Wednesday, February 9, 2011

Journey to Jember Part 2

Tulisan ini adalah lanjutan dari Journey to Jember bagian 1 , happy reading! Setelah puas di Jember saatnya untuk pulang. Kali ini kami memilih moda transportasi Kereta Api kelas Ekonomi Logawa. Bangun pukul 4 pagi dan mandi dengan mata yang enggan terbuka, setengah jam kemudian taksi sudah siap mengantar kami ke stasiun. Jalanan lengang dan sepi, dari Perumahan Taman Gading menuju stasiun sekitar 10 menit dengan biaya Rp. 16.000,-. Langsung saja kami
membeli tiket dan beranjak menuju gerbong kereta. Suasana cukup ramai, penumpang lumayan banyak, ada yang hendak ke Surabaya, ada juga yang menuju Bangil, dan ada pula yang menuju Yogyakarta. Pukul 5 tepat kereta berangkat dari stasiun Jember.
Ketika matahari mulai menyinari, tampak deretan gunung dan sawah. Di stasiun berikutnya mulai banyak penjual yang hilir mudik menjajakan makanan. Kami pun mencoba tahu petis seharga Rp.2.000,-, petisnya berwarna coklat muda, hihi, aneh.. Penumpang semakin banyak yang naik, begitu pula penjual makanan. Karena belum sarapan kami juga membeli nasi rames dan nasi kuning seharga Rp. 4.000,-, lumayan untuk mengganjal perut, hehe... Setelah makan penulis pun sempat tertidur dan terbangun karena ingin buang air kecil. Ah di dekat kamar mandi ada beberapa ibu-ibu yang menumpang dan duduk di dekat pintu kamar mandi, ah ini yang ga bikin nyaman. Toiletnya sendiri biasa seperti kereta ekonomi lainnya dengan ember penampung air yang mengalir dari keran.
Saat itu sekitar pukul 8 di Probolinggo, semakin banyak penjual makanan. Kami pun mencoba kripik pisang seharga Rp. 1.000,-, tahu petis yang berukuran lebih besar, juga sate kerang yang imut seharga Rp. 1.000,-. Lucunya ada penjual brem Madiun, hehe itu kan makanan khas dekat tempat tinggal penulis, ternyata dijajakan jauh dari tempat aslinya. Sekitar pukul 9 kereta sampai di Surabaya dan berhenti di Stasiun Gubeng. Kepala kereta pun dipindah ke arah yang berlawanan, sehingga gerbong paling depan menjadi gerbong yang paling belakang, lucu ya, hehe..
Kemudian kereta pun melanjutkan perjalanan menuju arah barat. Mulai dari sini banyak sekali pengamen yang datang, ga putus-putus lho, sambung menyambung, haaah.., berisik banget.. Penjual makanan juga banyak datang, seperti penjual P*p Mie, kopi, minuman instan, bermacam buah mulai jeruk sampai seteroberi alias strawberry, kripik tempe, dan telur asin. Penjual sandal, ikat pinggang, dan seprei juga hadir, ramai seperti pasar pokoknya. Karena suasana yang beranjak siang dan banyak penjual, maka suasana mulai kurang nyaman, panas dan pengap plus berisik. Kereta berhenti sejenak di Stasiun Madiun dan berpapasan dengan Kereta Logawa 2 jurusan Jember. Dan finally sekitar pukul 1 lebih berhenti di stasiun Paron Ngawi, 8 jam dengan biaya Rp.26.000,- dan disertai show pedagang sepanjang jalan...^^b