Lokasinya dekat dengan Dieng Plateu Theater, Kawah Sikidang, dan Kompleks Candi Dieng, one stop tourism deh istilahnya.
Telaga Warna ini sudah dilengkapi fasilitas area parkir dan tempat mangkal penjual makanan dan souvenir. Namun kali ini kami tidak akan masuk lewat gerbang depan, kami masuk lewat jalan unofficial, yaitu lewat ladang masyarakat desa. Awalnya tidak sengaja saja, kami juga tidak berniat untuk masuk Telaga Warna lewat jalan belakang. Tapi sewaktu berjalan-jalan di jalan desa selalu saja masyarakat desa menyarankan untuk mampir Telaga Warna lewat jalan ladang. Ya karena dipaksa kami pun berangkat juga, hehe.
Berangkat pagi-pagi dengan modal nekat, aku, Wini, Venky, Fatma, Desi, dan Lisna mulai menyusuri jalan desa, sesekali berpapasan dengan petani. Jalan semakin menanjak dan area pemukiman telah berubah menjadi ladang kentang. Lumayan capek juga tapi anggap saja sekalian olah raga. Lalu setelah setengah jam berjalan, Telaga Warna mulai kelihatan. Cantik berwarna biru muda di tengah dan hijau tua keabu-abuan pada tepinya. Lalu haparan ladang kentang berubah menjadi hutan pinus. Hati-hati ya kalau lewat sini, saat sedang musim angin rawan pohon tumbang. Lihat saja ada beberapa pohon tumbang di tepi telaga. Tapi pohon tumbang ini adalah spot favorit untuk berfoto lho, tapi jangan lupa hati-hati ya.
Kemudian kami sampai di area yang disebut area pantai. Dari tempat ini bau belerang tercium sekali. Langsung sja kami terus berjalan menuju area pertunjukan tari topeng. Pagi ini masih sepi pengunjung rupanya. Kami pun leluasa berfoto-ria. Di komplek Telaga Warna ini sebenarnya ada satu telaga lagi yaitu Telaga Pengilon. Letaknya tepat di sebelah Telaga Warna, hanya saja ukurannya lebih kecil dan warna airnya hanya kehijauan. Selain telaga juga ada 3 goa di dekat sini, sering ada sesajennya lho. Kalau mau nonton film di Dieng Plateu Theater juga tinggal berjalan kaki sedikit. Benar-benar komplit.
Setelah puas berfoto dengan berbagai gaya kami pun berniat pulang. Karena kami gampang bosan maka kami memutuskan keluar lewat gerbang depan. Jadi meskipun tidak membeli tiket tetap saja nampang di loket tiket, hehe. Sekali lagi cerita menyelinap ini bukan untuk ditiru ya.
Telaga Warna ini sudah dilengkapi fasilitas area parkir dan tempat mangkal penjual makanan dan souvenir. Namun kali ini kami tidak akan masuk lewat gerbang depan, kami masuk lewat jalan unofficial, yaitu lewat ladang masyarakat desa. Awalnya tidak sengaja saja, kami juga tidak berniat untuk masuk Telaga Warna lewat jalan belakang. Tapi sewaktu berjalan-jalan di jalan desa selalu saja masyarakat desa menyarankan untuk mampir Telaga Warna lewat jalan ladang. Ya karena dipaksa kami pun berangkat juga, hehe.
Berangkat pagi-pagi dengan modal nekat, aku, Wini, Venky, Fatma, Desi, dan Lisna mulai menyusuri jalan desa, sesekali berpapasan dengan petani. Jalan semakin menanjak dan area pemukiman telah berubah menjadi ladang kentang. Lumayan capek juga tapi anggap saja sekalian olah raga. Lalu setelah setengah jam berjalan, Telaga Warna mulai kelihatan. Cantik berwarna biru muda di tengah dan hijau tua keabu-abuan pada tepinya. Lalu haparan ladang kentang berubah menjadi hutan pinus. Hati-hati ya kalau lewat sini, saat sedang musim angin rawan pohon tumbang. Lihat saja ada beberapa pohon tumbang di tepi telaga. Tapi pohon tumbang ini adalah spot favorit untuk berfoto lho, tapi jangan lupa hati-hati ya.
Setelah puas berfoto dengan berbagai gaya kami pun berniat pulang. Karena kami gampang bosan maka kami memutuskan keluar lewat gerbang depan. Jadi meskipun tidak membeli tiket tetap saja nampang di loket tiket, hehe. Sekali lagi cerita menyelinap ini bukan untuk ditiru ya.