
Sungguh tidak pernah saya merencanakan hal yang seperti ini, terjebak dalam kereta api dan berada dalam perjalanan Yogyakarta-Jakarta selama 24 jam non-stop. Hmm, namun kenyataannya begitulah yang terjadi. Berikut selengkapnya.
Waktu itu saya berangkat dari Yogyakarta tanpa ada firasat apa-apa. Bahkan ada perasaan bersyukur karena saya masih sempat mencapatkan tiket 15 menit sebelum kereta datang. Lagipula waktu itu saya sedang terburu-buru untuk mengejar sebuah acara keesokan harinya di Bogor. Sempat bingung juga hendak memilih jalur utara atau selatan, namun karena sudah terbiasa lewat jalur utara maka saya putuskan utnuk naik kereta api kelas eksekutif Argo Dwipangga dari stasiun Tugu Yogyakarta menuju stasiun Gambir di Jakara, dengan biaya Rp. 240.000.
Kereta datang tepat waktu sekitar pukul 9 malam dan saya cukup optimis dapat mengikuti acara besok pagi tepat waktu. Jadwalnya, kereta ini akan sampai di Gambir pada pukul 05.00. ketika malam beranjak larut dan sebagian besar penumpang di gerbong saya mulai tidur, saya pun ikut-ikutan tidur. Beberapa saat kemudian ketika terbangun waktu sudah menunjukkan subuh namun ternyata kami masih berada di Stasiun Cirebon Jawa Barat. Saya belum panik waktu itu, pikir saya ini hanya keterlambatan biasa. Namun usut punya usut ketika hari beranjak pagi dan pemandangan di luar mulai terang, tersiarlah kabar bahwa keterlambatan ini bukan biasa. Alkisah, pada sore hari keberangkatan terjadi sebuah kecelakaan kereta anjlok di Indramayu dan sampai pagi hari itu proses evakuasi masih berlanjut dan belum jelas kapan akan selesai.
Sementara kami sudah sampai di tengah sawah sekitar 2 stasiun kecil dari Cirebon. Beberapa bapak tampak bingung dan bertanya adakah kemungkinan untuk ganti bus pada kondisi seperti ini. Nampaknya pilihan ganti ke bus sedikit terkendala karena kami terjebak di tengah sawah. Tidak ada pilihan kecuali menunggu kereta kembali berjalan. Sekitar jam 08.00 ketika harusnya perut diisi oleh sarapan, kami hanya mampu berpuas diri dengan pilihan menu mie goreng seharga Rp. 12.000 untuk mengganjal perut. Pihak kereta sendiri menginformasikan bahwa kereta akan kembali berjalan pada pukul 10.30. Saya sedikit lega meskipun itu berarti saya harus berkejaran dengan waktu untuk menghadiri acara di Bogor.
Namun ternyata sampai pukul 12.00 kereta kami tidak juga berjalan, beberapa penumpang yang lain bercerita bahwa tidak hanya kereta kami yang mandek. Beberapa kereta seperti Senja Utama dan Gajayana juga ikut mandek menanti proses evakuasi di Indramayu selesai. Sambil menunggu dan berdoa, akhirnya pada pukul 13.00 mulai tampaklah masa depan kami penumpang kereta. Kereta kami ditarik mundur ke stasiun Cirebon. Dan di stasiun Cirebon telah menunggu beberapa bus pariwisata untuk mengatar kami ke tujuan. Sayangnya, bus tersebut datang satu per satu, sehingga aksi dorong tidak terelakkan di antara sesama penumpang yang hendak naik ke bus. Kami yang tidak kebagian tempat di bus pertama harus menunggu kedatangan bus berikutnya, begitu seterusnya sampai kami mendapatkan jatah kursi bus. Saya sendiri baru dapat jatah kursi pada kedatangan bus yang keenam.
Marah dan kesal karena menunggu terlalu lama di kereta yang mandek total membuat beberapa penumpang emosi pada petugas kereta api. Sungguh hari yang melelahkan baik bagi para penumpang maupun petugas kereta api. Setelah perjalanan darat yang panjang antara Cirebon dan Jakarta, akhirnya saya sampai di Gambir pukul 19.45, terlambat hampir 15 jam dari jadwal dan menghabiskan waktu total hampir 24 jam dari Yogyakarta menuju Jakarta. What a day!
Kereta datang tepat waktu sekitar pukul 9 malam dan saya cukup optimis dapat mengikuti acara besok pagi tepat waktu. Jadwalnya, kereta ini akan sampai di Gambir pada pukul 05.00. ketika malam beranjak larut dan sebagian besar penumpang di gerbong saya mulai tidur, saya pun ikut-ikutan tidur. Beberapa saat kemudian ketika terbangun waktu sudah menunjukkan subuh namun ternyata kami masih berada di Stasiun Cirebon Jawa Barat. Saya belum panik waktu itu, pikir saya ini hanya keterlambatan biasa. Namun usut punya usut ketika hari beranjak pagi dan pemandangan di luar mulai terang, tersiarlah kabar bahwa keterlambatan ini bukan biasa. Alkisah, pada sore hari keberangkatan terjadi sebuah kecelakaan kereta anjlok di Indramayu dan sampai pagi hari itu proses evakuasi masih berlanjut dan belum jelas kapan akan selesai.
Sementara kami sudah sampai di tengah sawah sekitar 2 stasiun kecil dari Cirebon. Beberapa bapak tampak bingung dan bertanya adakah kemungkinan untuk ganti bus pada kondisi seperti ini. Nampaknya pilihan ganti ke bus sedikit terkendala karena kami terjebak di tengah sawah. Tidak ada pilihan kecuali menunggu kereta kembali berjalan. Sekitar jam 08.00 ketika harusnya perut diisi oleh sarapan, kami hanya mampu berpuas diri dengan pilihan menu mie goreng seharga Rp. 12.000 untuk mengganjal perut. Pihak kereta sendiri menginformasikan bahwa kereta akan kembali berjalan pada pukul 10.30. Saya sedikit lega meskipun itu berarti saya harus berkejaran dengan waktu untuk menghadiri acara di Bogor.
Namun ternyata sampai pukul 12.00 kereta kami tidak juga berjalan, beberapa penumpang yang lain bercerita bahwa tidak hanya kereta kami yang mandek. Beberapa kereta seperti Senja Utama dan Gajayana juga ikut mandek menanti proses evakuasi di Indramayu selesai. Sambil menunggu dan berdoa, akhirnya pada pukul 13.00 mulai tampaklah masa depan kami penumpang kereta. Kereta kami ditarik mundur ke stasiun Cirebon. Dan di stasiun Cirebon telah menunggu beberapa bus pariwisata untuk mengatar kami ke tujuan. Sayangnya, bus tersebut datang satu per satu, sehingga aksi dorong tidak terelakkan di antara sesama penumpang yang hendak naik ke bus. Kami yang tidak kebagian tempat di bus pertama harus menunggu kedatangan bus berikutnya, begitu seterusnya sampai kami mendapatkan jatah kursi bus. Saya sendiri baru dapat jatah kursi pada kedatangan bus yang keenam.
Marah dan kesal karena menunggu terlalu lama di kereta yang mandek total membuat beberapa penumpang emosi pada petugas kereta api. Sungguh hari yang melelahkan baik bagi para penumpang maupun petugas kereta api. Setelah perjalanan darat yang panjang antara Cirebon dan Jakarta, akhirnya saya sampai di Gambir pukul 19.45, terlambat hampir 15 jam dari jadwal dan menghabiskan waktu total hampir 24 jam dari Yogyakarta menuju Jakarta. What a day!