Saturday, April 14, 2012

Bis Solo

Deretan rumah-rumah sederhana sliwar-sliwer ketika aku memandang dari jendela bis ini. Laju bis yang kencang membuat deretan rumah itu hanya sekejab saja mampir di otakku. Apa tadi aku sempat tertidur karena sekarang aku sedikit merasa bingung dan linglung. Hendak kemana bis ini menuju, kemana aku hendak menuju, aku tak tahu. Di sampingku mbak tampak bingung pula, ia melihat ke arah depan namun sepertinya pikirannya tak berada di situ. Ada yang sedang ia pikirkan, ada yang sedang ia risaukan.

???
Jalanan tampak ramai, suasana siang ini lumayan panas dan gerah. Kami bediri di tepi jalan, banyak orang pula yang ikut berdiri seperti kami. Sesekali kendaraan umum lewat, menawari kami untuk naik. Mbak hanya menggelengkan kepala kepada mereka. Beberapa orang ada yang naik, namun banyak pula yang bertahan seperti kami. Sampai kemudian mbak meraih tanganku dan menarikku untuk naik sebuah bis besar bertuliskan SOLO. Kami duduk di kursi paling belakang meski banyak kursi di depan yang masih kosong, toh kami tadi naik lewat pintu belakang. Kondektur berbaju oranye yang menarik bayaran hanya membetulkan nama daerah yang kami tuju dengan tak peduli. Sementara mbak hanya heran dengan uang kembalian dari uang yang disodorkannya untuk membayar.

???
Aku kira otak dari tubuh kecilku sudah mulai bekerja sekarang. Jalanan raya ini sudah pernah aku lewati. Meskipun aku yakin saat itu aku tidak naik bis seperti saat ini. Apalagi ketika aku merasa melewati rumah yang familiar yang sering aku kunjungi. Dan kemudian aku mulai teringat arah tujuan kami pergi saat ini. Aku mulai bekerja keras mengingat-ingat kejadian hari ini sebelum aku jatuh tertidur di bis ini. Sepertinya ibu tadi menyuruh mbak pergi mengantar ayam ke rumah bibiku nomor 2 yang rumahnya baru saja bis ini lewati. Jadi tampaknya kami terlambat turun, aku mulai panik, menengok ke kanan dan ke kiri. Atau atau atau, otakku memunculkan pikiran lain, kami harus ke rumah bibi nomor 1, aku tak yakin dengan pikiranku, apalagi rumah bibi nomor 1 bukan ke arah ini.
???
Aku sedang asyik bermain ketika ibu menyuruhku segera mandi di pagi itu. Aku belum mau mandi dan lebih memilih melanjutkan permainan masak-masakanku. Beberapa daun dan bunga yang ada tumbuh di halaman sempit kami menjadi sasaran kreatifitasku. Beberapa aku potong kecil-kecil, dan ada pula yang aku ulek dicampur dengan buah-buahan kecil. Aku suka sekali bermain seperti ini, apalagi ada seperangkat kompor kecil yang dibelikan bapakku. Bermain sendiri pun tak masalah. Sampai kemudian ibu menghampiriku lagi dan memandangku lama tanpa kata. Haaaah, ya ya ya aku tahu, dan meninggalkan mainanku menuju kamar mandi. Di dapur mbak dan bapakku sedang mengikat ayam dengan tali rafia.

???
Sekarang yang tampak hanya deretan pohon jati, hutan jati. Hujan pun turun dengan deras diikuti angin kencang. Sebagai anak kecil aku tak terlalu takut, tak terlalu resah, tak juga banyak berpikir dengan cuaca ini. Hanya saja aku berpikir kalau kami salah naik bis, dan sekarang kami berada dimana aku tak tahu, apa sekarang saat yang tepat untuk menangis dan memanggil ibu? Hujan mulai reda dan menyisakan gerimis rintik-rintik. Sekarang pun bis sudah mengurangi kecepatannya, deretan mobil di depan di belakang di samping tampak mengular. Bahkan kemudian bis ini berhenti total. Aku tak berpikir ada apa di depan, tapi nampaknya sekarang waktu yang tepat untuk turun dari bis SOLO ini. Pun mbak berpikir hal yang sama dan kami pun turun dari bis meninggalkan kondektur yang bingung dan meneriaki kami.

???
Malam hari yang dingin setelah sepanjang sore hujan mengguyur, bahkan sekarang rintik gerimis masih menghiasi langit malam. Setelah makan malam kami mengitari tungku kayu bakar di dapur. Ayam yang tadi kami bawa sudah aman dalam kurungan. Aku sedikit mengantuk dan mulai merindukan ibuku bapakku kakakku. Nenek yang memang cerewet memarahi mbak yang salah naik bis dan menyuruh kami untuk pulang ke rumah besok pagi saja. Mbak tampak sedih dan menyesal namun juga sedikit lega. Nenek juga berulang kali menyebutkan pohon yang tumbang sebagai penyelamat kami, dan juga berterimakasih pada sopir angkutan desa tetangga nenek yang kami temui di jalan dan berbaik hati mengantarkan kami. Tentu saja juga memujiku yang masih ingat alamat dan nama nenek, padahal tentu saja aku ingat karena sejak bayi aku tinggal dengan nenek. Hanya sejak masuk taman kanak saja aku tinggal dengan orang tua. Ya, tapi nenek memang benar, untung saja ada pohon yang tumbang saat itu, jadi kami terinisiasi untuk turun bis dan berbalik arah.
*true story ^^b