Menyambut cuti bersama tanggal 3 Juni 2011 kemarin, sepulang kantor tanggal 1 Juni penulis langsung tancap gas untuk pulang kampung. Mendahului rekan-rekan yang lain bahkan. Bagaimana tidak, karena kereta andalan penulis kan berangkat dari Stasiun Tugu pukul 16.05 tepat. Dengan asumsi waktu keberangkatan kereta dan kepulangan kantor adalah hampir sama 99%, maka dengan restu rekan-rekan penulis pun pulang duluan, haha, XD.
Arus lalu lintas menuju Stasiun Lempuyangan padat merayap dan juga membikin stres. Begitu pula arus penitipan motor yang berjubel-jubel. Sudah begitu, setelah dengan tergesa-gesa menitipkan motor pada petugas, penulis masih harus menghadapi lautan arus untuk menyeberang. Kemudian ditambah lagi harus mengantre di loket, huffft, setelah tiket ada di genggaman penulis langsung menyelip-nyelip di antara penupang lain untuk menuju kereta yang telah menanti di Jalur 2. Huft..., untung saja masih keburu.., pikir penulis. Namun ternyata kereta memang berhenti lama disana, jadi nyesel juga kenapa tadi harus terburu-buru, lha wong berhentinya saja hampir 30 menit. Setelah kereta Prameks lewat barulah kami bergerak maju.
Kereta ini memang selalu ramai, apalagi jaman libur panjang seperti ini. Penulis pun harus rela berdiri sambil menggendong tas ransel berisi laptop karena tempat tas pun penuh. Pegel, capek, ngantuk bercampur jadi satu. Biasanya sih penulis cuek saja lesehan di lantai kereta, namun kali ini penumpang terlalu banyak sehingga tidak menyisakan ruang untuk sekedar duduk meringkuk. Haaah..., yo wis lah.., sambil merem melek penulis pun hanya bisa pasrah. Untungnya saat sampai di Purwosari banyak penumpang yang turun, jadi penulis akhirnya bisa duduk di kursi. Penulis langsung meringkuk berniat untuk tiduran sampai stasiun tujuan Paron.Kemudian ada ceita tambahan yaitu saat penulis pulang dari Surabaya tanggal 4 Juni. Keberangkatan ga perlu diceritakan ya, soalnya ga ada yang spesial, hehe, ga ikhlas ya ceritanya.. Nah, saat pulang penulis menumpang Bis Patas Eka dari Terminal Purabaya. Suasana terminal ramai seperti biasa, waktu itu pukul 7 malam. Harga tiketnya sendiri hanya Rp. 38.000,-, namun minus makan malam, karena penulis kan berhenti di Ngawi, sedangkan makan malam diselenggarakan di RM Duta yang letaknya setelah Terminal Ngawi. Selidik punya selidik kalau nambah makan harga tiket pun bertambah Rp. 7.000,-. Entah makanannya seperti apa, penulis seumur hidup belum pernah makan di RM Duta meski letaknya ga begitu jauh dari rumah, hehe. Haah.., namun embel-embel cepat terbatas punya Patas tidak begitu berpengaruh pada penulis, bisnya malah kurang nyaman dan ajrut-ajrutan. Lebih enak pake yang ekonomi saja lain kali, kembali ke kebiasaan lama. Kemudian sebagai penutup, pulang ke Jogja penulis tetap bertahan pada Madiun Jaya dengan tidak dapat tempat duduk dari Paron sampai Lempuyangan. Mantap bukan???^^b