Memang bukan untuk yang pertama kali penulis datang ke jember, mungkin ini sudah untuk yang kelima kalinya. Seperti biasa penulis berangkat naik bus malam, bedanya karena harus mempersiapkan sesuatu, penulis dan orangtuanya yang biasa berangkat sekitar pukul 7 malam harus berangkat pukul 9 malam. Kami biasa naik bus Mila atau Akas, tergantung mana yang terlebih dahulu datang. Malam itu kami menanti di dekat terminal lama Ngawi dengan sabar, malah sempat minum di warung tenda, hehe.Ternyata bus lama sekali belum datang, yang sering lewat malah Eka Patas jurusan Surabaya, bus malam Rosalia Indah, dan juga Safari Dharma Raya tujuan Denpasar. Selain itu truk-truk pun hilir mudik di jalanan malam yang lengang.
Akhirnya sekitar pukul 10 lebih ada bus Akas yang datang. Kami pun segera naik setelah menaruh barang di bagasi. Setelah naik ternyata kami baru sadar bahwa bus telah penuh, yaaaah..., piye tho, masa berdiri sampai Jember, perjalanan kan bisa lebih dari 6 jam. Tak lama kemudian sang kernet mulai mengeluarkan kursi plastik untuk kami duduk, owalah.., alhasil kami duduk di antara kursi penumpang lainnya. Mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan lain, penulis pun duduk di barisan paling depan. Karena duduk di kursi plastik maka penulis otomatis tidak bisa tidur, sekali memejamkan mata eh sopir mengerem, kan ga bisa tenang tidurnya, sebel deh.. Akhirnya penulis pun malah mengikuti perjalanan bus, mengamati jalanan yang berlubang dan tidak rata, mengamati deretan sawah yang gelap, dan mengamati toko yang tutup saat melewati kota yang sepi. Di jalan juga bertemu orang yang menyetir kendaraan brundul, cuma kerangka tanpa bodi, cuma ada kursi dan kemudi, orang itu pakai helm dan rain coat, hihihi, seru kayaknya ya.., eh serem ding.
Madiun dan Nganjuk, selanjutnya Jombang, perjalanan masih lama sekali, penulis sudah terkantuk-kantuk. Sekitar tengah malam penulis pun terlelap namun kadang masih terbangun jika bus mengurangi kecepatan dengan tiba-tiba. Akhirnya sekitar pukul 2 dini hari bus berhenti di Probolinggo untuk istirahat makan. Usut punya usut bus penuh sesak karena menampung penumpang operan dari bus lain, oalah nasib nasib.... Sedikit mengistirahatkan punggung dengan bersandar di kursi rumah makan dan perjalanan harus dilanjutkan kembali. Saat sampai di Lumajang ada beberapa penumpang yang turun, akhirnya dapat kursi juga, itu sekitar pukul 3 pagi, penulis pun langsung tiduuur... Namun tak lama kemudian penulis terbangun karena ternyata sudah sampai di terminal Jember, pukul 5 pagi, 7 jam dari Ngawi dengan biaya Rp.53.000,- dan kursi plastik yang setia menemani. Simak pula Journey to Jember bagian 2 disini. ^^b
Madiun dan Nganjuk, selanjutnya Jombang, perjalanan masih lama sekali, penulis sudah terkantuk-kantuk. Sekitar tengah malam penulis pun terlelap namun kadang masih terbangun jika bus mengurangi kecepatan dengan tiba-tiba. Akhirnya sekitar pukul 2 dini hari bus berhenti di Probolinggo untuk istirahat makan. Usut punya usut bus penuh sesak karena menampung penumpang operan dari bus lain, oalah nasib nasib.... Sedikit mengistirahatkan punggung dengan bersandar di kursi rumah makan dan perjalanan harus dilanjutkan kembali. Saat sampai di Lumajang ada beberapa penumpang yang turun, akhirnya dapat kursi juga, itu sekitar pukul 3 pagi, penulis pun langsung tiduuur... Namun tak lama kemudian penulis terbangun karena ternyata sudah sampai di terminal Jember, pukul 5 pagi, 7 jam dari Ngawi dengan biaya Rp.53.000,- dan kursi plastik yang setia menemani. Simak pula Journey to Jember bagian 2 disini. ^^b