
Akhir-akhir ini pemerintah pusing baget ngurusin masalah transportasi, terutama transportasi di ibukota. Kemacetan selalu terjadi setiap hari dan menimbulkan ketidaknyamanan dimana-mana. Saya sendiri yang bukan berdomisili di ibukota pun merasakan ketidaknyamanan itu ketika berkunjung kesana. Pernah suatu ketika ketika hendak pulang dari suatu acara di bilangan Gatot Subroto Kuningan, saya tidak bisa menyeberang ke sisi lain jalan karena jalanan tersebut tergenangi oleh air sekitar 20 cm. Untuk mencapai sisi lain dari jalan tersebut saya harus naik bus, sebelnyaa....
Kalau boleh usul nih, pemerintah harusnya bikin transportasi publik yang nyaman buat warganya. Yang tepat waktu, aman, mudah dijangkau, dan relatif murah. Transportasi publik yang nyaman pasti akan membuat pengguna kendaraan pribadi memiliki pilihan lain selain memakai kendaraanya. Di ibukota sendiri saya pernah memakai jasa Kereta Listrik Ekspres dari Gambir menuju Bogor. Meskipun kereta ini konon kereta bekas Jepang 30 tahun yang lampau, namun kereta ini tetap nyaman dan lumayan tepat waktu. Hanya saja sedikit berjubel akibat banyak peminat.
Ada juga transportasi publik khas Jakarta yaitu Busway Transjakarta. Disini saya hendak membandingkannya dengan Transjogja, yaitu transportasi publik punya kota Yogyakarta. Transjakarta sendiri memiliki konsep 1 jalur bolak balik dan cenderung memiliki jalur lurus. Ada 8 koridor yang tersedia yang menjangkau seluruh area Jakarta. Anda bisa berpindah dari satu koridor ke koridor yang lain melalui halte transit atau halte sentral di Harmoni. Misalnya anda berada di daerah Mampang Prapatan hendak menuju Stasiun Senen, rute yang akan anda lalui adalah berangkat dari halte Mampang Prapatan di koridor 6 sampai halte Halimun, di halte ini anda dapat berpindah ke koridor 4 menuju halte Matraman, di halte Matraman anda pindah lagi ke koridor 5 dan turun di halte Sentral Senen. Ribet ya, tapi jangan kuatir, jika ragu-ragu silakan bertanya pada petugas yang ada di setiap bus. Oya armada Transjakarta ada yang single dan ada yang dobel, dan ada tiket pagi yang lebih murah Rp.1.500 dari tarif regular yaitu Rp. 3.500. Sedangkan Transjogja armadanya lebih kecil dan tarifnya lebih murah yaitu Rp. 3.000. Memiliki konsep yang sedikit berbeda dari Transjakarta yaitu jalurnya tidak bolak balik dan hanya memiliki 6 rute.
Tentunya banyak sekali kritikan untuk transportasi publik tersebut antara lain kenyamanan karena sering berjubel dan sopir mengemudi kurang nyaman, ketepatan waktu karena sering terjadi penumpukan penumpang, dan juga kurang menyeluruhnya jangkauan. Ayo pemerintah, rajinlah bekerja untuk memuaskan warga-wargamu!!!