Bulan April hampir saja terlewati dan penulis sama sekali ga menulis tentang perempuan. Wah, kecelakaan banget itu, karenanya lah hari ini disempat-sempatkan nulis tema perempuan. Nulis yang gampang aja, review film, kebetulan kemaren nonton film Korea yang sedih banget, bikin mata bengkak. Film ini judulnya A Long Visit (My Mom)/Chin-jeong-eom-ma, produksi Korea Selatan tahun 2010 dan berdurasi 107 menit.
Ceritanya tentang kehidupan seorang cewek bernama Ji Suk yang diperankan oleh Park Jin Hae dan ibunya yang diperankan oleh Kim Hae Suk. Pada kenal gak? Kalo penulis sih ga kenal, hehe, bukan Koreanmania sih. Cerita diawali dengan kehidupan masa kecil Ji Suk bersekolah. Ibunya selalu menyayangi dan membanggakan anaknya. Meskipun Ji Suk tidak terlalu suka dan malah terkesan benci dengan sikap ibunya yang selalu perhatian padanya. Sampai kemudian Ji Suk mulai beranjak dewasa dan meninggalkan rumah untuk kuliah. Ibunya tetap memperhatikan dan tetap menganggap Ji Suk putri kecilnya. Bahkan sampai bertahun-tahun kemudian saat Ji Suk sudah memiliki anak perempuan.
Ini seperti menggambarkan semua keadaaan hubungan anak perempuan dan ibunya. Seperti ketika mulai dewasa anak cenderung suka melakukan hal sendiri tanpa bantuan ibu, seperti penulis yang juga pernah kesal karena ibupenulis sering rewel misalnya saat penulis tidak pulang ke rumah saat liburan. Tapi sekarang penulis tidak mau seperti itu, penulis tidak mau menyesal seperti saat kehilangan ayah dulu, T_T. Apapun yang ibu pengen, selalu penulis berusaha menuruti, dengan gaji CPNS yang pas-pasan untungnya masih bisa kebeli. Cuma satu nih, yang belum bisa penulis beri pada ibu, yang mungkin dengan kehadirannya ibu ga kepikiran lagi, ga khawatir lagi, ga risau lagi. Yah, doakan saja ya bu, I’m still working on it.
Selain dari cerita dan akting pemainnya, film ini juga memberi gambaran tentang kondisi kota dan desa di Korea Selatan. Dan film ini semakin meninggalkan kesan yang dalam karena sad endingnya. Silakan jika mau nonton, siapkan tisu yang banyak terlebih dahulu, karena kalo tidak baju akan basah kayak penulis yang menjadikan kaos sebagai lap tangis sekaligus ingus, hahahah, jangan ditiru. ^^b
