toleransi disana-sini, tampaknya penulis tidak berbakat menjadi akuntan, hehe.. Kini, penulis sudah kembali ke kampung halaman membawa sejuta cerita yang lebih banyak pahitnya. Atau rasanya sih seperti itu, karena manusia kan lebih suka mengingat hal-hal yang pahit, biar lebih dramatis gitu lho...

Tempat kost penulis yang pertama berada di lokasi yang sangat strategis. Dekat dengan fotokopian, warnet, warung makan, dan semuanya tetek bengek yang dibutuhkan mahasiswa. Kakak kostnya juga baik-baik dan mengayomi. Tapi takdir berkata lain, belum genap 3 bulan berada disana, penulis harus angkat kaki karena sang pemilik membuat keputusan sepihak untuk merenovasi kost. Selidik punya selisik ternyata kost tersebut diambil alih oleh saudaranya.
Akhirnya penulis mendapat kost pengganti yang letaknya tidak jauh dari kost yang pertama, and guess what..., pemiliknya adalah orang yang mengambil kost pertama, #ga bingung kan? Jadi penulis memilih ngekost disana lebih karena berharap bisa pindah lagi ke kost pertama saat renovasi telah usai, pemiliknya sih juga ngomong begitu... Tapiii..., belum genap 2 bulan, penulis sudah give up. Ternyata disana rawan pencurian dan penulis telah menjadi korbannya. Tanpa ba bi bu lagi, penulis pun pindah ke kost ketiga.
Di kost yang ketiga ini penulis sudah membulatkan tekad untuk bertahan no matter what happen. Kalau pindah terus tuh kasihan ma ortu, mereka repot dan kepikiran, #sedih. Makanya walau di kost ini juga rawan pencurian dan rawan penipuan, penulis berusaha menyabarkan diri. Untuk menghindari pencurian, penulis tidak pernah meninggalkan barang berharga di kamar, saat mandi dompet dan hape pun dibawa serta. Tapi pemirsaaa...., pertahanan penulis jebol juga saat penulis menerima teror dari orang tak dikenal. Sebenarnya penulis sudah tidak peduli karena masa studi tinggal 3 bulan lagi, namun ortu memaksa pindah karena khawatir. Akhirnya penulis pun hidup menggelandang di jalanan..., eh ga ding, menumpang pada kawan maksudnya. Sungguh itu saat-saat yang paling bikin sakit hati, penulis menjadi berpikir banyak karena peristiwa itu. Yang paling bagus sih, penulis jadi merasa kuat karena sudah mengalami semua yang mungkin orang lain belum pernah merasakan, #pelajaran hidup.
Kini, penulis diterima bekerja di tempat penulis kuliah, artinya harus kembali lagi. Mau tak mau penulis harus mencari kost lagi dengan mengusung pengalaman pahit terdahulu. Semoga saja kali ini penulis lebih beruntung, amin....^^b